
“Kalau Caca digendong sama papa … apakah Caca ndak cantik dan ndak colehah lagi, Bunda?” Caca menatap intens wajah perempuan yang dipanggilnya Bunda lalu melirik ke arah lain di mana Akram sedang berdiri menjulang tinggi setelah tadi sempat ada drama penolakan bermain mobil balap dengan putrinya.
“Loh, Pak Akram! Ternyata anda suka bermain di Timezone juga?” Seorang pria paruh baya berpenampilan klimis menepuk pundak Akram hingga membuat Papanya Caca tersebut terlonjak kaget, karena lelaki itu memang merasa sangat malu sekali ketika ada seseorang yang mengenalnya sedang berada di sebuah pusat permainan anak-anak. Selama ini di mata seorang Akram bermain di Timezone itu hanyalah membuang waktu saja!
Lelaki itu sebenarnya hanya menggunakan sang putri sebagai alat agar bisa membawa Adinda keluar dari rumahnya, berjalan dengan janda itu dan menghabiskan waktu seperti keluarga kecil bersama putrinya. Namun, Akram tidak ingin memperlihatkan pada sang Mama jika hatinya sudah mulai terbuka sejak bertemu dengan perempuan bernama Adinda.
“Eh hai, Pak Roberto, Anda di sini juga? Apa anda ke sini dengan cucu anda?” Akram menyahuti dengan suara gugup karena tak menyangka bakal bertemu dengan salah seorang mitra kerja perusahaannya. Pak Roberto merupakan pria paruh baya yang memiliki seorang anak gadis yang sangat cantik bernama Reviana.
Bahkan pria paruh baya itu pernah secara terang-terangan ingin menjadikan Akram sebagai menantunya tapi sayang lelaki itu dengan tegas menolak permintaan Pak Roberto dengan alasan sang putri tak bisa dekat dengan wanita mana pun. Akram merasa sangat beruntung karena Caca sama sekali tak pernah mau dekat dengan siapapun perempuan kecuali mamanya sendiri tapi anehnya sejak bertemu dengan Adinda pernah Caca malah lengket dengan perempuan janda itu.
“Saya ke sini dengan cucu dari anak pertama saya dan Reviana juga ikut untuk menemani keponakannya,” balas Pak Roberto dengan tersenyum lalu mengedarkan pandangan, mencari keberadaan sang putri agar bisa lebih akrab dengan Akram.
‘Akram sedang bersama putrinya, jika Reviana bisa mendekati anak kecil itu, bisa jadi nanti dia mau menjadi menantuku. Kasihan Reviana selama ini jatuh cinta malah sama seorang duda yang sama sekali tak mau meliriknya,’ batin Pak Roberto dengan penuh harap.
__ADS_1
“Papa-papa, Caca udah dapat boneka beluang becaaall cekali. Ayo, Pa … Caca mau beyi jajan kayak olang itu. Caca mau minum dingin-dingin,” pinta sang putri dengan jari yang menunjuk pada seorang anak lelaki sekitar usia empat tahun dengan satu cup minuman dingin boba di tangannya.
Bocah lelaki itu bergandengan tangan dengan seorang wanita cantik yang ternyata adalah Reviana. Akram menghembuskan nafasnya dengan kasar, tidak menyangka kalau dirinya akan bertemu lagi dengan seekor ulat Keket yang sangat menggelikan dan pria berstatus duda itu sangat membencinya.
“Kalau gitu, maaf ya Pak Roberto, Putri saya ingin membeli minuman seperti yang dipegang cucu anda,” ucap Akram berpamitan secara tak sengaja akan langsung terhindar bertemu dengan perempuan yang bernama Reviana, tepatnya putri dari Pak Roberto itu sendiri.
Akram sebenarnya sama sekali tidak tahu minuman apa yang sedang diminum oleh cucunya Pak Roberto tetapi melihat putrinya yang merengek menginginkan minuman yang sama, tentu saja sebagai seorang ayah, dirinya tak ingin membuat Caca kecewa. Palingan dia hanya bisa meminta pada sang penjual agar tidak memberikan batu es yang begitu banyak karena Caca baru juga pulih dari sakitnya setelah ditinggalkan Adinda pulang ke kampung.
“Kamu itu kenapa malah berlenggak-lenggok kayak kuntilanak kelamaan, sih? Biasanya juga jalan normal, ini malah berjalan dibuat-buat segala. Kamu kira Pak Akram itu akan suka dengan perempuan lebay seperti itu? Sudah tahu tadi Pak Akrem itu sedang bersama putrinya, kamu bukannya berusaha mendekati lebih cepat tapi malah berlenggak-lenggok seperti perempuan penggoda!” kesal Pak Roberto mengomeli putrinya karena pria paruh baya itu merasa kesempatan terbuang sia-sia belaka.
Inilah salah satu hal yang tidak disukai Pak Roberto terhadap Putri bungsunya itu, terlalu banyak trik ketika sedang bertemu dengan lelaki yang ia sukai hingga waktu malah berlalu dengan cepat dan kesempatannya pun hilang tepat pada waktunya.
“Revi cuma berusaha untuk membuat Akram itu tertarik dan terkesima, Pa … mana ada aku menggoda laki-laki sembarang segala karena aku hanya cinta mati sama si Akram doang!” Gadis itu memprotes tuduhan Papanya karena memang saat mata Reviana tertuju pada sang Papa yang sedang berbicara dengan Akram, detak jantungnya berdegup begitu kencang dan refleks jiwa ingin menggodanya keluar begitu saja.
__ADS_1
“Itu sepertinya si Akram bersama putrinya lagi beli minuman Boba. Papa aja yang pulang bawa si Aldo ya, please … aku akan mendekatkan diri dengan putrinya itu. Aku sedang berusaha untuk mendekati calon suami masa depanku, jadi Papa harus mendukungku, ok!” ucap Reviana meminta tolong pada Papanya agar mau membawa pergi sang keponakan, karena dengan begitu dirinya akan leluasa menggoda si Akram.
“Papa, bunda mana kok ndak ada?” tanya Caca saat menyadari Adinda sudah tak ada bersama mereka. Padahal tadi jelas-jelas perempuan itu masih berada di dekat permainan capit boneka.
“Caca mau bunda … Papa ayo cali bunda cekalang! Pokoknya Caca ndak jadi mau minum Boba tapi maunya cuma Bunda. Bundaaaa! Jangan tinggalin Caca lagiiii, bundaaaa,” teriak gadis kecil itu mulai mengeluarkan air mata dan menangis meraung di atas lantai, membuat beberapa pengunjung mengalihkan atensi mereka pada anak kecil yang ternyata menggerak-gerakkan kakinya ke kiri dan ke kanan dengan mulut meraung-raung memanggil bundanya.
"Bunda dimana, Paaa, aku mau bundaaaa!! Bundaa!!" tangis si kecil yang mulai sedu sedan karena takut kehilangan dan ditinggalkan lagi sama Adinda.
Akram berusaha membujuk Sang Putri sembari merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya untuk menghubungi Adinda, tetapi setelah beberapa kali dihubungi nomor tujuan yang ia telepon sama sekali tak menyahut.
‘Apa sebenarnya yang terjadi padamu, Adinda?’ Akram mulai cemas.
Assalamu'alaikum semua pembaca ... tolong bantu dukung cerita ini dengan memberikan like, komentar, bintang lima dan juga vote ya, karena itu merupakan penyemangat buat penulis. Tengkiuuu
__ADS_1