Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 74. Kebakaran Jenggot


__ADS_3

“Cantik!” ucapnya reflek tanpa sadar.


Pletak!


Asbak rokok yang terbuat dari kuningan itu melayang indah mengenai pundak Romeo. Lelaki yang berpangkat AKP tersebut tentu saja merasa kaget dengan tingkah laku Akram barusan, membuat dirinya paham jika sang duda sepertinya sedang cemburu padanya, mana mungkin Akram marah ketika di dirinya memuji perempuan yang menjadi pengasuh Caca kalau tidak ada apa-apanya.


“Jaga mata lo kalo gak mau gue congkel sekarang juga!” berang Akram dengan mata mendelik.


Lelaki itu benar-benar memperlihatkan wajah yang sangat bengis ketika mengetahui saat Romeo memuji kecantikan Adinda di depan mata kepalanya sendiri.


‘Enak saja Romeo memuji Adinda di hadapanku, mana yang dipuji malah sepertinya senang kayak gitu lagi, bikin orang kesal aja!’ gerutu Akram di dalam hati, merasa tidak suka saat Adinda walaupun tidak menanggapi dengan ucapan tapi juga tidak menolak pujian yang diberikan Romeo padanya karena memang tidak mungkin Adinda sok kenal dan sok dekat dengan pria yang sama sekali belum pernah ia temui.


'Cemburu kan dia? Sepertinya aku sudah berhasil memperlihatkan wajah asli Akram kembali persis seperti dulu yang jatuh cinta, tapi kenapa dia begitu gengsi untuk mengakuinya?' Romeo bertanya-tanya di dalam hati, sepertinya dia harus mengajak pengasuh Caca itu untuk kenal lebih dekat agar Akram semakin kebakaran jenggot. Rasanya Romeo benar-benar ingin melihat apa yang akan dilakukan sama Akram saat dirinya mengajak Caca pergi tetapi harus juga mengajak pengasuhnya, bukankah itu bakal sangat menyenangkan? Romeo boleh tersenyum licik.

__ADS_1


"Om Lomeo, ini Bundanya Caca, Bunda Caca cantik, nggak?” Caca berucap dengan polosnya, gadis kecil itu memperkenalkan perempuan yang dipanggilnya dengan sebutan Bunda, membuat hidung Akram menjadi kembang kempis merasa bahagia.


Akram merasa senang karena secara tidak langsung putrinya telah memperingatkan Romeo agar jangan sekali-kali temannya itu mengganggu Adinda sebab Sang Putri telah memanggil pengasuhnya itu dengan sebutan Bunda yang berarti akan menjadi ibunya.


"Ya elah Akram anak lo benar-benar kebangetan, belum apa-apa aja dia udah mengaku punya Bunda tapi kapan kalian meresmikannya? Kenapa gue nggak pernah tahu," ujar Romeo langsung kaget, mengira Akram Emang setelah menikah dengan pengasuh Caca Padahal sama sekali tidak Sedekat Itu.


Romeo hanya merasa bingung karena dirinya sama sekali tak pernah mendapatkan undangan pernikahan sahabatnya tapi kenapa tiba-tiba saja saat ini sudah ada seorang perempuan cantik yang dipanggil Bunda oleh anak Akram, dan itu sungguh membuatnya sedikit tersinggung.


"Gue jadi nggak ngerti maksudnya kayak mana sih? Lo itu nggak nikah sama perempuan ini tapi lo biarin anak lo manggil dia bunda? Ini bukan lo banget deh! Biasanya lu mana pernah mau deket-deket sama cewek bahkan ketika kita sering berada di klub malam aja, lo pasti ngusir cewek yang ngedeketin lo, kenapa sekarang malah ngajak Adinda ini ikut nimbrung sama kita?" tanya Romeo memberikan isyarat telunjuknya ke arah Adinda, di mana perempuan itu tentu saja langsung mengerutkan dahi diiringi gelengan kepala.


“Maaf Pak Romeo. Saya di sini bekerja hanya sebagai seorang pengasuh bukan sebagai istrinya Tuan Akram karena memang kami ini tidak pernah menikah dan selamanya memang sama sekali tidak memungkinkan untuk bisa menikah sebab kami sama-sama tidak selevel! Saya tidak menyukai laki-laki yang sombong dan munafik! Lidah berkata apa hatinya juga Hanya Tuhan yang tahu!" sela Adinda Dengan ucapan sarkas karena merasa tersinggung pada kalimat yang dilontarkan Akram beberapa saat lalu. Adinda sangat sadar kalau dirinya hanyalah seorang pengasuh tetapi Akram tidak harus berucap terhadap temannya seolah-olah dia perempuan yang benar-benar tak berharga, hatinya tentu saja merasa sakit.


“Oh … jadi kamu ini sebenarnya seorang baby sitter nya Caca? Berarti di manapun ada Caca pasti juga ada dirimu kan?" tanya Romeo memastikan.

__ADS_1


“Tentu saja, Pak Romeo karena tugas saya hanya berhubungan dengan Caca bukan dengan orang lain,” jawab adinda apa adanya.


Romeo pun mengalihkan pandang pada gadis kecil yang saat ini duduk di atas pangkuannya hingga lelaki itu mengusap-usap kepala Caca, “Caca mau nggak om ajak ke taman hiburan sekarang?” lanjut Romeo dengan mata yang melirik ke arah Akram, ingin melihat reaksi sang sahabat yang terlihat kesal mendengar ajakannya terhadap Caca.


“Mau dong Om, tapi om Lomeo halus ngajak Bunda juga bial lame!” sahutnya ceria dengan bola mata berbinar indah.


“Tentu saja harus dong. Dia kan pengasuhnya Caca, jadi di mana ada Caca di situ ada Bunda, sekarang pergi sama Bunda ke kamar untuk bersiap-siap, setelah itu balik ke sini baru kita berangkat. Ayo tos dulu dong!” Romeo terkekeh senang tetapi ketika wajahnya menoleh ke arah Akram, lelaki itu seolah-olah sudah siap ingin membunuhnya saat ini juga.


Mendengar perkataan dari teman Papanya Itu membuat Caca langsung saja menarik cepat tangan Adinda, “Ayo cepat dong Bunda nanti ditinggal sama Om Lomeo!” ajak Caca yang sudah tak sabar ingin bermain bersama Bundanya dan juga Romeo.


“Kalau begitu saya pamit dulu sebentar ya, Pak Romeo,” izin Adinda sebelum berlalu pergi meninggalkan dua sahabat yang saling memberikan tatapan permusuhan, seolah-olah mereka berdua saling membenci.


"Maksud lo apa ngomong kayak begitu sama anak gue? Lo mau nikung gue dari belakang?”

__ADS_1


__ADS_2