Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 52. Berebut


__ADS_3

Mata Bunda Hanum membulat sempurna ketika mendengar penjelasan Sang Putri yang membuatnya langsung meringis seketika, tiba-tiba saja perasaan bersalah itu langsung menginjak harga dirinya karena wanita paruh baya itulah yang awalnya memaksa Adinda untuk membantu keluarga pak Suryo sebagai pembalas kebaikan budi keluarga itu.


Adinda melihat wajah Reza telah berubah pucat pasi karena lelaki itu tidak pernah menyangka, jika wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu sangat tega menyampaikan berita buruk terhadap Bundanya sendiri. Sebagai manusia yang memiliki perasaan dan juga rasa yang tak kuat menahan sakit ketika diperlakukan tidak baik, begitu juga yang dirasakan sama Adinda saat berada di rumah dengan Reza, di mana lelaki itu tak pernah sekalipun menghargainya sebagai seorang istri.


Bahkan dirinya tak pernah melupakan sikap Reza yang begitu menganggapnya seolah-olah tidak ada. Pria itu juga merasa malu mengakuinya sebagai istri, jika seandainya bertemu di luar sana.


"Untuk itu lah Reza sengaja datang ke sini mengajak Adinda mengulang dari awal lagi dan kembali ke rumah, Bunda. Reza benar-benar minta maaf karena telah menyakiti perasaan Dinda dan Reza berjanji tak akan pernah mengkhianatinya lagi," ucap Reza berusaha meyakinkan sang mertua agar dirinya bisa kembali diterima Adinda tapi sayangnya wanita paruh baya itu sejak tadi sibuk menggelengkan kepala dengan butir-butir air bening menetes di sudut kelopak mata tuanya.


"Bunda minta maaf, Nak Reza, sewaktu kalian belum menikah saya telah memaksa Adinda untuk menerimamu sebagai suaminya walaupun dia sama sekali tidak menyukai Nak Reza, tapi demi baktinya sebagai anak, Adinda dengan terpaksa menerima permintaan Bunda untuk menolong keluargamu agar tak buruk di mata orang lain karena gagal menikah dengan calon istrimu yang sesungguhnya! Tapi apa yang didapatkan sama anak saya setelah kamu nikahi? Kamu malah dengan sengaja menduakannya dan menghianati kesetiaan dia sebagai istri yang sebenarnya hanyalah sebagai pengganti. Harusnya kamu bersyukur bukannya malah mencari wanita lain di belakangnya!"


Wanita paruh baya itu mengambil air mineral yang memang sudah tersedia di atas meja walaupun tak ada tamu di rumahnya, menyesap air itu hingga tandas semua untuk menghilangkan rasa dahaga yang tiba-tiba saja membuat tenggorokannya kering. Apalagi setelah mendengarkan apa yang terjadi pada rumah tangga putrinya yang baru berusia seumur jagung.


"Maaf Adinda, apa kamu bisa menerima video call dari mama sebentar saja? Saya tak tega melihat Caca yang sekarang terpaksa menggunakan selang infus untuk mengisi cairan ke dalam tubuhnya dan bibirnya selalu memanggil namamu, tolong bantu saya sebentar dan setelah kamu berbicara dengan putri saya … silahkan kamu lanjut menyelesaikan masalahmu dengan Pak Reza," sela Akram berusaha menjeda perbincangan antara Bunda Hanum, Reza dan juga Adinda karena di mata lelaki itu nyawa anaknya jauh lebih berharga dari siapapun juga di dunia ini.


Adinda tidak berani menyahuti pertanyaan dari Akram tetapi perempuan itu malah melirik pada bundanya dan Hanum tentu saja mengerti bagaimana kondisi seorang anak kecil yang terbaring di rumah sakit dengan tangan mungilnya dialiri cairan infus. Itu sungguh sangat menyedihkan jika dibayangkannya.

__ADS_1


"Adinda, Bunda tak pernah mengajarkanmu menjadi orang yang tidak bertanggung jawab walaupun selama bertahun-tahun hidup Bunda ini memang hanya menjadi seorang pelayan tapi Bunda tak pernah mengabaikan kewajiban. Jadi sekarang kamu hubungi anak asuhmu itu dan beri pengertian kalau kamu pasti akan kembali ke rumahnya agar dia cepat sembuh dan mau minum obat, katakan sama dia kalau kamu di sini ingin melihatnya cepat sehat dan tertawa!" perintah Bunda Hanum dengan anggukan kepala supaya Dinda langsung menerima video call dari seseorang yang menghubungi Akram.


“Tapi, Bunda, sebenarnya aku itu bukan peng–”


“Kamu nggak kasian sama anak kecil yang sedang tak berdaya di rumah sakit sana?” potong Bunda Hanum.


"Baiklah Tuan Akram, mana ponselnya biar saya bicara langsung dengan Caca?" Tangan Adinda menengadah sembari berjalan ke arah Akram dan mengambil ponsel yang diberikan di mana sudah terpampang jelas wajah nyonya Ramindra dengan mata sedikit sembab, kemungkinan besar ikut menangis merasa sedih melihat cucunya yang terbaring di rumah sakit.


"Assalamualaikum, Nyonya." Adinda mengucap salam sebagai sapa pertama kali dalam bentuk kesopanan menghormati orang yang sekarang tersenyum ke arahnya.


“Maaf, Nyonya … saya memang lagi pulang kampung ke rumah bunda,” jelas Adinda.


“Ya sudah tapi tolong ponselmu diaktifkan biar nanti saat Caca terbangun bisa langung menghubungimu,” pintanya.


“Baik, Nyonya, kalua begitu saya tutup dulu, assalamu’alaikum,” pungkas Adinda memutus sambungan telepon milik Akram.

__ADS_1


“Apa sekarang kamu sudah puas melihat putri saya berbaring lemah di rumah sakit akibat egomu yang meninggalkan Caca?” Akram menatapnya tajam.


“Maaf tapi aku ingin bersama bundaku dulu,” jawab Adinda.


“Berarti kamu tak punya hati sama sekali! Anak saya sedang terbaring karena ulahmuu!!” raung Akram mulai meninggi membuat Bunda Hanum dan Reza ikut keluar dan melihat pertengkaran mereka.


“Adinda, ikutlah dengan tuan Akram. Bagimana pun dia adalah majikanmu, bunda lebih ikhlas kamu bermanfaat untuk seorang anak kecil daripada kembali pada seorang suami yang berkhianat!” Bunda Hanum tersenyum lembut.


“Tapi, Bunda … aku ini bukan seor—”


“Terimakasih banyak, Bunda. Saya akan menjaga Dinda dengan nyawa saya agar dia tetap bahagia di sisi putri saya, dan saya juga akan membuang sampah yang berusaha mengganggunya!” potong Akram yang tak ingin bunda Hanum tau kalau sebenarnya Adinda bukanlah pengasuh putrinya, melainkan wanita yang pernah ditabrak supirnya.


‘Dasar Tuan pemaksa ini, perintahnya harus dilakukan tanpa bisa ditolak! Maunya apa sih bicara kayak gitu sama Bunda? Bahkan aku tak bisa menjelaskan dengan rinci pada Bunda kalau aku ini bukan pengasuh anaknya, dasar Akram gilaa!’ rutuk Adinda di dalam hati mengumpat dengan kesal sikap Arogan Akram yang berpura-pura baik di hadapan bundanya.


“Kalau begitu, untuk mempersingkat waktu, apa saya bisa kembali ke Jakarta hari ini juga dengan Adinda, Bunda?” tanya Akram berusaha ingin cepat ambil start sebelum cecunguk di ruang tamu mendahuluinya.

__ADS_1


Sayangnya Reza punya telinga yang tajam, “Adinda masih berstatus istri saya, jadi saya melarangnya untuk pergi bersama pria lain!”


__ADS_2