Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 72. Bimo Dan Romeo


__ADS_3

“Halo, Pak Bimo. Saya sedang ada masalah sedikit di perusahaan, ada seorang pria bernama Reza memberikan ancaman dengan cara ingin memfitnah saya di depan seluruh karyawan kantor, jadi tolong suruh anak buah anda ke sana untuk memasukkan pria itu ke balik jeruji besi, dua malam saja!” titah Akram pada seseorang yang di teleponnya.


[Oh ya, Tuan Akram? Jadi inti permasalahannya ini seperti apa, hingga Anda menyuruh saya untuk memberi pelajaran pada lelaki itu? Masalahnya pihak yang berwajib tidak bisa asal menangkap orang tanpa ada bukti dan saksi serta Fakta yang mendukung] Bimo tidak langsung mengiyakan permintaan Akram sebelum CEO itu memberitahukannya duduk persoalan yang terjadi dengan lelaki bernama Reza.


Akram mengambil nafas dengan kasar, ingin sekali rasanya pria itu memberikan bogeman mentah karena menurutnya Bimo terlalu bertele-tele, padahal dia sungguh ingin sekali cepat menyingkirkan lelaki bernama Reza Madani agar tak lagi merecoki Adinda, terutama mengganggu perasaannya sendiri yang sedang berbunga-bunga, entahlah.


“Dia baru bercerai dengan istrinya beberapa hari yang lalu, dan sekarang mantan istrinya itu menjadi pengasuh untuk Caca, Putri kecil saya yang tentunya Pak Bimo masih ingat, bukan? Sayangnya Pak Reza tidak menerima kenyataan setelah mereka bercerai. Kalau anda ingin tahu kenapa mereka bercerai … jawabannya karena lelaki itu ketahuan berselingkuh di depan mata kepala istrinya sendiri yang bernama Adinda, jadi apa anda bisa memproses langsung permintaan saya ini?” Akram sebenarnya kesal harus menjelaskan duduk persoalan yang membuat Reza memberikan ancaman padanya, tapi mau apalagi, karena pihak kepolisian tidak akan bergerak begitu saja tanpa ada penjelasan pasti.


“Saya juga tadi sempat merekam perkataan Asisten saya yang bernama Roland, Saat mengatakan jika Reza Madani memberikan ancamannya, bukankah bukti dari suara asisten saya itu sudah bisa menjeratnya menuju hotel prodeo?” lanjut Akram mempertanyakan karena lelaki itu benar-benar tak ingin Reza Madani berkeliaran di sekeliling rumahnya.


[Oke kalau begitu, Tuan Akram. Anak buah saya akan langsung bergerak dan melakukan sesuai dengan perintah anda! ]

__ADS_1


“Terima kasih banyak atas bantuannya, Pak Bimo. Saya akan langsung mengirimkan sedikit hadiah untuk para narapidana yang ingin berubah menjadi orang lebih baik,” pungkas Akram karena memang selama ini lelaki itu seringkali memberikan sumbangan untuk membantu pengelola sel yang ada di bawah kekuasaan Bimo.


[Hehehe, Tuan Akram tidak usah sungkan. Saya juga mengucapkan terima kasih banyak karena sudah setia menjadi donatur tetap sel tahanan kami. Ini saja berkat bantuan dari tuan, alhamdulillah sudah banyak narapidana yang keluar dari sini langsung bisa berdikari sendiri setelah mendapatkan beberapa ilmu di dalam sel tahanan hingga tak lagi membuat onar di luaran sana. Semoga urusan anda selalu dimudahkan sama Tuhan, termasuk urusan jodoh karena anda sudah lumayan lama menjomblo hehehe] Pria itu pun terkekeh kecil sembari bercanda dengan Akram.


Namun, candaan dari bapak polisi itu ternyata malah membuat akan merasa tidak senang karena tersindir oleh statusnya yang masih muda, padahal begitu banyak wanita selama ini yang datang menggodanya dan juga ingin dijadikan sebagai istrinya tetapi akrab sama sekali tak terbujuk sedikit pun.


“Berisik!” Akram pun langsung menekan tombol berbentuk telepon berwarna merah hingga panggilan telepon terputus secara sepihak. Lelaki itu sangat yakin, jika Pak Bimo tentu saja mengerti ke mana arah tujuan pembicaraan mereka barusan. Pria itu sudah pasti menganggap kalau donatur tetap untuk lapas di wilayahnya itu, sebenarnya memang sedang berusaha merebut mantan istri dari laki-laki yang bernama Reza.


“Awas saja kalau sampai Romeo tau dari mulutmu, habis kau ku buat,” monolognya memberi ancaman tanpa didengar sama Pak Bimo. Romeo merupakan salah seorang temannya yang dulu pernah sama-sama satu letingan di SMA tapi sekarang sama-sama berpangkat AKP dengan Pak Bimo, di mana temannya yang bernama Romeo itu, saat ini berada di bidang Reskrim.


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


“Maaf, Tuan … ada tamu sedang mencari Tuan,” ucap Teh Neni memberitahukan.


“Kenapa kamu yang datang ke sini memberitahukan pada saya, di mana Adinda?” Dahi lelaki tampan itu berlipat kesal, padahal tak ada kesalahan yang dilakukan babysitter anaknya itu.


“Maaf tuan, bukannya Anda sendiri yang menyuruh Neng Adinda itu selalu bersama non Caca, bahkan saya mendekat aja Nona kecil tidak membolehkan, anak Tuan hanya ingin selalu bersama bundanya,” sahut Neni jujur apa adanya.


“Memangnya siapa yang sedang mencari saya?” Akram dengan cepat mengalihkan pembicaraan karena merasa malu atas pertanyaan konyolnya yang tiba-tiba saja mengharapkan Adinda datang sekedar memberitahukan, kalau ada tamu mencarinya. Entah lelaki itu benar-benar semakin aneh saja?


“Itu loh, Tuan … Bapak polisi yang sering datang ke sini Tapi kali ini yang datang cuma satu Tuan, kalau ndak salah namanya Pak Romeo,” jawab Neni dengan anggukan kepala.


“Apa, Rpmeo?” beonya tak percaya

__ADS_1


“Sial!”


Bantu like dan komentar serta ulasan bintang lima ya, biar aku makin semangat nulisnya. terima kasih.


__ADS_2