
Saat Adinda baru saja menginjakkan kaki di atas teras rumah, tiba-tiba saja suara bariton yang sangat familiar di telinga memanggil namanya. .
"Adinda!"
Adinda langsung membalikkan tubuhnya melihat seseorang yang baru saja memanggil namanya, bersamaan dengan sang Bunda yang baru saja keluar dari rumah.
"Loh loh loh kok berjauhan gitu jalannya? Adinda, kenapa kamu mendahului suamimu, Nak?” tanya Bunda Hanum merasa heran melihat anak dan menantunya seperti orang yang sedang bermusuhan.
Namun, wanita paruh baya itu melihat mobil Reza terparkir di depan rumah, membuat hati Bunda Hanum merasa lega karena mengira pasangan suami istri itu memang pulang bersama ke rumahnya. Dia sama sekali tidak mengetahui kalau sebenarnya Sang Putri telah dikhianati bahkan untuk kesekian kalinya.
“Assalamu’alaikum, Bund. Bagaimana kabar Bunda selama kita tak bertemu? Aku kangen banget sama Bunda dan Kak Aisyah,” ucap Adinda yang sedang berpelukan dengan wanita yang telah melahirkannya ke dunia.
Ingin sekali rasanya Adinda mengadu dan menyampaikan keluh kesah yang sudah beberapa hari ini dia tahan sendirian karena merasa tidak memiliki orang yang pas tempat menceritakan kesedihan. Namun lihatlah ke belakang, Si Biang masalah tiba-tiba saja ikut datang dadakan hingga membuat pikiran Adinda merasa semakin kesal.
__ADS_1
“Wa’alaikumussalam warahmatullah, bunda baik, Sayang. Tumben kamu ini pulang sama suamimu nggak bilang dulu, toh? Coba kalau kamu ngomong, bunda pasti akan memasak semua makanan kesuakaanmu,” balas bunda Hanum merasa haru bahagia karena ini merupakan pertama kalinya sang menantu datang ke rumah nya. Beruntung, sehari setelah pernikahan putrinya dengan sang anak majikan, rumah mereka langsung di renovasi menjadi jauh lebih besar dan bukan semi permanen lagi, Jadi bunda Hanum tidak perlu merasa rendah diri dengan keadaan rumah yang sebelumnya.
Sekarang rumah bunda Hanum sudah terlihat mewah dibandingkan rumah warga sekitar, bahkan di depan bagian samping rumah sudah berdiri ruko yang belum selesai pembangunannya. Sepertinya Pak Suryo benar-benar menepari janjinya.
Reza mendekat dengan senyum mengembang, pria itu sangat yakin kalau Adinda tidak akan berani membuat bundanya sedih dengan sengaja mnegtakan tentang masalah rumah tangga keduanya yang sedang berada di ambang kehancuran.
“Sehat, Bunda?” tanya Reza berbasa basi.
“Bunda, masa iya masih memanggilku dengan sebutan Den? Aku ini menantumu sekarang, jadi tolong panggil nama saja, nanti malu loh kalau sampai ada tetangga yang mendengar,” canda Reza yang membuat Bunda Hanum tersenyum lebar karena tidak menyangka jika ternyata sang menantu pandai bergurau juga, padahal selama ini lelaki tampan itu terlalu jauh untuk bergaul dengan para pelayan yang selalu dianggapnya rendah serta dipandang sebelah mata.
“Susah mengubahnya, Den Reza … Eh Nak Riza, maklum bunda udah tua!” kekeh Bunda Hanum yang masih tersenyum merasa bahagia karena ternyata anak dan menantunya baik-baik saja.
“Ayo kita masuk, Nak Reza,” ajak Bunda Hanum yang menggandeng tangan Reza dan malah meninggalkan Adinda di belakangnya seolah-olah Reza lah yang telah menjadi anak kandungnya sekarang.
__ADS_1
“Bunda apa-apaan sih, yang anak Bunda itu Adinda, Bukan dia!” rungut Adinda dengan nada kesal dan tangan yang terkepal.
Sebenarnya Adinda ingin sekali melampiaskan kemarahannya terhadap lelaki sok imut dan sok gaya di depan Bundanya, padahal jelas-jelas saat ini hubungan keduanya dalam keadaan sedang berantakan gara-gara penghianatan yang dilakukan Reza dengan sekretarisnya sendiri bernama Kamila.
“Astagfirullah, kamu ini cemburu ya, sama Nak Reza?” tanya Bunda Hanum dengan sengaja menggoda putrinya.
“Ngapain harus cemburu segala sama lelaki kayak dia! Bunda nggak usah terlalu baik sama anak nya Pak Suryo itu, karena nanti Bunda akan sangat kecewa setelah tahu sifat aslinya!” ketus Adinda dengan wajah sinis menatap tajam wajah lelaki yang masih menggandeng mertuanya.
Adinda sama sekali tidak peduli dengan raut bingung bundanya. Gadis itu berlalu melewati tubuh Sang Bunda, serta lelaki yang masih berstatus suaminya untuk masuk ke dalam rumah dengan kedua kaki yang dihentak-hentakkan sebagai pelampiasan rasa marah.
Mendengar perkataan Sang Putri membuat Bunda Hanum menghentikan langkah kakinya.
“Apakah nak Reza rasanya masih bisa menyelesaikan masalah dengan Adinda? Jika kalian memaksakan diri maka kalian berdua akan sama-sama tersiksa!”
__ADS_1