
“Caca …! Jangan ganggu Papa dulu ya! Soalnya papa lagi sakit, sayang,” bujuk Adinda yang sedikit berlari menyusul Putri asuhnya. Adinda hanya tidak ingin gadis kecil itu membuat kepala sang Tuan arogan semakin bertambah pusing dan imbasnya bisa saja berdampak kemana-mana, termasuk bakal memarahinya.
Caca tidak mau berada di gendongan Adinda, gadis kecil itu terus saja meronta hendak turun ingin melihat keadaan Papanya. “Papa! Papa! Caca mau cama papaa, tulun, Bunda, tulun!” rengek bocah itu meminta dengan merentangkan kedua tangan hendak digendong sama Akram.
Akram yang sedang melawan rasa panas di kedua pelipisnya benar-benar tidak tega melihat Sang Putri merengek sembari mulai mengeluarkan air mata hanya ingin berada di dekatnya, tetapi jika pria itu langsung duduk dan meraih Caca ke dalam pangkuannya, tentu saja semua yang ia lakukan akan berujung sia-sia karena orang yanga ada di kamarnya itu akan mencurigainya.
__ADS_1
“Turunkan saja, Dinda! Biarkan saja Caca untuk mendekati Papanya” titah nyonya Ramindra.
Gadis itu pun akhirnya mengikuti saja perintah dari sang nyonya besar. Menurunkan Caca dan membiarkan bocah itu berusaha naik ke atas ranjang King size milik Papanya tapi gadis imut itu selalu saja jatuh dan kembali akan terjatuh karena kakinya yang masih teramat pendek. Adinda pun akhirnya memutuskan untuk membantu si kecil naik ke atas ranjang milik tuannya dan menyaksikan bagaimana cemasnya seorang bocah terhadap apa yang terjadi pada papanya, padahal sebenarnya saat ini Akram hanyalah berbuat dusta demi sebuah kata yang bernama modus.
“Papa cakit apa? Caca nanti mau jadi doktel bial bica bantu Papa nggak cakit-cakit lagi,” ucap si kecil terdengar begitu sangat lucu dan menggemaskan hingga membuat Adinda mengembangkan senyum saat mendengarnya.
__ADS_1
‘Ternyata ini benar-benar terasa sangat panas, pantas saja tadi Mama mengatakan kalau koyo cabe bisa saja membuat kulit menjadi gosong, karena sekarang pun rasanya kedua pelipis ku seolah-olah sedang dibakar api saja!’ Sesal Akbar di dalam hati karena tadi tidak mau mendengarkan ucapan sang mama dan malah menuruti egonya yang begitu tinggi untuk sekedar menjalankan alur sandiwara yang telah dilakukan sama sang asisten.
‘Ini semua gara-gara ide gilanya si Roland, coba tadi dia tidak mengatakan kalau aku sedang pusing? Pasti aku sama sekali tak perlu melakukan ini semua, tapi diingat-ingat lagi Roland tak ada menyuruhku menempelkan koyo segala?’ batin Akram kembali mengingat-ingat Jika semua ini hanya ide gilanya sendiri tanpa suruhan sang asisten karena waktu itu Roland hanya membantunya sekedar mengatakan kalau kepalanya sedang sakit agar Adinda bisa cepat pulang dengan Caca.
“Papa belkelingat. Kata Oma, olang kelingat itu tandanya cehat, belalti cekalang Papa udah cehat ya?” Bocah itu kembali bersuara karena sejak tadi sang papa sama sekali tidak menggubris semua yang ia ucapkan, bahkan Nyonya Ramindra memperhatikan sejak tadi interaksi Sang putra dengan cucunya yang terlihat begitu janggal.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu hafal benar, bagaimana sifat putranya yang tidak akan mungkin bisa sakit dengan begitu mudah.
“Akram … Bagaimana kalau sekarang kita ke rumah sakit saja untuk mengetahui sakit apa yang sebenarnya sedang kamu derita, nak? Lihatlah, keringatmu keluar sebesar biji jagung!”