Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 80. Cemburu Berlebihan


__ADS_3

Akram merasa tidak punya cara untuk mendekati ketiga manusia yang terlihat begitu ceria sembari minum air kelapa muda. Dirinya merasa benar-benar kesal melihat mereka bertiga seperti keluarga kecil yang sangat bahagia. Tangan pria itu mengepal saat melihat Romeo tiba-tiba saja mendekati Adinda lalu membisikkan sesuatu entah apa yang sahabatnya katakan.


Akram meraih ponselnya, mencari nama Roland dan kembali menghubungi asistennya.


“Bawa putriku pulang dari pantai sekarang juga dan lakukan dengan baik!” titahnya lewat telepon tanpa ingin tau entah apa yang sedang dilakukan lelaki itu sekarang.


Sedangkan Roland hanya bisa mengumpat kesal mengingat perintah atasannya. Hari ini Akram memerintah dirinya sesuka hati di luar logika dan sekarang sang atasan menyuruh dirinya melakukan hal yang jauh lebih konyol lagi dari pada di taman bermain tadi.


Akram kembali melihat apa saja yang sedang dilakukan ketiga orang yang sedang ia intai. Rasanya hati Akram benar-benar tidak sekuat karang yang ada di lautan hanya untuk sekedar melihat kedekatan dan keakraban mereka bak keluarga harmonis nan bahagia.

__ADS_1


“Dasar Romeo sialan, lo ternyata benar-benar ingin melihat sisi lain dari seorang Akram!” gerutu duda itu dengan wajah suram.


Tiba-tiba saja ada ide yang terlintas di dalam kepalanya melihat ke salah satu penjual minuman di areal pantai, lalu memanggil dua anak kecil yang berdiri di dekat situ serta memberikan perintah dengan cara membisikkan sesuatu ke telinga mereka.


“Lakukan seperti apa yang om katakan barusan dan jika kalian berhasil maka om akan memberikan kalian selembar lagi uang berwarna merah.


“Aman itu Om, kami akan melakukan seperti apa yang Om minta,” sahut salah seorang dari mereka.


Kedua bocah laki-laki itu tentu saja merasa sangat senang karena jarang-jarang bisa mendapatkan uang 100.000 dengan begitu mudah hanya melakukan hal kecil sesuai dengan perintah orang yang menyuruhnya. Apalagi tugas yang diperintahkan hanyalah memasukkan bubuk seperti tepung berwarna putih ke dalam wadah minuman kelapa muda laki-laki yang mengenakan celana coklat tanpa harus melakukan hal yang berbahaya karena di dalam bisikan Akram tadi, tepung itu akan membuat sahabatnya tak akan bisa berlama-lama lagi bersama Adinda

__ADS_1


Kedua bocah itu berlari ke arah yang telah diperintahkan dengan Obat pencahar berada di dalam genggaman dan tanpa dua bocah kecil itu sadari apa yang mereka lakukan bukanlah sebuah perbuatan yang baik untuk dicontoh, karena mau melakukan sesuatu tanpa mengetahui bubuk apa yang akan mereka berikan pada orang lain.


“Hai Adik kecil yang cantik, main yuk! Kita main ke tepi laut sambil mencari bintang laut yang terkapar di pantai!” ajak salah satu dari kedua anak tadi terhadap Caca yang sedang membuat rumah-rumahan dari pasir di pantai.


Caca menatap tak suka pada anak kecil yang sok akrab dengannya, “Caca lagi main pacil untuk buat lumah Bunda, hali ini cedang panas, tak boyeh main ke alah tepi laut kalena bisa cakit!” sahutnya dengan suara yang masih cadel menanggapi pertanyaan istrinya sendiri


“Om juga boleh ikut kok!” lanjut anak kecil tadi memberikan kode isyarat pada temannya yang satu lagi agar bulan mendekati gelas panjang yang berisi air kelapa muda milik laki-laki yang sedang berusaha mereka alihkan perhatiannya.


Adinda yang merasa aneh terhadap dua anak kecil lelaki itu langsung saja memberikan isyarat pada Caca agar tetap berada bersamanya. Gadis itu terlalu fokus sama Caca hingga tidak menyadari seorang anak lelaki yang berdiri di dekat meja, baru saja menaburkan bubuk pencahar ke dalam gelas Romeo.

__ADS_1


__ADS_2