
Aaghh!
Pekikan Adinda tentu saja membuat nyonya Ramindra yang memang mengawasi kelakuan nakal putranya, langsung terlonjak kaget di luar kamar. Antena waspada langsung saja membuat kedua kuping wanita paruh baya itu bergerak cepat, dan dengan sigap dirinya melangkahkan kaki begitu lebar menuju kamar Adinda untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh putranya.
“Apa lagi yang dilakukan anakku, ya tuhan … jangan sampai dia semakin menjadi brutal sama Adinda. Disuruh minta maaf aja kok sampai Adinda menjerit kayak begitu?” monolog Nyonya Ramindra yang ingin sekali dengan cepat sampai di kamar Adinda untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Wanita paruh baya itu melangkahkan kakinya begitu cepat menuju kamar Adinda karena tak ingin terjadi sesuatu pada sang janda sebab bagaimanapun juga, sebagai seorang ibu dirinya sangat hafal karakter sang putra yang bisa melakukan apa saja ketika temperamennya sedang bermasalah, apalagi Akram memang terkenal sebagai lelaki yang sangat arogan. Saat dirinya ingin membuka daun pintu, telinga Nyonya Ramindra sama sekali tak bisa mencuri dengar apa yang mereka kerjakan dan juga bicarakan di dalam kamar.
“Diterobos gak ya, tapi suara Adinda sudah tak terdengar lagi. Jangan-jangan akan berbuat nekat untuk menghamili Adinda? Oh Tuhan Apa yang harus kulakukan sekarang?” Wanita paruh baya itu mondar-mandir di depan kamar Adinda. Pikirannya mulai terbang ke mana-mana, mengingat sang putra yang sudah sangat lama ditinggal pergi oleh almarhumah istrinya. Bukankah itu sangat berbahaya untuk Adinda?
__ADS_1
‘Tapi kalau misalnya aku menerobos ternyata mereka sedang anu … aduh, bagaimana ini? Aku tak mungkin membuat anakku sendiri semakin merasa malu di depan Adinda tapi aku juga takut terjadi sesuatu yang iya-iya dengan mereka berdua di dalam sana.’ Dirinya kembali merasa bingung antara ingin membuka pintu atau membiarkan serta memberikan kesempatan kepada putranya menyampaikan segala rasa yang selama ini sengaja disimpan Akram tapi diketahui oleh mamanya.
Ceklek!
Akhirnya wanita paruh baya itu membuka daun pintu kamar Adinda dengan sangat perlahan sehingga suara terbukanya pintu itu sama sekali tidak disadari oleh dua manusia yang saat ini sedang sibuk saling pandang.
Nyonya Ramindra merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh putranya setelah mendengar permintaan Adinda.
‘Kalau kamu melepaskan adiknya begitu saja, Berarti kamu memang anakku yang sangat bodohh! Harusnya Sekaranglah kamu mengungkapkan perasaanmu dengan secara baik agar Adinda tak jadi pergi dari rumah kita! Cepat katakan, anakku karena kamu layak mendapatkan wanita baik seperti Adinda!’ seru nyonya Ramindra bersorak heboh di dalam hati, merasa gemas dengan sang putra yang terlihat masih saja diam dengan kedua tangan tetap melingkar di punggung Adinda.
__ADS_1
Ingin sekali rasanya sang Mama membantu putranya untuk bicara tapi itu tak mungkin iya lakukan.
Melihat adegan yang ada di atas lantai kamar Adinda yang mungkin akan terjadi sesuatu yang privasi, membuat Nyonya Ramindra tersenyum senang, sehingga wanita paruh baya itu bukannya memarahi putranya tapi malah secara perlahan-lahan kembali menutup pintu.
‘Aku akan membiarkan mereka seperti itu saja dan nanti akan memaksa Akram untuk menceritakan apa yang terjadi selanjutnya,’ batin sang nyonya dengan senyum di bibir, melangkah pergi meninggalkan kamar Adinda. Dia sangat yakin kalau Adinda bukanlah perempuan murahan yang akan begitu mudah memberikan tubuh pada Putra arogannya. Wanita itu begitu percaya karena Adinda pasti bisa menjaga diri dan juga menjaga martabatnya sendiri.
Adinda menelan salivanya berat dengan mata melotot tajam saat tubuhnya sekarang sedang berada persis di atas tubuh Akram. Entah apa yang harus dilakukan selanjutnya karena saat ini ada debaran aneh yang sedang menyerang jiwanyanya.
“Bagaimana kalau saya tak mau melepaskanmu?”
__ADS_1