
“Silakan lanjutkan apa yang ingin Mas Reza lakukan dan kita bertemu di pengadilan!” tegas Adinda mengusap sisa air matanya sebelum membalikkan tubuh meninggalkan lelaki yang telah memberinya penghinaan.
Namun, baru saja Adinda ingin melangkahkan kaki, Reza dengan cepat berdiri dan memeluk erat tubuh Adinda dari belakang, “Mas mohon … tolong maafkan kekhilafan mas! Mas janji ini gak bakalan pernah terjadi lagi,” cicit Reza terpaksa menghilangkan rasa malunya di hadapan Reno dan juga Kamila.
Reza tidak boleh membiarkan gadis itu pergi dari dalam kehidupannya atau ancaman dari sang papa akan diberlakukan. Reza belum siap menerima kenyataan.
“LEPASS!!” sentak Adinda menepis kedua tangan Reza yang melingkar di perutnya.
Enak saja Pria itu memeluk tubuhnya, setelah tangan nya yang kotor itu memegangi buah melon kembar si sekretaris sendiri, sungguh Adinda sangat jijik memikirkannya.
Adinda kembali membalikkan tubuhnya, memberi tatapan penuh kebencian terhadap laki-laki yang belum genap satu bulan menikahinya.
“Tolong maafkan mas, Adinda … Mas janji semua ini tak akan pernah terulang lagi. Mas benar-benar khilaf karena Kamila yang sengaja menggoda mas tadi,” lirih Reza beralibi sampai menjadikan sang sekretaris sebagai kambing hitam atas perbuatannya bersama Kamila.
Bahkan pria itu sangat pintar bersandiwara hingga dengan mudah kedua bola matanya terlihat berkaca-kaca.
__ADS_1
Reza berusaha meraih tangan sang istri untuk digenggamnay tapi Adinda menjauhkannya.
“Bukankah Mas memaag tak pernah mneganggapku ada? Bahkan semalam … ah! Kau benar-benar telah melanggar janji kita dan mulai hari ini Adinda bebaskan Mas Reza untuk bermain dengan siapa pun wanita yang kamu inginkan!” pungkasnya dengan senyuman getir.
“Tolong, Adinda … beri mas satu kesempatan lagi,” mohon Reza dengan wajah memelasnya.
Namun, Adinda merasa itu semua keluar bukan dari hati sang suami. Bagaimana mungkin seorang pimpinan tanpa tahu malu melakukan perbuatan tercela di ruang kerjanya, bahkan tanpa mengunci pintu pula? Apa jangan-jangan sang suami itu sebenarnya telah sering melakukannya dengan si sekretaris Kamila?
“Maaf, Mas … Adinda gak bisa!” Gadis itu membalikkan tubuhnya dengan cepat, berjalan keluar ruangan sang suami dengan langkah sedikit berlari.
Namun, Adinda sama sekali tidak menggubrisnya. Adinda terus saja berlari menuju lift untuk turun ke lantai bawah, merasa sudah tidak tahan lagi melihat tingkah suaminya yang walaupun mereka tidak saling mencintai tetapi seharusnya Reza tidak pernah mengkhianati perjanjian surat kontrak yang telah sama-sama mereka tanda tangani. Bahkan, makanan yang tadinya harus diberikan secara baik-baik sudah terjatuh di ruangan Reza.
Reza tak mampu mengikuti sang istri yang sudah masuk ke dalam lift hingga kotak besi metalik sudah tertutup rapat. Pria itu mengumpat dan berlari melewati tangga darurat untuk mengejar istrinya karena takut kalau Adinda akan langsung mengadukan kejadian ini pada kedua orang tuanya.
Sementara Adinda yang sedang terluka hatinya terus saja berlari meninggalkan gedung perusahaan tempat suaminya berada dan tanpa ia sadari, akibat rasa sakit hati yang luar biasa, gadis itu lengah saat menyebrangi jalan hingga sebuah mobil BMW hitam yang sedang melaju kencang tak mampu mengerem mendadak saat tubuh mungil Adinda berada di depannya.
__ADS_1
Ciiit!
Brak!
Aaagghh!
Jeritan beberapa orang yang kebetulan melihat tabrakan itu, langsung saja menggema.
“Tuan, sepertinya kita menabrak seseorang,” lapor sang sopir segera keluar dari mobil.
Lelaki yang tadi sempat dipanggil tuan oleh sang sopir juga ikut keluar dari mobilnya.
“Cepat bawa dia masuk ke dalam mobil!” titah lelaki itu pada sopirnya.
Melihat sang sopir yang terdiam karena shock melihat darah yang menggenang di jalan, membuat sang bos dengan cepat mengangkat tubuh Adinda. Dia tidak ingin dianggap sebagai manusia yang tidak bertanggung jawab, apalagi kalau sampai ada wartawan yang berada di sekitar sana, bisa hancur nama baik keluarga besarnya.
__ADS_1
“Buruan ke rumah sakit, Bejo!!” teriak lelaki itu dengan suara lantang karena melihat sang sopir terdiam, seolah sedang terhipnotis melihat cairan berwarna merah.