Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 58. Akram Cemburu?


__ADS_3

Entah apa yang dibisikkan Akram di telinga putrinya hingga gadis kecil itu langsung berlari memasuki kamar Adinda, berusaha merangkak naik ke atas tempat tidur dan menggapai-gapai dengan kedua tangan kecilnya berusaha menaikkan tubuhnya sendiri. Tentu saja Adinda yang tadi sudah dipaksa berbaring oleh nyonya Ramindra, langsung bangkit dan meraih tubuh mungil yang menggemaskan itu ikut duduk di atas ranjang.


“Hup, anak pintar mau naik ke sini, ya? Mau nemenin Bunda istirahat, ya? Anak siapa sih ini, kok pinter banget,” ucap Adinda tersenyum lebar merasa senang dengan kedatangan si kecil


Caca langsung menganggukkan kepala dengan senyum riang dan kedua bola mata yang berbinar terang. “Caca mau bobok cama Bunda, boyeh?” Kedua mata si kecil terlihat mengerjap begitu lucu, membuat Adinda benar-benar tak tahu harus berkata apa saking senangnya.


“Tentu saja boleh dong, Sayang, ayo berbaring di samping bunda!” Adinda yang polos langsung membaringkan tubuh si kecil di sampingnya tanpa merasa curiga sama sekali dengan kehadiran Caca di dalam kamarnya.


Beberapa menit kemudian, dokter keluarga Ramindra pun datang, dan ternyata beruntung dokter itu seorang perempuan karena Adinda pasti akan merasa sangat malu jika yang memeriksanya merupakan seorang laki-laki.

__ADS_1


Dokter itu terlihat mengeluarkan stetoskop lalu hendak menyibak kerudung yang menutupi bagian dadanya sang gadis tapi dengan cepat Adinda memegangi tangan sang dokter dengan mata melirik tajam pada Akram.


“Sepertinya saya masih ada pekerjaan dan akan keluar sebentar, nanti akan kembali masuk ke sini!” Dengan sangat sadar Akram langsung tahu diri dan keluar dari kamar Adinda.


‘Dasar bodo, jelas aja Adinda mana mungkin mau memperlihatkan auratnya padaku. Akram … Akram kenapa sih lo bego banget!’ omelnya merasa kesal dengan diri sendiri yang selalu saja terlihat konyol ketika berada di dekat Adinda.


Dengan langkah kaki yang terburu-buru, Akram berjalan ke arah ruang keluarga merogoh ponsel yang ada di dalam saku lalu menelpon Roland.


Suara Roland terdengar seperti biasa, datar mirip sekali dengan bosnya. Terkadang atasan dan bawahan itu sudah seperti orang kembar saat bicara, sama-sama dingin dan berwajah datar serta terlalu cuek pada lingkungan sekitar.

__ADS_1


“Datang ke rumah nanti malam, Adinda sudah kembali ke rumah saya dan saya ingin perceraiannya cepat diurus! Apa kamu mengerti?” Akram selalu bicara to the point tanpa aling-aling menjaga perasaan orang lain ataupun menyimpan perasaannya sendiri yang selalu mampu terbaca oleh sang asisten pribadi.


[Sabar sedikit Bos, jangan tergesa-gesa memperlihatkan perasaan Anda yang sedang menggila itu pada pengasuhnya non Caca! Jangan sampai nanti nama baik anda menjadi buruk dan tercemar hanya karena setelah perceraian Bapak Reza Madani dengan istrinya … tiba-tiba saja Anda sudah hadir di dalam hidup si janda cantik soleha itu! Maafkan saya bicara seperti ini, karena saya melakukannya demi kebaikan nama baik keluarga Ramindra, tunggu halal, bos!]


Roland harus bisa mencari kalimat yang sangat tepat agar Bosnya itu mau mengerti tapi rupanya bukan inti percakapan itu yang menjadi permasalahan untuk Akram, tapi malah pujian cantik aleha yang ia lontarkan membuat Akram berang.


“Heyy, jaga ucapanmu! Janda cantik apa maksudmu? Jangan bilang kalau kamu juga suka sama Adinda. Awas saja kalau sampai itu terjadi maka lidahmu akan saya gunting biar tak bisa lagi memuji Adinda!”


Klik!

__ADS_1


Panggilan telepon pun langsung diputus Akram secara sepihak. Entah kenapa pria itu merasa sangat kesal karena Roland terang-terangan memuji Adinda hingga membuatnya sakit telinga.


“Kenapa aku jadi kesal, apa aku cemburu? Ckck pasti kau hanya tak suka Roland berlebihan memuji Adinda saja,” tolaknya bermonolog sambil menampol dahi sendiri.


__ADS_2