Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 114


__ADS_3

Namun, betapa terkejutnya Adinda ketika pintu mobil sudah memperdengarkan suara ‘klik’ bersamaan dengan suara seseorang di ujung telepon, “Halo Non, anda berada di mana? Saya minta maaf karena baru saja sampai di supermarket.”


Deg!


Jantung Adinda terasa mau copot ketika mendengar suara yang berbeda dengan suara orang beberapa waktu lalu menghubunginya. Adinda benar-benar ketakutan luar biasa hingga ponsel yang tadi sempat masih berada di dekat telinganya, terjatuh begitu saja.


“Halo, halo Non? Apa anda masih mendengar saya?” tanya orang itu.


“Tolong saya, Pak. Saya sepertinya diculik! Tolong sayaaa,” jerit Adinda dengan wajah semakin panik tapi entah kenapa si supir taksi yang sebenarnya langsung mematikan ponselnya.


“Halo, halo pak, pak!” Adinda masih memanggil-manggil sang sopir taksi tapi sayang semuanya sudah senyap bahkan ponsel jadul milik Reno masih berada di dekat kakinya.

__ADS_1


Mata si janda langsung nyalang menatap pada pria yang hanya tersenyum samar tapi Adinda merasa familiar dengan senyum yang lebih mirip seringaian itu.


“Si-siapa Anda? Apa sebenarnya tujuan Anda menculik saya?” Adinda berusaha memperlihatkan sikap setenang mungkin dengan tatapan kebencian, lalu melepaskan kaki dari sandal yang ia kenakan untuk meraih HP yang tadi sempat terjatuh. Gadis itu berusaha melakukan senatural mungkin agar sopir taksi gadungan itu tidak mencurigai apa yang sedang ia lakukan. Adinda pun berusaha melakukan panggilan telepon pada nomor yang diberikan Reno tapi sayang panggilan pertama sama sekali tak diangkat oleh lelaki penolongnya.


Antara si supir taksi jadwal itu sama sekali tak menggubris apapun ocehan yang dilontarkan Adinda, tapi malah dengan sengaja mempercepat laju kendaraan hingga sang janda sedikit terhuyung dan membuat Adinda terjerembab ke arah depan. Namun betapa kagetnya Adinda ketika mengetahui jika wajahnya sama sekali tak sampai mengenai kursi jok bagian depan karena rupanya ada penyekat berbahan kaca yang tak bisa ditembus antara dirinya dan sang sopir taksi.


‘Pantas aja orang itu seperti tak mendengar sama sekali semua umpatanku!’ kesal Adinda di dalam hati.


‘Astagfirullah kenapa Pak Reno malah tak mengangkat teleponku … ada apa lagi ini?’ Adinda tentu saja merasa semakin bertambah gusar, bahkan wajahnya sudah terlihat memucat karena saking ketakutan menghadapi situasi yang belum pernah iya rasakan seumur hidup.


‘Siapa orang ini sebenarnya dan kemana dia akan membawaku? Ya Allah … hamba berlindung hanya pada Mu dari segala marabahaya dunia,” rintih Adinda di dalam hati sembari beristighfar dan berdo’a.

__ADS_1


Sayangnya apa pun yang ada di dalam pikiran Adinda saat ini tak bisa membuat sang supir berhenti, apalagi merasa kasihan.


Dug! Dug! Dug!


Adinda memukul dinding kaca penyekat dengan sendal yang tadi sempat dilepasnya. Namun orang itu seolah tuli dan tak bisa mendengar sama sekali.


“Toloooong!! Tolooong!” jerit Adinda sekuat tenaga tapi lelaki sang supir malah menyeringai melihat ekspresi perempuan yang telah membuatnya kalang kabut dengan berbagai macam pikiran buruk.


“Kamu malah semakin menggemaskan saja sekarang! Aku jadi ingin membingkai wajahmu dengan kedua telapak tanganku,” monolognya sambil melirik sesaat pada jok belakang, dimana Adinda terlihat menyatukan kedua telapak tangan di depan dadda dengan bibir bergerak, “Tolong, lepaskan saya!” mohon Adinda di belakangnya tapi pria itu seolah tak mengetahui apa yang sedang terjadi, bahkan bibirnya malah menyunggingkan senyum.


“Kamu semakin terlihat menggemaskan saja, apakah caraku ini salah?” monolog lagi bertanya entah pada siapa.

__ADS_1


‘Aku hanya ingin kita bersama!’ gumam lelaki itu dengan kedua bola mata sedikit berkaca karena dia mengetahui jika cara yang ia gunakan sekarang adalah cara kotor dan salah bahkan membuat perempuan yang iya sayangi mengalami ketakutan hebat.


__ADS_2