
Reza masih bersantai main ponsel di ruangan Roland. Lelaki itu mengira kalau Akram pasti takut terhadap ancaman yang telah Ia katakan pada asisten lelaki itu. Dengan rasa kepercayaan diri yang masih tinggi, Reza kembali menyesap segelas kopi arabika yang sudah untuk kedua kalinya disuguhkan sama office girl kantor itu.
Roland yang masih duduk di belakang meja kerjanya, tiba-tiba saja mendengar beberapa langkah kaki yang terdengar tergesa-gesa. Tak lama kemudian pintu ruangannya pun diketuk oleh seseorang yang ternyata merupakan salah seorang karyawan penunjuk jalan di mana tempat ruangan Roland.
“Selamat siang Pak Roland, kami ditugaskan untuk menangkap saudara yang bernama Reza Madani, jadi tolong tunjukkan di mana ruangannya? Kami juga membawa surat penangkapan untuk beliau atas laporan seseorang di perusahaan ini,” pinta salah seorang polisi yang baru saja masuk ke ruangan Roland.
‘Jadi ini seseorang yang dikatakan sama Tuan Akram di telepon tadi, ternyata dia dengan sengaja melaporkan Pak Reza ke kantor polisi atau jangan-jangan ini semua sebenarnya merupakan kerjaannya Bapak Romeo ataukah Pak Bimo?’ Roland berpikir sesaat, mengingat sang Bos sangat dekat dengan dua orang polisi itu. Romeo merupakan teman akrab atasannya dari dulu, sedangkan Pak Bimo adalah salah seorang sahabat dari Pak Romeo.
Hal itu tentu saja sontak membuat kedua bola mata Reza membulat dengan sempurna karena tidak menyangka ada dua orang polisi yang ingin menangkapnya.
“Saya Reza Madani. Memangnya apa kesalahan saya sehingga pihak kepolisian ingin menangkap saya? Saya orang baik-baik, Pak dan saya bukan seorang penjahat!” Reza langsung saja berdiri dari duduknya karena merasa heran dengan kedatangan dua lelaki berseragam coklat itu yang datang ke kantor milik keluarga Ramindra untuk menangkapnya.
Lelaki itu berusaha mengingat apa yang telah ia lakukan tapi tak mampu untuk menemukan titik kesalahannya sendiri yang telah berbicara kepada Roland dengan cara memberikan ancaman.
“Kami datang untuk membawa anda ke kantor polisi. Jadi anda bisa menjelaskannya di sana dan ini adalah surat penangkapan anda!” ucap salah seorang polisi yang memiliki kumis tipis.
Lelaki itu juga menyerahkan sepucuk amplop kepada Reza yang langsung dibuka Reza dengan cepat. Matanya terbelalak sempurna karena ternyata Akram lah yang telah membuat laporan ke kantor polisi atas kasus pencemaran nama baik dan juga mengancamnya. Sekarang barulah Reza menyadari, kalau ternyata Akram bukan orang yang mudah untuk ditindas, apalagi dipermainkan dengan cara licik yang ia kerjakan karena ternyata, ibarat kata Reza malah seperti senjata yang makan tuan.
__ADS_1
Sementara itu di tempat yang berbeda, Akram malah sedang tersenyum senyum sendiri kala menuruni anak tangga saat membayangkan bagaimana reaksi Reza ketika didatangi oleh pihak kepolisian di dalam kantornya untuk memberinya pelajaran, sekedar mengingatkan tentang siapa orang yang sedang menjadi lawannya sekarang.
“Siapa suruh lelaki sampah itu berniat banget ingin mempermalukan diriku di perusahaan keluargaku sendiri? Ternyata aku nggak salah menganggapnya sebagai suami sampahnya Adinda hahaha, buktinya kepala pria itu ternyata isinya benar-benar sampah dan tak bisa berpikir panjang, apa dikiranya di perusahaan tak ada kamera CCTV yang bisa dengan mudah untuk mengambil bukti ucapannya sendiri!” monolog Akram sembari mempermainkan benda pipih miliknya dengan cara memutar-mutar ponsel di tangannya.
“Kamu ini emang dasar ya, ditunggu dari tadi malah sibuk bicara sendiri seperti orang gila!” sapa Romeo yang ternyata membuka baju dinas coklatnya, dimana seragam itu terlihat disampirkan di sandaran kursi sofa ruang tamu rumah Akram.
Romeo memang sangat menghargai pakaian seragam dinasnya dan dia tak ingin berbicara kasar ketika seragam itu melekat di tubuhnya, tinggallah sekarang sehelai kaus warna coklat berbentuk tanktop memperlihatkan ototnya yang ke kanan bahkan memaparkan perut sixpack miliknya.
“Siapa suruh lo datang ke sini gangguin orang aja?” balas akan tanpa dosa dan hanyakan tubuhnya di atas salah satu kursi sofa persis di hadapan Romeo.
“Bi Ijah ke mana, Mbak Neni? Kenapa malah kamu yang datang ke sini?” Akram bertanya karena merasa heran sebab sejak kehadiran Adinda di rumahnya, otomatis Neni yang sebelumnya berprofesi sebagai babysitter terlihat kehilangan pekerjaannya sendiri hingga perempuan itu berubah menjadi pelayan tanpa disuruh oleh siapapun.
“Maaf tuan. Sebelumnya saya kan seorang babysitter tapi setelah Neng Adinda datang ke sini, Nona kecil nggak mau lagi saya urusi. Jadi tolong Izinkan saya tetap bekerja di sini sebagai pelayan keluarga anda,” pinta Neni penuh harap.
“Panggil Caca ke sini dong, Mbak Neni! Bilangin om Romeo tampannya datang kemari,” suruh Romeo.
“Baik, Pak. Kalau begitu saya pamit dulu,” jawab Neni cepat dan langsung pergi mencari keberadaan nona kecilnya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, terdengar celotehan si kecil Caca yang diiringi kekehan kecil suara Adinda yang membuat Akram langsung menoleh ke belakang, melihat wajah cantik perempuan berhijab yang terlihat begitu akrab dengan putrinya.
‘Sialan, aku lupa kalau Caca udah kayak perangko dengan anakku! Awas saja kalau mata Romeo jelalatan!’ batin Akram merasa sebal sendiri.
“Om Lomeooo!!” seru Caca berlari dan menghambur ke dalam pelukan lelaki itu.
“Hei, putri cantiknya om, lagi sama siapa, Sayang? Kok gak dikenalin sama om?” tanya Romeo dengan mata yang telah mencuri pandang pada wajah Adinda yang menganggukkan kepala tanpa senyum.
“Cantik!” ucapnya reflek tanpa sadar.
Pletak!
Asbak rokok yang terbuat dari kuningan itu melayang indah mengenai pundak Romeo.
“Jaga mata lo kalo gak mau gue congkel sekarang juga!” berang Akram dengan mata mendelik.
'Cemburukan dia?'
__ADS_1