Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 29. Suami Sampah


__ADS_3

Saat kaki Reza mulai mengikuti Reno ke taman, matanya membulat sempurna seolah akan melompat dari sarangnya.


‘Gak mungkin … itu pasti bukan Adinda!’ teriaknya di dalam hati karena tak bisa menerima kenyataan yang terpapar jelas di depan mata. Bagaimana mungkin dirinya bisa melihat sang istri yang duduk di atas kursi roda ditemani seorang pria yang begitu sangat familiar karena merupakan seorang pengusaha muda yang bertalenta, serta sangat susah untuk didekati oleh siapa pun.


Bahkan untuk bertemu dengan pria itu saja terkadang membutuhkan waktu yang sangat lama sekedar memenuhi antre janji temu sekelas Akram Julian Ramindra. Reza masih berusaha untuk mengontrol emosi agar tidak gegabah untuk menemui Adinda karena sepertinya gadis itu sedang berada di dalam penguasaan lelaki itu.


‘Apa jangan-jangan orang yang menabrak Adinda waktu itu adalah tuang Akram?’ lirihnya bertanya di dalam hati.


Reza melihat Reno memberikan sesuatu pada salah seorang pria berseragam hitam yang ia yakini sebagai anak buah Akram dan tak lama Reno dipersilakan mendekati istrinya. ‘Gue yakin Reno pasti bakal mengatakan kalau kondisi gue sangat memprihatinkan sekarang,’ harapnya di dalam hati.


“Assalamualaikum,” ucap Reno saat kakinya mulai mendekat kira-kira jelang 2 meter sebelum sampai di dekat Akram dan juga Adinda serta seorang anak kecil perempuan yang terlihat sangat menggemaskan.


Adinda dan Akram serta anak kecil itu kompak menoleh pada sumber suara dan kedatangan Reno benar-benar membuat kelegaan yang begitu sempurna hingga kedua bola mata Adinda langsung berbinar cerah.

__ADS_1


“Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh Pak Reno!!” jawab Adinda sedikit memekik riang, jelas sekali jika wanita itu benar-benar merasa bersyukur dengan kedatangan asisten suaminya.


Sementara lelaki yang tadinya terlihat sedikit hangat dan mencair saat berbincang dengan Adinda dan juga Putri kecilnya, tiba-tiba saja mengubah mode wajah kembali pada asalnya, seperti gunung es yang begitu beku dengan wajah datar dan netra hitam pada sang tamu yang beberapa hari lalu sempat disampaikan asistennya untuk bertemu.


“Selamat pagi Tuan Akram. Maaf saya memang sengaja mencari anda karena ingin berjumpa dengan nyonya Adinda.” Reno memang dengan sengaja menambah nama gadis itu dengan gelar ‘nyonya’ di depan nama Adinda agar pria bernama Akram tahu akan status perempuan yang saat ini seolah-olah sedang menjadi tahanan rawat anaknya.


Hemm!


Tidak ada sahutan atas ucapan salam atau pun sapaan Reno dari manusia kutub berhati dingin itu. Namun, sedetik kemudian wajah angkuhnya terlihat begitu mendominasi seiring tatapan intimidasi.


“Maaf, tuan Akram, sebenarnya atasan saya tidak melakukan semua itu dengan sengaja, jadi Pak Reza benar-benar saat ini dalam keadaan kacau karena kehilangan istrinya!” Reno terlihat kehabisan kata-kata yang tepat untuk berbicara pada lelaki arogan yang mampu membuatnya merasa tertekan.


‘Kalau bukan gara-gara pak Suryo yang berhati malaikat itu minta tolong sama gue, Gue juga ogah untuk membujuk Adinda pulang ke rumah mengurusi suami bodonya itu!’ rutuk Reno di dalam hati memaki sahabat sekaligus atasannya yang masih saja terlalu cinta pada mantan tunangannya, bahkan jelas-jelas telah pergi berkhianat dengan pria lain.

__ADS_1


Reza yang bisa mendengar dengan jelas ucapan lantang dari seorang Akram rasanya ingin berlari ke sana lalu memberikan bogeman mentah ke wajah pria angkuh yang bicara dengan asistennya. Mana ada seorang pria yang tahan dikatai sebagai suami sampah? Namun di sini Reza tak punya kekuasaan apa-apa selain hanya dengan menahan diri dan juga emosi.


“Nyonya Adinda dan juga tuan Reza hanya Miss communication aja.” Reno masih berusaha menjaga nama baik Reza sebelum lelaki dominan di hadapannya saat ini benar-benar menghancurkannya.


“Kesalahpahaman?” Akram berdiri lalu melangkah mendekati kursi roda yang diduduki Adinda dan tanpa dosa menggendong Putri kecilnya lalu dengan satu tangan mendorong kursi roda Adinda menjauh dari taman.


Namun lelaki dingin itu mengatakan sesuatu sebelum melangkah pergi, “katakan pada pria bernama Reza itu, jika dalam beberapa hari ke depan, dia sudah tak memiliki istri bernama Adinda lagi. Katakan juga untuk suami sampah seperti pria itu untuk tertawa lebar dengan bebas sembari menunggu surat panggilan dari pengadilan! Bukankah dia tidak menginginkan istri bernama Adinda? Ucapkan juga terima kasih saya karena dia sudah berselingkuh hingga saya bisa bertemu dengan Adinda!”


Reno tidak tahu lagi harus mengucapkan kata-kata bijak seperti apa karena memang semua yang dikatakan Akram tak bisa dielakkan sebab itu sebuah kenyataan. Lelaki itu hanya bisa mematung diam melihat kepergian Adinda yang memancarkan wajah penuh permohonan meminta tolong padanya tapi sayang saat ini Reno belum bisa melakukan apa-apa.


Bahkan Reno berbicara lewat gerakan bibir terhadap perempuan yang duduk di atas kursi roda itu sebelum pergi, ‘Sabarlah sebentar karena aku pasti akan membebaskanmu!’


Seolah mengerti dengan isyarat kata lewat gerakan bibir asisten suaminya, Adinda pun langsung menganggukkan kepala dengan balasan gerakan bibir yang sama, ‘terima kasih, Pak Reno!’

__ADS_1


Arnold sempat bercerita kepada Reno jika keadaan Adinda sudah jauh lebih membaik tapi ada satu hal yang membuat perempuan itu susah akan kembali alias keluar dari cengkraman seorang Akram, apabila semua itu berkaitan dengan Putri kecilnya. Tentu saja Reno begitu khawatir ketika mengetahui dari cerita Arnold sebelum datang ke rumah sakit ini, kalau ternyata Adinda sudah berhasil mencuri hati sang gadis kecil — anak pria bernama Akram — pengusaha dan sekaligus penguasa bisnis itu hingga tak akan mudah ke luar dari lingkungannya lagi.


Reno memang disuruh terlebih dahulu menemui asisten pribadi dari seorang Akram Julian Ramindra ke perusahaan Ramindra Group tadi pagi. Dirinya sangat terkejut karena ternyata Akram benar-benar tak akan mudah membiarkan istri atasannya itu bebas begitu saja dari cengkramannya.


__ADS_2