
Bugh!
Belum juga sampai Adinda meniup salah satu mata Romeo, tiba-tiba saja sebuah pukulan menghantam tubuh bagian belakang lelaki itu, siapa lagi pelakunya kalau bukan Akram. Romeo benar-benar ingin tertawa terbahak-bahak walau pun punggungnya terasa sedikit sakit, tetapi usaha yang sedang dilakukannya benar-benar membuahkan hasil yang nyata karena memang lelaki itu sengaja melakukan itu semua hanya ingin melihat sampai di mana kesabaran sang duda satu anak itu untuk menahan rasa cemburunya yang sudah teramat tinggi.
“Lo benar-benar teman yang tak tahu diri, dikasih hati malah minta jantung dan nikung kawan sendiri! Gue tadi udah ngasih peringatan sama lo tapi kuping lo benar-benar lagi rusak, pergi lo dari sini dan jangan pernah menampakan batang hidung lo lagi sama gue!” raung Akram dengan suara melengking hingga membuat beberapa pengunjung wahana permainan itu menjadikan kehadiran mereka sebagai bahan tontonan gratis bahkan ada beberapa dari mereka yang sengaja merekam pertengkaran itu.
Roland yang tadi dihubungi Akram ketika duda satu anak itu ingin menjadi seorang penguntit untuk putri dan juga pengasuhnya sendiri, terpaksa turun tangan ketika melihat beberapa ponsel mengarah terhadap aksi arogan tuannya. Lelaki itu tentu saja harus bergerak cepat sebelum adegan kekerasan yang dilakukan oleh Akram Julian Ramindra menjadi viral di media sosial karena hal itu bisa saja menghancurkan nama baik keluarga besar Ramindra Group. Roland benar-benar tak habis pikir, kenapa atasannya itu akhir-akhir ini suka sekali melakukan hal yang tidak sepatutnya bahkan terkesan terlalu berlebihan dalam menyikapi sesuatu yang bersangkutan dengan Adinda.
Sementara itu Romeo malah terkekeh sedangkan Adinda merasa bingung melihat tingkah Akram yang tiba-tiba saja memberikan tendangan mautnya pada Romeo, apalagi Adinda sendiri mengetahui jika mereka bersahabat baik.
__ADS_1
“Tuan Akram apa-apaan sih menendang temannya sendiri? Terus kenapa juga Tuan ada di daerah sini? Jangan bilang kalau anda sebenarnya sejak tadi mengikuti Kami bertiga, apa sebenarnya yang Tuan inginkan?"Adinda menatap tajam wajah Ayah dari Putri yang diasuhnya.
Gadis itu terlihat benar-benar sangat parah dengan tingkah seorang lelaki yang sama sekali tak bisa disebut dengan kata pujian karena memang perbuatan akan barusan sungguh merupakan hal tercela apalagi dengan sengaja berbuat seperti itu di depan anaknya sendiri.
“Tuan … kenapa Anda diam?” ulang Adinda menanyakan.
“Oh … jadi saya pengganggu yang telah menggagalkan apa yang ingin kalian lakukan berdua? Dan kamu marah karena saya tidak membiarkan laki-laki kurang ajar ini menciummu?” tanya Akram dengan nada kecewa karena dirinya tidak pernah menyangka jika pengasuh putrinya yang mengenakan hijab dengan alasan untuk menutup aurat itu, tanpa tahu malu mau saja ingin dicium sahabatnya di tempat umum.
Adinda mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Sekarang Gadis itu baru mengerti kenapa Akram tiba-tiba saja menyerang Romeo karena ternyata duda satu anak itu mengira dirinya sedang melakukan adegan dewasa 18 plus sedikit di hadapan putrinya dan itu tentu saja membuat Adinda tak tahan lagi untuk menyemburkan tawa. Gadis itu berjalan ke arah Romeo yang juga sudah susah payah menahan tawa yang sama hingga keduanya tiba-tiba saja meledakkan suara tawa.
__ADS_1
Hahaha! Hahaha! Hahaha!
Adinda hanya tertawa dengan suara kecil tetapi Romeo tertawa terbahak-bahak bahkan ketika lelaki itu tertawa, telunjuknya sekali-kali mengarah ke Akram lalu pada dirinya dan Adinda yang tentu saja membuat Akram merasa sangat bingung.
“Tuan tuan … anda itu tadi salah paham! Mata Pak Romeo tadi kemasukan debu dan Dia menyuruh saya untuk meniupnya, jangan bilang kalau sebenarnya anda merasa cemburu karena menganggap Pak Romeo sedang menciumm saya hehehe.” Adinda pun membekap mulutnya tetapi kekehan kecil masih terdengar keluar dari tawanya yang indah.
Kedua bola mata Akram melotot seketika, merasa tidak percaya jika sahabatnya itu sendiri dengan sengaja mengerjainya.
“Katanya lo nggak suka sama pengasuh ini, tapi kenapa lo sakit hati melihat gue menciumm Adinda? Kalau cemburu, jangan gengsi Bos!”
__ADS_1