
“Apakah Mas Reza merasa pantas?” tanya Adinda menatap fokus wajah suaminya.
“Tentu saja masih pantas, toh kita ini masih sah sebagai pasangan suami istri karena aku belum pernah menjatuhkan talak padamu. Jadi tolong beri aku kesempatan kedua, Dinda!” mohon Reza masih saja kekeh\ ingin mempertahankan rumah tangga mereka.
Bagaimana pun juga, walau masih sesaat hidup bersama istrinya itu tanpa cinta, tapi ternyata Adinda benar-benar hadir begitu sempurna di dalam kehidupan rumah tangganya tapi sayang dirinya terlambat merasakan detak-detak rasa jatuh cinta itu itu di dalam jiwanya. Rasa itu hadir setelah dirinya memberikan luka dan sakit hati karena di duakan dan Reza benar-benar merasa menyesal.
“Tuhan saja maha pengampun dan pemaaf akan dosa-dosa hambanya walau manusia itu memiliki dosa setinggi gunung dan seluas lautan, masa kamu yang manusia biasa saja tak mau memaafkanku? Memangnya kamu itu lebih baik dari Tuhan?” Reza bukannya berusaha membujuk secara baik-baik tapi malah semakin mematikkan api kebenceian untuk semakin berkobar lawan bicaranya, dan itu benar-benar telah berhasil dilakukannya.
__ADS_1
“Justru karena aku itu bukan Tuhan, Mas dan hatiku tentu saja tak akan pernah terlepas dari yang namanya manusia biasa yang punya rasa sakit mungkin itu semua karena aku terlahir dari rahimnya seorang pelayan seperti apa yang pernah kamu katakan. Paling tidak aku masih punya harga diri yang sama sekali tidak kau miliki!” balas Adinda dengan merapatkan giginya, menahan kesal saat mendengar lelaki itu mengatakan hal yang tidak pantas didengarnya. Bisa-bisanya Reza ingin menyamakan keagungan Tuhan dengan kehidupannya yang sebagai manusia biasa.
“Berarti selama ini aku salah menilaimu. Aku kira kamu benar-benar perempuan yang tulus mencintaiku dan mau menerima kekurangan dan kelebihan yang ada padaku tapi ternyata kamu sangat kejam, bahkan tak mau sedikit pun memberiku kesempatan, padahal aku sudah berulang kali minta maaf padamu,” ungkap Reza dengan pelupuk mata yang mulai berkaca-kaca.
“Sepertinya Mas nggak bakalan lupa kan pada apa yang pernah ku ucapkan? Dari awal kamu melamarku demi menolong dan menyelamatkan nama baik keluargamu … aku sama sekali tak pernah mencintaimu, Mas! Tapi aku berusaha untuk belajar jatuh cinta padamu dan aku tidak bisa menerima kekurangan sifatmu yang suka selingkuh itu! Bukan hanya sekali kamu melakukannya dalam pernikahan kita yang umurnya hanya setinggi toge di atas tampah, tapi kamu sudah mengulanginya beberapa kali. Aku bukan seorang istri yang baik hati rela menahan diri merasakan sakit sendiri! Jadi tolong biarkan aku bebas dari pernikahan ini!” tegas Adinda tak ingin lagi terikat dengan lelaki bernama Reza.
Ekhem!
__ADS_1
“Apa permasalahan kalian sudah selesai? Jika sudah, sebaiknya tak ada dendam di antara Kalian berdua karena bagaimanapun juga sebentar lagi kalian akan saling menjadi mantan suami dan juga mantan istri. Saya tidak ingin mendengar kalau nanti Pak Reza mengganggu Adinda yang sedang bekerja di rumah saya sebagai pengasuh!” Akram menatap secara bergantian wajah pasangan suami istri yang sesaat lagi hanya akan tinggal kenangan dan itu membuat ruang kosong yang ada di dalam hati Akram sedikit berdebar.
“Aku ingin Tuan Akram dan Bunda menjadi saksi Kalau hari ini juga Mas Reza akan menjatuhkan talak padaku,” ucap Adinda begitu berani karena memang inilah yang terbaik untuk masa depannya.
Reza terlihat menundukkan kepala karena sangat berat untuk memenuhi permintaan perempuan yang telah Ia sakiti, tapi sebagai lelaki dia tak mungkin membiarkan dirinya terlihat seperti seorang sampah yang tak berharga di mata Akram yang jelas-jelas terlihat ingin sekali mendekati istrinya.
“Baiklah Adinda Kinanti, di hadapan Bunda Hanum, aku Reza Madani menjatuhkan talak satu padamu, dan mulai sekarang kamu bukan lagi menjadi tanggung jawabku sebagai istri. Aku mengembalikanmu pada ibu yang telah melahirkan,” ujarnya dengan suara begitu lirih dan hatinya terasa sangat sakit saat terpaksa mengucapkan kata talak untuk Adinda.
__ADS_1
“Semoga kamu memaafkan kesalahan yang pernah aku lakukan dan semoga kamu juga akan selalu bahagia hidup tanpaku! Mudah-mudahan saja di kesempatan lain saat kita bertemu lagi maka Tuhan masih mau menyatukan kita.” Reza membalikkan tubuhnya berjalan pergi tanpa berpamitan pada siapapun, membawa luka yang tergores sembilu akibat ulahnya sendiri.
Tidak ada gading yang tak pernah retak dan tak ada satu orang pun manusia di bumi ini yang tidak memiliki kesalahan tetapi jangan melakukan kesalahan secara berulang karena hidupmu pasti tak akan merasakan tenang.