Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 33. Dia Bukan Istrimu


__ADS_3

Setelah menunaikan shalat Maghrib di dalam kamarnya, Adinda melanjutkan dengan meraih kitab suci Al-Qur’an yang ada di dalam kamar. Entah punya siapa gadis itu pun tak tau. Dirinya hanya mencoba untuk membuat sang hati untuk lebih merasa nyaman dan damai sebagai pelipur lara dan penghapus kesedihan dengan cara melantunkan ayat-ayat suci nan maha indah.


Tanpa ia sadari, sepasang kaki sebenarnya sudah berdiri sejak beberapa menit yang lalu dan sengaja memaku tubuhnya untuk ikut larut dalam suasana syahdu merdu nya suara Adinda. Sudah sangat lama pria dewasa itu tak pernah lagi mendengarkan lantunan yang begitu indah.


‘Suara Adinda sangat merdu dan indah.’ Akram tersenyum dengan sedikit gelengan kepala, entah apa lagi yang ada di dalam kepalanya.


“Papa ngapain beldili di depan pintu kamal bunda, hayooo, mau ngintip ya?” Celotehan mengandung pertanyaan itu sontak saja membuat Adinda menoleh ke arah pintu yang masih punya celah terbuka sekitar beberapa senti.


Namun, gadis itu coba abai akan suara anak dan ayah yang sepertinya memang sengaja ingin mendatanginya tapi Adinda masih tetap melanjutkan mengajinya yang belum selesai.


“Nggak, Sayang … papa hanya ingin mengajak bunda untuk makan malam tapi rupanya bundamu sedang mengaji. Ayo kita pergi dari sini biar bunda tak terganggu dan melanjutkan mengajinya dulu,” ajak Akram langsung menggendong sang putri mungilnya.

__ADS_1


“Tapi Caca mau ketemu cama Bunda, Caca mau ngajak Bunda buat nonton Tom and Jelly.” Caca mengerjap lucu membuat Akram sontak saja tertawa di depan kamar Adinda.


“Besok aja ya, Sayang … sekarang Bundanya harus banyak-banyak istirahat, kan baru pulang dari rumah sakit. Memangnya Caca mau kalau Bunda pergi lagi berobat ke rumah sakit terus tak balik lagi ke sini?” Akram sepertinya dengan sengaja memberikan sedikit keterangan palsu pada Sang Putri agar tidak mengganggu Adinda.


“Ndak mauuu, Caca mau cama bunda telus-telus. Caca mau bobok cama bunda, main cama bunda, makan ama mandi cama bunda juga  … Caca macih tanen cama bunda, hoaaa … papa jahat. Papa mau culuh bunda pelgi lagi hoaaa.”


Akram langsung saja panik karena Caca bukannya diam tapi malah menangis dengan keras. Hal itu tentu saja membuat Adinda mau tak mau menyelesaikan bacaan pada ayat suci Al-qur’an yang tadi sempat dilantunkannya, meletakkan kitab suci itu dengan baik pada tempatnya semua lalu bergegas ke luar kamar untuk menemui si kecil — anaknya sang empunya rumah.


Pria itu mengernyitkan dahi, merasa bingung dengan tingkah korban kecelakaan yang beberapa hari lalu ditabraknya.


‘Ini yang punya rumah saya atau dia?’ Akram ingin sekali menerobos masuk mengikuti sang putri yang sudah pasti diajak Adinda untuk berbaring bersama, atau mungkin mereka saling tertawa berdua dan itu sungguh membuatnya iri.

__ADS_1


“Akram kamu ngapain di depan kamar Adinda? Jangan bilang sama mama kamu mau melakukan hal yang tak pantas pada tamu mana!” pertanyaan penuh selidik dengan tatapan kecurigaan membuat Akram Kehilangan kata-kata.


“Kenapa kamu diam? Jangan pernah berharap masuk ke dalam kamar Adinda karena dia bukan siapa-siapanya kamu! Mama membiarkan Adida tinggal sama kita bukan berarti akan membiarkan wanita itu untuk kau tindas tapi hanya demi cucu mama. Ingat makan satu hal, Adinda itu seorang Istri, bukan seorang gadis apalagi seorang janda! Jadi jaga sikapmu seperti seorang tuan rumah yang baik bukan seorang pencuri yang ingin mengambil Adinda dari suaminya!” tegas Nyonya Ramindra menasehati putranya.


“Tapi suaminya itu selingkuh, Ma!” balas Akram tak terima.


“Terus apa hubungannya denganmu? Memangnya dia punya hubungan apa denganmu hingga harus ikut campur urusan rumah tangga orang lain?” Tatapan mata Nyonya Ramindra penuh intimidasi seolah siap menguliti putranya.


“Akram benci perselingkuhan!”


“Tapi dia bukan istrimu!!” tegas sang mama memukul telak pikiran yang sering bercokol di dalam kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2