Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 96


__ADS_3

“Saya mohon jangan pergi ... apa yang harus saya lakukan supaya kamu tak pergi dari rumah ini?” tanya Akram dengan tatapan penuh harap.


Akram bahkan mengubah nada suaranya menjadi jauh lebih lembut agar perempuan yang sekarang sedang berusaha ia bujuk tak jadi pergi meninggalkan rumahnya. Entah kenapa ada salah satu titik di dalam relung hatinya berucap begitu lantang, jika jiwa nya tak ingin ditinggalkan oleh Adinda.


‘Ada apa denganku? Apakah ini yang dinamakan dengan jatuh cinta atau aku hanya sudah terbiasa dengan kehadirannya di rumah ini? Aku sudah terbiasa melihat wajah teduhnya setiap pulang bekerja bahkan aku selalu rindu pandangan kedua matanya. Apakah aku benar-benar telah menjatuhkan pilihan sebagai pengganti Bundanya Caca?’ Hatinya bertanya dengan bingung.

__ADS_1


Akram sungguh tak tahu jawabannya karena memang pria itu selama ini tak pernah peduli dengan apapun yang terjadi pada Adinda, ditambah lagi gengsinya yang terlalu tinggi untuk mengakui sebuah perasaan. Namun, ng lelaki itu sangat menyadari jika dirinya sungguh merasa tidak nyaman saat Adinda pulang ke kampung halamannya dan itu membuatnya kembali terima, kalau ternyata duda satu anak tersebut merasa sangat kehilangan dan selalu memikirkan perempuan itu ketika Adinda jauh darinya.


“Tolong katakan apa yang kau inginkan agar saya bisa melakukan sesuai dengan perintahmu!” pinta Akram lagi mengulang pertanyaan yang sama agar sang pengasuh putrinya itu mau berbaik hati untuk mengabulkan keinginannya.


Akram benar-benar merasa ketakutan jika Adinda pergi meninggalkan rumah mereka. Lelaki itu sungguh bisa merasakan bagaimana sakitnya kehilangan karena dirinya pernah merasakan kehilangan wanita yang teramat ia cintai untuk selama-lamanya, dan ia tak mau kejadian itu kembali terulang dengan kepergian Adinda kali ini. Cukuplah dirinya sekali merasakan kehilangan wanita yang telah melahirkan Caca dan tidak ingin kehilangan Adinda juga, ‘aku harus bisa menekan egoku yang terlalu tinggi demi menghilangkan rasa sepi!’ dekatnya di dalam hati.

__ADS_1


Jangankan sebuah hubungan, berbicara secara baik-baik saja duda satu anak itu selalu hanya memperdengarkan nada suara yang menyebalkan.


“Maaf, sepertinya keputusan saya sudah bulat karena anda melakukan semua ini pasti dipaksa oleh nyonya Ramindra, jadi katakan saja pada nyonya besar jika saya memang sudah tak sanggup lagi bekerja di rumah ini,” sahut Adinda dengan sengaja menundukkan wajah karena tak sanggup melihat raut muka sendu dengan tatapan terluka yang saat ini dipancarkan kedua bola mata tuannya.


“Bagaimana kalau sebenarnya bukan mama yang memaksa saya melakukan semua ini, tapi saya sendirilah yang tak ingin kamu pergi dari rumah ini meninggalkan saya? Maafkan seluruh ucapan saya yang selalu menyakiti hatimu, Adinda … karena sebenarnya semua itu saya lakukan untuk menutupi perasaan saya sama kamu, saya tak ingin kehilanganmu dan tak ingin kamu tinggalkan!” Akram memberanikan diri mengangkat dagu Adinda dan menyentuh salah satu pipi sang janda perawan dengan mengelusnya pelan.

__ADS_1


Hal itu membuat sepasang manusia yang berbeda jenis menjadi saling beradu pandang.


“Saya mencintaimu, Adinda!”


__ADS_2