Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 110


__ADS_3

Saat mereka membisu, tiba-tiba saja ada panggilan masuk di ponsel Reno tetapi laki-laki itu tetap abai karena masih fokus memperhatikan jalan yang ada di depan. Namun, ponsel itu kembali berdering dengan nomor kontak yang tidak dikenalnya, mengarahkan layar ponsel kepada Adinda dengan dahi yang berkerut.


“Apa kau mengenal nomor kontak ini?” Reno memang hanya menoleh sesaat tetapi pria itu menunggu jawaban dari janda yang duduk di sebelahnya.


Pria itu hanya merasa bingung dengan nomor kontak baru yang tiba-tiba saja melakukan panggilan telepon pada ponselnya, padahal jelas-jelas selama ini Reno sengaja tak pernah memberikan nomor pribadinya pada sembarang orang, lalu dari mana orang ini mengetahui nomor kontak miliknya?


Adinda mencoba memperhatikan nomor kontak yang masih melakukan panggilan pada ponsel Reno, memindai dan mengingat tapi Gadis itu menggeleng perlahan karena memang dirinya sama sekali tak hapal dengan nomor orang tersebut


“Saya tak kenal, karena nomor yang hapal di dalam kepala saya hanyalah nomor hp-nya ibu yang ada di kampung serta nomor Kak Aisyah,” jawab Adinda jujur apa adanya karena memang perempuan itu tak pernah tahu nomor siapa saja yang ia simpan di dalam ponsel miliknya sebab setiap ada panggilan masuk atau pun pesan yang masuk sudah langsung tertera nama si penelpon ataupun sang pengirim pesan.


Sejenak perempuan itu melihat wajah tampan lelaki yang sedang menyetir dan merasa sedikit aneh, kenapa Reno tak langsung mengangkatnya saja dan malah mengabaikan panggilan si penelpon?

__ADS_1


“Sebaiknya Pak Reno angkat saja! Mungkin itu nomor seseorang yang memang Anda kenal tetapi bisa saja dia kehilangan ponsel sehingga menggunakan nomor orang lain atau nomor baru untuk menghubungi anda,” ide Adinda memberikan saran.


Entah kenapa Adinda merasa jika Reno sangat bisa kalau hanya untuk sekedar berbicara lewat Ponsel, apalagi Gadis itu sempat melirik kalau ternyata di atas dashboard mobil milik pria itu juga tersedia sebuah headset bluetooth yang bisa dipakainya dengan kedua tangan tetap menyetir.


“Kalau begitu, tolong kamu jawab panggilan orang ini dan katakan kalau saya sedang fokus menyetir karena tak ingin terjadi kecelakaan,” imbuh Reno tersenyum tipis.


‘Karena aku ingin sekali memberitahukan pada orang yang menelpon itu, jika kamu sedang berada bersamaku dan kuharap nomor itu adalah nomornya Pak Reza atau kalau bisa itu adalah orangnya Tuan Akram,’ lanjutnya bergumam di dalam hati dengan pandangan kembali fokus melihat jalanan yang ada di depan.


Adinda yang lugu dan polos tentu saja menganggukkan kepala, “baiklah.”


Adinda pun akhirnya langsung menekan ikon berbentuk telepon berwarna hijau, “Halo … assalamualaikum, Dengan siapa ini?” tanya Adinda dengan suara yang sangat ramah serta penuh kelembutan membuat si penelpon terdiam sesaat hingga tercipta keheningan.

__ADS_1


Reno yang melihat pun akhirnya memberikan isyarat agar Adinda menekan tanda loudspeaker yang ada di ponselnya, Adinda langsung menurut dan melakukan apa yang diminta oleh Reno.


Namun, sayangnya ponsel itu hanya tinggal menyisakan nada suara yang berbunyi tut tut tut, menandakan jika panggilan telepon itu sudah terputus.


“Dia memutuskan panggilannya,” ujar Adinda dengan mengedikkan kedua bahu disertai bibirnya yang manyun.


“Apa jangan-jangan orang itu sebenarnya —” Adinda langsung membekap mulutnya dengan telapak tangan kanannya.


“Astaghfirullah, ini pasti dia karena hanya dia orang yang pintar segalanya!” Adinda berucap seperti orang yang sangat panik, “bagaimana sekarang? Saya tak mau Bapak bakal ikut kena masalah, jadi sebaiknya saya menginap di hotel saja untuk sekarang, saya tak mau Pak Reno kenapa-napa!” tegasnya dengan suara memohon karena di dalam pikiran Adinda, orang itu pasti mampu melakukan apa saja demi mencapai tujuannya.


“Hey, tenanglah! Kenapa wajahmu tiba-tiba saja berubah panik seperti itu? Siapa orang yang kamu maksud? Katakanlah, saya pasti akan melindungimu!”

__ADS_1


__ADS_2