Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 36. Pertemuan Akram Dan Pak Suryo


__ADS_3

Caca akhirnya tertidur di dalam pangkuan wanita yang dianggapnya Bunda sejak bertemu dengan Adinda. Gadis itu benar-benar berhati lembut tidak merasa tega ketika dirinya ingin pergi dari rumah Nyonya Ramindra melihat gadis kecil yang menangis terisak hingga kejer karena ingin ikut dengannya dan tak mau sedikit pun melepaskan kaki Adinda sehingga mau tak mau akhirnya Adinda terpaksa setuju mengajak Caca.


Akram pun akhirnya merasa lega dengan perbuatan Sang Putri yang bisa membuatnya mengambil sedikit keuntungan, tentu saja lelaki itu sangat bahagia karena akhirnya apa yang ada di dalam pikirannya secara tidak langsung bisa terlaksana berkat kenakalan anaknya yang tak mau berpisah dengan Adinda. Akram Bukannya ingin mengambil kesempatan di dalam kesempitan tetapi siapa yang tidak akan ikut trenyuh hatinya, melihat seorang gadis yang diselingkuhi oleh suaminya, apalagi Akram sudah menyelidiki dengan benar dengan asisten pribadinya kalau ternyata Adinda terpaksa menerima pernikahan itu hanya karena ingin balas budi terhadap Keluarga pak Suryo yang telah memberikan biaya kuliah untuk sang kakak dan juga dirinya.


Tentu saja sebagai anak seorang pelayan yang bekerja di rumah Pak Suryo, Adinda tidak mungkin mampu untuk menolak permintaan majikan Bundanya selama ini. Gadis itu akan terlihat sebagai seorang anak yang tidak tahu balas budi karena selama ini kehidupannya ditanggung oleh keluarga pak Suryo, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk biaya sekolahnya dan juga Aisyah selama ini. Itulah satu hal yang menyebabkan Gadis itu mau menerima permintaan sang Bunda agar membalas budi baik keluarga Pak Suryo dengan cara menjadi pengantin pengganti yang dinikahi oleh Reza.


"Sepertinya Caca begitu kelelahan hingga tertidur di atas pangkuanmu. Maafkan putri saya karena sebenarnya dia melakukan semua itu akibat terlalu rindu dengan sosok seorang ibu," kata Akram memulai percakapan yang sejak tadi hanya hening di dalam mobil, kecuali yang terdengar hanya deru mesin mobil yang begitu halus dikendarai oleh seorang sopir.


Jalanan terlihat sepi karena saat ini mereka membelah jalan raya menuju rumah Adinda dan suaminya di saat jam kerja. "Tidak apa-apa. Anggap saja saya sekarang sedang membalas kebaikan anda yang telah merawat saya hingga pulih seperti ini. Padahal belum tentu saya bisa cepat sembuh seperti sekarang apabila dirawat hanya dengan pengobatan biasa saja tanpa dokter terbaik seperti yang telah anda perbantukan untuk saya," jawab Adinda dengan tangan tetap mengelus punggung si kecil yang terlihat tertidur di atas pangkuannya dengan tangan mungil yang sama sekali tak mau terlepas dari tubuh Adinda.


"Apa nanti yang akan kau lakukan ketika telah sampai di rumahmu?” tanya Akram menatap wajah sang gadis yang masih asik membelai rambut putrinya.

__ADS_1


Pria itu merasa harus tahu apa saja rencana Gadis itu selanjutnya karena saat ini Adinda sedang bersama putri kecilnya. Anggap saja Akram memang lelaki yang jahat ingin mengambil seorang istri dari suaminya tetapi pria itu merasa yang sedang dilakukannya hanyalah untuk menyelamatkan Adinda dari kurungan rumah tangga yang sudah jelas-jelas tak sehat karena memiliki pasangan tukang selingkuh.


"Hal pertama yang ingin kulakukan adalah mengambil dokumen menyangkut pernikahan  saya dengan Mas Reza karena saya tak akan bisa menggugat cerainya tanpa dokumen itu sebagai salah satu syarat di pengadilan nanti.” Adinda akhirnya menoleh ke samping.


“Saya harap ketika telah sampai di sana nanti, anda tidak berusaha ikut campur dengan apapun masalah yang terjadi antara da Mas Reza sebab insya Allah akan ada kedua mertua saya di sana untuk membantu menyelesaikan masalah kami berdua."


Akram hanya menganggukkan kepala walau di dalam hati merasa tak terima karena Adinda melarangnya untuk ikut campur urusan wanita yang telah mencuri hati putrinya, tetapi pria itu kembali teringat dengan pesan mamanya sebelum mereka berangkat tadi bahwa dirinya boleh mengantarkan Adinda tanpa harus ikut campur urusan keluarga Adinda dengan suaminya.


“Saya mengerti tapi kamu juga tak bisa membantah jika sampai lelaki sampah itu menyakitimu, maka jangan salahkan saya kalau sampai bertindak kejam.”


Tanpa terasa mobil yang membawa mereka pulang telah sampai di depan salah satu rumah yang lumayan luas pekarangannya, Supir itu berhenti di tepi jalan karena ada taksi yang juga sedang berhenti persis di depan gerbang rumah Adinda. Dua orang paruh baya terlihat keluar dari taksi dan mereka adalah Bapak dan Ibu Suryo — orang tuanya Reza.

__ADS_1


“Kita turun di sini saja. Tolong bukakan pintu karena aku akan menggendong Caca ikut keluar!” pinta Adinda menoleh sesaat ke samping tapi ternyata sang sopir sudah duluan membuka pintu untuk Adinda karena mengerti wanita itu sedang menggendong Putri tuannya.


“Tunggu sebentar, apakah mereka itu orang tua suamimu?” Akram merasa kenal dengan sosok lelaki paruh baya yang baru saja turun dari taksi bersama istrinya.


“Ya, mereka adalah Bapak dan Ibu Suryo, mertua saya. Awalnya mereka merupakan majikan saya,” beritahu Adinda lalu mulai turun dari mobil dibantu oleh Pak sopir. Akram dengan cepat berlari setengah lingkaran agar bisa berjalan sejajar dengan Putri yang digendong Adinda.


“Ma ... Pa!” panggil Adinda saat kedua mertuanya itu hendak membuka gerbang rumah anak menantunya.


Bapak dan Ibu Suryo langsung membalikkan badan ketika ada suara yang memanggilnya. Kedua bola mata mertuanya itu langsung saja membola kala melihat sosok yang sedang berdiri di samping Adinda.


“Tu-tuan Akram ….”

__ADS_1


Ada apa kira-kira? Jangan lupa beri like dan komentarnya ya, terima kasih dan baca juga novel baru uni berjudul : Sah Jadi Talak yang bertemakan komedi romance.


__ADS_2