Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 85. Super Panas


__ADS_3

Akram sampai di rumah dan turun dengan cepat. Langkah kakinya tergesa-gesa seperti orang yang sedang dikejar setan. Nyonya Ramindra yang duduk di ruang tamu merasa aneh saat melihat sang putra berjalan dengan langkah kaki sedikit berlari. Penampakan itu malah membuat nyoya Ramindra merasa cemas. Tentu saja sebagai seorang ibu dirinya tak ingin ada sesuatu yang buruk pada putra semata wayangnya.


Wanita yang telah melahirkan Akram itu pun menyusul sang putra untuk masuk ke kamar.


Tok! Tok! Tok!


“Akram, kamu baik-baik aja, Nak? Apa kamu sedang sakit?” tanya nyonya Ramindra dengan nada cemas.


Sementara Akram yang sedang berada di dalam kamar tidak ingin membuat mamanya merasa khawatir tapi dirinya jauh lebih berharap agar Adinda mencemaskan kesehatannya. Lelaki itu pun merasa dilema sendiri. Awalnya dia sama sekali tak ingin sedikit pun membohongi sang mama tapi semua rencana yang telah disusun begitu baik oleh sang asisten akan berantakan seketika dan hasilnya sudah pasti zonk, jika dirinya mengatakan pada sang mama kalau dia dalam keadaan baik-baik saja.


Mau tidak mau Akram tetap melanjutkan sandiwara yang telah dimulai oleh sang asisten karena dia lebih memilih berpura-pura sakit untuk mendapatkan sedikit perhatian dari pengasuh putrinya

__ADS_1


‘Maafkan aku, Ma … toh semua ini aku lakukan demi masa depanku dan juga Caca,’ batinnya di dalam hati tanpa sadar telah berharap pada seorang Adinda, sementara dirinya selama ini tidak pernah mau mengaku jika lelaki itu telah jatuh cinta pada pengasuh putrinya. Pria itu dengan cepat membaringkan tubuh di atas tempat tidur lalu mulai mengambil koyo yang tadi dibelinya di apotek tanpa mengetahui fungsi dari koyo yang sudah ada di tangannya.


Dengan santai lelaki itu menempelkan si koyo cabe pada dua pelipis kiri dan kanannya seperti orang yang benar-benar sedang mengalami sakit kepala, hanya saja orang yang mengetahui kegunaan dahsyat dari koyo yang sedang dipakainya akan merasa sangat heran karena Akram hanya mengeluh sedang sakit kepala biasa. Apalagi biasanya orang yang memakai koyo cabe rata-rata adalah orang yang sudah terbiasa menggunakannya sebab efek yang terasa benar-benar sangat panas bahkan author sendiri pernah memakainya hingga kulit menjadi gosong kwkwkw. Untuk jenis kulit yang sensitif sepertinya koyo cabe tidak dianjurkan, apalagi kalau sekedar ingin coba-coba tapi ketika bagian bahu bagian belakang terasa begitu sangat pegal saat menulis, koyo cabe ditempelkan terasa sangat enak seperti sedang dipijat-pijat tetapi jika hanya sekedar pegal biasa maka yang ada malah akan tersiksa hahaha.


Ceklek!


Nyonya ramindra membuka pintu kamar anaknya, melihat Akram yang sedang berbaring dengan koyo cabe di kedua pelipis putranya.


“Hah … koyo cabe?” beo Akram dengan wajah panik.


“Iya. Kamu ini aneh deh, jelas-jelas udah menempelkan koyonya sampai dua dengan ukuran besar begitu di pelipis, kok malah nanya balik sama mama? Orang dulu menggunakan koyo cabe kayak Mbahmu itu, cuma digunting kecil-kecil, bukan besar selembar kayak begini … bisa-bisa kulitmu gosong semua itu! Bagusan juga minum obat pereda sakit kepala daripada menggunakan koyo cabe kayak begini!” ucap nyonya Ramindra merasa semakin heran dengan respon dan perangai sang putra yang seumur-umur tidak pernah menggunakan koyo tempel untuk menghilangkan sakit kepala, bahkan sejak dulu bisa dibilang tidak pernah mengalami sakit kepala, tapi kenapa sekarang tiba-tiba saja seperti orang yang kesakitan teramat sangat.

__ADS_1


Reaksi si kertas koyo yang menempel belum memperlihatkan aksinya, sepertinya Akram nanti akan kaget luar biasa ketika efek si koyo cabe menyapanya dengan mesra. Namun, sebisa mungkin walau telah galau mendengar kata koyo cabe, tapi dirinya berusaha cool.


“Kepala Akram benar-benar terasa sakit, Ma.” Akram menyahuti pertanyaan sang Mama bahkan tanpa membuka kelopak matanya untuk meyakinkan pada wanita yang telah melahirkannya itu bahwa dirinya benar-benar sedang menderita.


‘Dasar Akram tak punya akhlak, kamu pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal karena telah berani membohongi ibumu sendiri!’ batin Akram – begitulah hati lelaki itu merutuk dirinya sendiri atas perbuatan dusta yang sedang ia lakoni terhadap wanita baik hati yang selalu menyayanginya itu hanya demi sebuah sandiwara yang telah dimulai sang asisten.


“Papaa!! Papa!!” seru Caca yang berlari menerobos masuk ke dalam kamar papanya setelah mengetahui ayahnya itu sedang sakit seperti yang disampaikan Roland.


Sementara Akram baru saja merasakan sesuatu yang sangat tidak mengenakkan di bagian kedua pelipis yang tadi ditempelkannya koyo cabe.


‘Mampusss gue, ini pasti pelipis gue bakalan gosong beneran karena koyo super panas ini,’ rutuknya menyesali kebodohannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2