
Sekarang Adinda sudah berada di atas teras berhadapan dengan pintu yang menjelang tinggi berwarna coklat dari kayu jati asli, membuka pintu itu yang ternyata masih terkunci. Adinda ingat sekali kalau dirinya memiliki kunci cadangan yang sengaja ia letakkan di bawah salah satu pot bunga yang tersusun rapi menghiasi teras rumah mereka. Gadis itu dengan cepat melangkahkan kaki ke sana, mengambil kunci itu setelah menyerahkan Caca pada Papanya kan ada di situ tidak ingin si kecil terbangun.
“Alhamdulillah ternyata kuncinya masih ada di sini,” ucap Gadis itu sambil mengangkat kunci ke udara lalu kembali melangkah ke arah pintu dan membukanya.
Ceklek!
Pintu terbuka, Adinda pun mempersilahkan sang mertua dan Akram untuk masuk ke dalam serta duduk di ruang tamu walau Gadis itu sempat memejamkan mata saat melihat kondisi rumah yang sangat berantakan.
“Sepertinya Mas Reza belum bangun, biar aku naik ke atas untuk membangunkannya!” ucap Adinda meninggalkan tamunya tetapi dengan cepat Ibu Suryo ikut menimpali dan berdiri, “Mama akan ikut denganmu!”
Kedua wanita beda generasi itu naik ke lantai dua karena memang kamar utamanya berada di atas sana. Sebenarnya Adinda sedikit merasa was-was karena takut sang mertua mengetahui kalau dirinya dan Reza selama ini belum pernah tidur sekamar sekali pun, lebih tepatnya belum pernah menghabiskan malam dengan satu ranjang bersama.
__ADS_1
“Loh Ma, kok di depan pintu kamar Mas Reza ada sendal perempuan?” tanya Adinda dengan dahi yang berkerut. Bagaimana mungkin pria yang masih berstatus suaminya itu membawa seorang wanita ke atas ranjang tanpa ada ikatan apa pun, padahal dirinya sendiri tak pernah ingin disentuh Reza. Lelaki itu selalu mengatakan kalau Adinda tak layak untuknya, mungkin inilah pembuktian atas pernikahan yang salah dari awal.
Tubuh ibu Suryo jadi bergetar saat tangannya sudah memegang panel pintu. Ada kecemasan yang meronta di dalam jiwanya sebagai seorang wanita dan ada rasa takut jika apa yang ada di dalam kepalanya saat ini akan menjadi kenyataan.
Ceklek!
Ibu Suryo membuka pintu dengan lebar hingga Adinda langsung bisa melihat apa yang sedang dua manusia beda jenis itu di dalam sana. Tidur dengan saling berpelukan tanpa mengenakan kain sehelai benang pun.
“REZAA!!!” pekik Ibu Suryo dengan nada tinggi hingga membuat Pak Suryo yang tadi sedang mengobrol dengan Akram jadi ikutan menaiki undakan anak tangga untuk melihat apa yang sedang terjadi.
“Maaf Ma, aku harap mama tak lagi mempertahankan rumah tanggaku bersama Mas Reza. Aku baru saja berniat untuk pulang ke rumah ini dan minta tolong sama mama sebagai penengah untuk menyelesaikan masalah yang terjadi antara kami tapi lihatlah anakmu! Demi Allah aku tak ridho untuk melanjutkan pernikahan ini!” Adinda melangkah pergi meninggalkan kamar itu dengan tetesan air mata yang menganak sungai di kedua pipinya.
__ADS_1
Gadis itu bahkan lupa kalau ada Akram yang tadi ikut naik menuju kamar utama, menyaksikan bekas adegan pertempuran sepasang manusia yang baru saja melakukan proses produksi pembuatan bayi. Gadis itu terlalu sakit dan terluka melihat kenyataan yang ada hingga dirinya masuk ke dalam kamar yang ada di lantai bawah untuk mengambil dokumen-dokumen yang diperlukannya di pengadilan demi proses perceraian.
Adinda merasa sudah waktunya ia pergi dari sini, mengambil koper dan meraih daun pintu lemari serta memasukkan seluruh pakaian yang ia miliki ke dalam koper berukuran besar, karena memang dirinya waktu itu sudah bersiap untuk tetap melanjutkan kuliah walau Reza telah menikahinya.
Adinda merapikan pakaian-pakaian itu sembari menangis terisak hingga tanpa menyadari, sosok Akram sudah kembali berdiri di ambang pintu kamarnya. Ingin sekali rasanya pria itu memberikan pelukan hangat untuk menenangkan Adinda tetapi dia sadar akan posisi dirinya yang bukan siapa-siapa.
“Bunda kenapa nanyih? Telus kenapa tadi papa mukul olang di atas cana?” tanya gadis kecil itu dengan begitu lugunya lalu meronta agar Akram menurunkan tubuhnya hingga Gadis itu lari dan menghambur ke dalam pelukan Adinda.
“Caca cayang cama Bunda, jadi Bunda ndak boleh nanyih lagi!” lanjut gadis itu disela dekapan Adinda.
“Nggak sayang, Bunda nggak nangis! Ini Bunda hanya sedikit kelilipan karena debu yang ada di dalam lemari,” alibi Gadis itu membuat alasan agar si kecil tidak kepikiran.
__ADS_1
Akram akhirnya masuk memberanikan diri untuk membantu perempuan itu membereskan apa yang ingin dibawanya, “untuk sementara waktu kamu bisa tinggal di rumah saya lagi! Atau kalau kamu keberatan, saya bisa memberikan apartemen yang selama ini tak pernah terpakai. Anggap saja Itu hadiah dari saya sebagai Papanya Caca karena kamu telah membuat anak saya begitu bahagia!”
“Adinda itu masih sah sebagai istri saya jadi kau tak berhak membawanya, Tuan Akram!”