
Akram berusaha menenangkan sang putri ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil. Membiarkan Caca duduk kembali di pangkuan Adinda karena anak gadis kecilnay itu tak mau dipisahkan dengan Adinda. Lelaki itu berusaha mati-matian mengontrol emosi agar tak meledak karena kesal pada suaminya Adinda. Sementara saat ini dirinya tidak lagi berhadapan dengan lelaki pecundang itu dan dia juga tak mau si kecil merasa ketakutan jika Akram melampiaskan kemarahan.
“Maafkan saya karena tadi sudah tak bisa mengontrol emosi. Perbuatan suamimu tadi benar-benar sudah tak pantas untuk dilakukan seorang pria karena menurut saya, dia sudah sangat keterlaluan. Lelaki yang berani berkoar meminta hak sebagai seorang suami tapi sama sekali tak mau menunaikan kewajiban kepada istrinya! Akalnya sudah berada di bawah pikiran seekor binatang yang mau melakukan perzinahan di rumahnya sendiri, padahal dia itu berpendidikan tinggi tapi malah memilih jadi pria sampah!” Akram mulai menyalakan mobilnya, menoleh ke samping untuk memastikan bahwa seat belt sudah terpasang pada Adinda.
Adinda hanya diam tidak berani menanggapi karena dirinya juga tahu kalau sebenarnya Akram tak ingin ikut campur tentang masalah rumah tangganya, tetapi sayangnya gara-gara pria itu ikut datang menemani sang putri yang tak mau lepas dari Adinda maka mau tak mau Akram pun ikut turun tangan.
‘Akhirnya apa yang pernah ku bicarakan dengan Kak Aisyah dan Bunda, benar-benar menjadi nyata. Mas Reza bukanlah seorang suami yang baik untuk dijadikan Imam tetapi Bunda tetap kekeh memaksaku menerimanya karena merasa kasihan tapi aku sendiri tidak pernah dikasihani Mas Reza semenjak kami menikah,’ gumamnya di dalam hati berusaha menguatkan diri.
__ADS_1
“Sekarang apa rencanamu ke depannya?” tanya Akram tanpa menoleh.
“Saya belum tahu apa yang harus dilakukan, bahkan saya masih merasa bingung untuk menyampaikan kejadian seperti ini sama Bunda yang ada di kampung,” sahut Adinda dengan nada sedih.
Gadis itu tidak bisa membayangkan raut muka sang Bunda yang selama ini selalu mengajarkan tentang kebaikan dan apa saja kewajiban yang harus dilakukan di dalam rumah tangga padanya, bakal menyambut kedatangannya dengan tatapan sedih dan merasa gagal mendidiknya sebagai anak.
“Saya sudah membawa dokumen-dokumen yang diperlukan untuk pengajuan gugatan cerai, tapi saya lupa membawa buku-buku kuliah yang saya butuhkan.” Adinda terlihat sedih, yang ada di pikirannya hanyalah Dokumen untuk bebas dan berpisah dari Reza Madani, sedikit pun Gadis itu sama sekali tak ada mengingat tentang bangku kuliahnya.
__ADS_1
“Apa kamu kuliah dengan biaya sendiri atau dikuliahkan oleh suamimu?” Akram kembali mengajukan pertanyaan karena pria itu harus memastikan satu hal, bahwa Adinda setelah keluar dari rumah itu tak ada lagi sangkut pautnya dengan keluarga Pak Suryo.
“Pernikahan saya dengan Mas Reza Madani, bukalah pernikahan seperti orang kebanyakan yang didasari atas saling cinta dan saling mengasihi, tapi saya ini hanyalah seorang pengganti dari calon istrinya yang sudah kabur bersama pria lain! Awalnya saya menolak mentah-mentah tidak mau dijadikan tumbal sebagai pengganti pengantin untuk Mas Reza, tetapi melihat kesedihan wajah bunda yang berharap agar saya membalas Budi sama keluarga pak Suryo … akhirnya kegagalan inilah yang terjadi,” pungkasnya mengalihkan pandangan di sisi kiri untuk menyembunyikan bulir-bulir bening yang sudah siap meluncur melewati pipi.
“Saya hanya punya satu saran untukmu. Bekerjalah dengan saya jadi pengasuh Caca dan saya akan membayarmu sesuai dengan gaji seorang wanita karir yang bekerja di perusahaan kami. Jika kamu ingin hidup tentram dan damai tanpa merasa ada hal yang mengganjal di dalam jiwamu kelak, maka kamu harus mau memutuskan semua hubungan yang berkaitan dengan keluarga Pak Suryo!” saran Akram dengan tegas.
Adinda tersenyum, “Berarti saya harus berhenti kuliah dan lebih baik balik pulang ke kampung!”
__ADS_1