
Hari ini merupakan weekend dan Akram sengaja tidak berangkat bekerja karena lelaki itu ingin melihat apa yang akan dilakukan Adinda dengan Putri kecilnya. Nyonya Ramindra sedikit curiga dengan kelakuan Sang putra yang selama ini sangat gila kerja tapi entah kenapa, tiba-tiba saja hari ini anak semata wayangnya yang sudah memiliki gelar sebagai duda itu terlihat keluar dari kamar dengan pakaian sampai ala rumahan.
Kaos oblong berwarna biru dengan celana denim 3/4 menutupi sedikit otot yang menonjol di bagian kakinya. Rambut rapi tertata dengan klimis, tersenyum cerah padahal tak ada seorangpun yang berada di hadapannya. Tentu saja sang mama semakin merasa curiga jika kedatangan Adinda di rumah mereka telah membuat Putra kutubnya mulai mencairkan es yang meleleh ke mana-mana.
“Kamu nggak kerja, Nak?” tanya Nyonya Ramindra yang sedang berjalan meletakkan koran pagi ke atas meja.
Akram menoleh memberikan senyuman diiringi kedua alis yang naik turun, “Gimana menurut Mama penampilanku, udah ok belum?”
Nyonya ramindra mengernyitkan dahi, merasa bingung dengan pertanyaan Sang putra padahal selama ini duda satu anak itu sama sekali tak pernah mempertanyakan soal penampilan tentang dirinya. ‘Apa anakku kesambet ya atau semalam mimpi kejatuhan Bidadari?’ batin Nyonya Ramindra di dalam hati.
“Mama ditanya kok malah diem aja? Emangnya Mama nggak mau kalau anakmu yang udah duda selama dua tahun lebih ini dilirik lagi sama perempuan lain? Atau Mama lebih kepengen kalau Akram menduda sampai berkarat?” Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya seolah-olah sedang bicara pada orang lain.
Huft!
Sang Mama bukannya menjawab tapi malah menghembuskan nafas ke udara begitu kasar, seolah-olah pertanyaan putranya barusan merupakan sesuatu yang tidak masuk akal dan akan menjadi beban tambahan di kepalanya yang sudah mulai merasa lelah.
__ADS_1
“Sejak kapan kamu mulai mau memikirkan tentang perempuan, hem? Bukannya mama sudah sering membuatkan kencan buta untukmu? Kamu jangan pura-pura amnesia, Akram? Bahkan sepertinya mama sudah menyodorkan lebih dari 20 orang gadis perawan untuk menjadi Ibu sambung putrimu dan kamu selalu memiliki alasan untuk menolaknya! Mama sudah merasa capek mendengarnya.” Wanita paruh baya itu meninggalkan Akram yang hanya nyindir kuda dengan jari menggaruk kepala.
“Itu kan dulu, Ma. Kalau sekarang udah beda, Gimana kalau mama jodohin Akram dengan Bundanya Caca?” pria itu mengikuti sang mama menuju ruang makan karena mereka sebentar lagi akan melakukan sarapan pagi.
Sontak saja mendengar kalimat yang diucapkan putranya itu membuat Nyonya Ramindra menghentikan langkahnya, membalikkan tubuh dan menatap tajam wajah sang duda beranak satu.
“Jangan bilang kamu jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap istri orang! Adinda kan yang kamu anggap sebagai Bundanya Caca itu?” Nyonya Ramindra menyipitkan kedua mata seolah menyelidik, jika apa yang ada di dalam pikirannya semenjak bertemu dengan korban yang ditabrak putranya itu, dia melihat dan bisa merasakan kalau Akram seperti anak remaja yang sedang mengalami fase Pubertas.
Akram tidak menjawab, pria itu mengedikkan kedua bahu dan berlalu melewati mamanya, dasar duda tak punya akhlak! Kedua bola matanya bahkan melebar sempurna diiringi senyum merekah, seketika kaki jenjang dan panjang miliknya semakin melangkah cepat setelah melihat dua perempuan beda generasi sedang bercengkrama ria di meja makan.
“Holeee, Caca anak pintal.”
Muach!
Muach!
__ADS_1
“Bunda juga pinta; dan Caca makin cayang cama Bunda!” semangat anak itu sembari mengalungkan kedua tangan di leher Adinda.
Akram iri melihat sang putri memberikan kecupan singkat di pipi kiri dan kanan Adinda, membuat pria yang tanpa dua perempuan itu sadari sedang berdiri mengerucutkan bibir karena Caca jarang sekali memperlakukannya dengan manja seperti itu.
Ekhem!
“Selamat pagi, Adinda. Bagaimana tidurmu semalam?” Akram bertanya dengan raut muka kembali pada mode aslinya seperti Kanebo kering, kaku dan datar.
Adinda menoleh dan melihat Akram yang sedang menarik salah satu kursi persis di hadapannya, “Alhamdulillah tidur saya sama sekali tak terganggu dengan kehadiran Caca,” jawabnya singkat.
“Oh ya Tuan, saya mau mengucapkan terima kasih sekali lagi karena sudah menampung saya tinggal di sini tapi sepertinya kurang etis jika saya berlama-lama tinggal di rumah Anda. Jadi saya ingin berpamitan karena Ins yaa Allah, nanti siang saya akan pulang ke rumah suami saya lagi,” ucapnya dengan mengembangkan senyum ramah.
‘Karena aku harus menyelesaikan urusanku dengan Mas Reza sesuai dengan kesepakatan yang pernah kami tanda tangani berdua,’ lanjutnya di dalam hati.
Namun, Akram memperlihatkan raut wajah yang berubah. “Saya tidak setuju!”
__ADS_1
Semoga semua yang membaca sudi meluangkan waktu untuk memberikan like dan komentar, ya ... trimakasih. Ope-lope buat yang udah setia nunggu up detannya.