
Assalamu’alaikum, Uni minta maaf episode terakhir sebelumnya kemarin ternyata ada sesuatu yang tidak seharusnya di-update karena beberapa paragraf terakhir itu rupanya kesalahan si kecil yang buka laptop uni kwkwkwk. Alhamdulillah udah uni revisi.
***
Nyonya Ramindra yang menyaksikan keakraban dua manusia beda usia itu merasa sangat terharu. Adinda sudah seperti ibu kandung dari cucunya sendiri. Begitu pun Akram yang juga bisa melihat ketulusan dari mantan istri Reza itu pada putrinya.
Akram yakin kalau kali ini perasaannya tak salah setelah merasa cemas saat tau Adinda kenapa-napa, dirinya langsung merasa panik sendiri. Padahal jelas-jelas perempuan tidak punya hubungan apa pun dengannya, melainkan hanya seorang janda dari lelaki yang sering disebutnya sebagai sampah.
Akram juga menyadari, ada sesuatu yang terasa sakit ketika melihat Adinda berbicara lagi dengan lelaki yang dia sebut sebagai suami, sebelum perempuan itu ditalak sama Reza Madani. Bukankah itu pertanda kalau ada sesuatu yang terjadi di dalam hatinya? Apa mungkin dirinya kembali jatuh cinta? Entahlah, lelaki itu tak mau mengakui terlalu dini perasaan yang sedang menerpa jiwa.
“Sekarang Caca langsung mandi sama bunda, ya?” ajak Adinda setelah si kecil merasa tenang dalam pelukannya.
Akram memperhatikan interaksi antara putrinya dan Adinda sang calon pengasuh yang jelas-jelas sudah dipanggil Bunda oleh anaknya.
“Iya, Bunda. Caca mau mandi cama Bunda cambil main bebek walna kuning yang bunyinya kwek-kwek, kwek-kwek itu ya!” pinta Caca manja.
Gadis kecil itu menunjuk perlengkapan mainan mandinya yang bisa dimasukkan ke dalam bathtub.
__ADS_1
“Nanti Caca mau mandi cama bunda cambil cembul-cembul ail telus main ciplat-ciplat buca,” celoteh Caca dengan gembira.
Mendengar celotehan si kecil sontak saja membuat Adinda tak tahan merasa gemas, lalu mencubit kedua pipi gembul Caca serta mendaratkan kecupan di sana bertubi-tubi, “Caca emang anak yang pintar banget! Bunda makin sayang deh sama Caca, nanti habis mandi kita sarapan bersama, tadi Bunda udah bikin sandwich spesial untuk Caca yang cantik dan juga imut,” ucap Adinda memposisikan dirinya saat ini benar-benar seperti seorang ibu buat gadis mungil yang memanggilnya Bunda.
“Mau mau mau cendiwik,” sahut Caca yang belum bisa mengucapkan kata sandwich dan tingkah Caca barusan sontak membuat nyonya Ramindra terkekeh kecil, merasa senang sekaligus bahagia bercampur jadi satu saat melihat kedekatan seorang mantan istri Reza Madani dengan cucunya.
‘Ya Allah … hamba tak pernah tahu bagaimana kehidupan rumah tangga Adinda dengan suaminya sebelum bertemu dengan keluarga kami tapi di mata hamba, dia sudah bisa menjadi seorang menantu idaman di rumah ini.’ Batin nyonya Ramindra berkata penuh harap, kalau Adinda suatu saat nanti bisa menjadi menantunya, ibu sambung Caca dan menjadi Nyonya muda di rumahnya, walau mungkin itu sangat sulit untuk terwujud jika Adinda tak mau menerima anaknya yang terlalu banyak punya kekurangan.
“Caca mandinya sama Neni aja ya. Soalnya Bunda udah capek tadi masakin sarapan yang banyak untuk Caca, juga buat Oma dan papa,” terang babysitter alias pengasuh Caca sebelumnya.
“Atau gimana kalau Caca mandi sama Papa aja, setelah mandi kita sarapan terus jalan-jalan ke mall main di Timezone sama Bunda, mau nggak?” bujuk Akram yang memiliki modus tertentu di dalam pikirannya, mengajak Sang Putri berjalan-jalan ke supermarket hanyalah salah satu cara agar dirinya bisa lebih dekat dengan Adinda.
“Mauuuu!!! Caca mau mandi sama Papa ajahh, bial nanti bica beyi boneka di maketmaket. Telus main tembak-tembak dan bayap mubil, ngeeeng-ngeeeng!” sahut gadis kecil itu penuh ceria dan semangat 45.
Saking senangnya mendengar ajakan sang papa, Putri kecil yang selalu dimanjakan itu memperagakan bagaimana cara main di Timezone ketika menaiki sebuah motor balap dan itu sungguh sangat terlihat menggemaskan dan lucu di mata Adinda.
Hanya saja tunggu dulu, ‘kenapa perasaanku kok nggak enak ya dengan perkataan Tuan Akram barusan yang mengajak putrinya sama Bunda?’ batin Adinda baru tersadarkan jika Akram bukan mengajak baby sitter putrinya tapi mengajak Bunda? Bukankah orang yang dipanggil Bunda itu adalah dirinya sendiri?
__ADS_1
Adinda menoleh pada sosok yang sudah terlihat tampan menjulang tinggi berdiri tak jauh dari posisinya berdiri, lalu berjongkok menyetarakan tubuhnya dengan sang putri. Akram menggendong Caca keluar dari kamar Adinda sembari bercengkrama dengan putrinya.
“Kalau tuan Akram bisa membujuk putrinya sendiri, kenapa teh Neni tadi menyuruh pelayan untuk memanggilku?” heran Adinda menyelidik wajah Neni yang malah terlihat bingung.
Wanita yang menjadi baby sitter dari Caca tersebut mengerutkan dahi karena dia memang tak ada meminta Adinda untuk membujuk Caca.
“Maaf Bundanya non Caca, tapi Neni nggak ada nyuruh pelayan manggil Neng Dinda, kok aneh banget ya?” Baby sitter itu malah semakin merasa bingung karena dia merasa tak pernah menyuruh pelayan untuk memanggil Adinda.
Sang baby sitter memang memanggil Adinda dengan sebutan Eneng, karena Neni sendiri berasal dari Sunda – Jawa Barat.
“Tadi sebenarnya Tuan Akram udah ada di sini tapi balik lagi ke kamarnya, saya nggak tahu beliau mau ngapain ke kamar Non Caca?” beritahu Neni menimbulkan sebuah kesimpulan di dalam kepala Adinda.
‘Hem … Tuan Akram sepertinya sedang merencanakan sesuatu, dasar duda aneh!’ pikir Adinda di dalam hati yang langsung mengambil pakaian gantinya dan berlalu ke dalam kamar mandi, setelah tadi berjibaku di dapur sendiri untuk membuat sarapan pagi buat seluruh penghuni rumah.
Beberapa menit kemudian, Gadis itu telah selesai mandi, bau segar menguar di dalam kamar. Pagi ini Adinda mengenakan jilbab warna peach dengan gamis santai berwarna senada.
“Bundaa … Caca udah ucai calapan. Papa biyang kita mau main ke lual cama-cama. Ayo Bunda, kita halus cepat makan, bial Papa ndak ucah ke kantor ninggalin Caca.”
__ADS_1