Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 46. Caca Mau Bunda


__ADS_3

"Bundanya nggak ada, Papa … bunda pelgi ninggalin Caca, ndak tahu ke mana?"


Hoa! Hoaa!


“Bunda pergi …?” Akram menatap wajah mamanya meminta penjelasan lewat pancaran bola matanya menuntut jawaban kenyataan yang sedang dihadapinya pagi ini.


“Ma, apa maksudnya Caca ini Ma? Adinda nggak mungkin pergi tanpa pamit sama Akram, apa ini rencana mama karena tidak menyukai Gadis itu tinggal di rumah kita?” tuduh akrab menatap tajam wajah wanita yang pernah melahirkannya.


Wanita paruh baya itu menggelengkan kepala lalu menarik nafas sesaat serta menghembuskannya ke udara, sebelum menjawab pertanyaan putranya yang memang telah Ia siapkan setelah kepergian Adinda.

__ADS_1


“Tadi sebelum shalat subuh, Adinda mengetuk kamar mama dan dia berpamitan untuk pergi karena merasa tak enak hati tinggal satu atap denganmu, apalagi status dirinya yang masih sebagai istri sah dari Pak Reza Madani. Mama kirain tadi malam waktu memergoki kamu masuk ke kamar Adinda, kalian memang sudah memutuskan permasalahan ini berdua makanya mama menyetujui Adinda pergi dari rumah kita,” jelas nyonya Ramindra berpura-pura, seolah dirinya tidak mengetahui rencana ke mana perginya Adinda.


Ahlam kembali teringat akan perbuatannya tadi malam dan pria itu sungguh menyesali perilakunya pada Adinda karena hampir saja tak mampu untuk menahan diri, beruntung mamanya member gokil dirinya yang memang sengaja mengendap-ngendap dan hilir mudik di depan kamar Adinda gara-gara matanya yang tak bisa terpejam memikirkan jawaban apa yang bakal diberikan perempuan itu. ‘Astaga, jangan-jangan dia pergi gara-gara tindakanku tadi malam. Apa mungkin dia merasa ketakutan tinggal di rumah ini?’


Akram terduduk lemas merasa menyesal karena telah membuat perempuan itu merasa ketakutan berada di sekitarnya, padahal akrab sama sekali tak ada niat untuk mencelakai ataupun ingin melecehkan perempuan itu tetapi ada satu dorongan dari dalam jiwanya yang ingin sekali menyentuh tipis perempuan itu.


“Adinda nggak ada ngomong sama sekali mau pergi dari rumah ini, Ma. Apa jangan-jangan dia marah karena hal tadi malam yang aku lakukan?”Tanpa sadar pria itu berbicara di depan sang Mama membuat wanita paruh baya yang sedang berusaha membujuk sang cucu agar berhenti menangis langsung saja telinganya seolah melebar mendengar perkataan putranya.


“Aku … aku —” akrab sama sekali tidak mampu melanjutkan kata-katanya karena lidahnya terasa kering untuk mengucapkan sesuatu yang hampir dilakukannya pada istri Reza Madani yang selalu dianggapnya pria sampah, lalu apa bedanya jika dirinya sendiri hampir melakukan hal yang sama terhadap istri lelaki itu?

__ADS_1


“Astagfirullah, Akram … pantas Adinda ingin pergi pagi-pagi buta sekali karena dia pasti muak melihat wajahmu! Jangan-jangan perempuan itu malah trauma gara-gara perbuatan yang kamu lakukan tadi malam sama dia, jawab apa yang sudah kamu lakukan sama Adinda, Akrammm!!!” raung nyonya Raminda seolah-olah hendak menguliti Putra kandungnya itu.


Caca kembali Meraung memanggil nama Bunda berulang kali hingga membuat Akram merasa semakin frustasi, penyesalan berkelanjutan begitu kuat di dalam otaknya saat ini, bagaimana caranya harus bisa menemukan kembali wanita yang telah pergi itu?


“Bunda … Caca mau bunda, Caca cuma mau mandi cama Bunda, mau bobo cama bunda,” rengek Caca menarik-narik ujung mukena sang oma yang masih menatap tajam wajah putranya.


Walaupun gadis kecil itu belum genap berusia dua tahun, tetapi telinga dan otaknya bisa menyimpan dengan baik tentang apa saja percakapan yang baru terjadi antara sang Papa dengan omanya.


“Papa jahat udah nyuluh pelgi Bunda, Caca ndak mau teman cama Papa lagi,” ucap gadis kecil batita itu di dalam sela-sela isak tangisnya, membuat Akram tanpa sadar ikut meneteskan air mata.

__ADS_1


‘Ya Tuhan, bantu aku untuk menemukan Adinda ….’ gumam Akram di dalam hati


__ADS_2