Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 50. Tamu Tak Diundang


__ADS_3

“Berdirilah, Mas! Aku yang lebih tahu bagaimana sifat bundaku sendiri karena aku lahir dari rahimnya, Mas tak perlu mengacamku dengan membawa-bawa nama bunda segala. Bukankah aku ini hanya anak pelayan yang tak sepadan denganmu dan aku sama sekali bukan seorang istri yang kamu harapkan. Jadi mari kita bercerai!” ucap Adinda dengan tegas.


Cukup sudah dirinya merasa tidak dihargai serta diselingkuhi oleh Reza, jadi tak ada kata kesempatan kedua karena itu hanya akan memberikan pada si lelaki itu untuk mengulangi perbuatan yang sama dan imbasnya tetap perasaannya yang tersakiti.


“Nggak! Aku nggak akan pernah menjatuhkan talak padamu, Adinda! Tak akan!!” teriak Reza yang mulai tersulut emosi karena sang istri bersikukuh meminta pisah dengannya.


“Ya sudah, kalau Mas gak mau menjatuhkan talak padaku maka akan ku buat palu hakim yang berbunyi untuk mensahkan perceraian kita,” sahut Dinda santai dan hendak berlalu ke luar dari kamarnya. Sayangnya langkah gadis itu terhenti saat mendengar suara Reza kembali bicara.


“Kau benar-benar tak mau mendengarkan ucapanku lagi? Apa kamu tak akan pernah menyesal jika sampai kita bercerai, karena statusmu akan berubah menjadi seorang janda yang selalu mendapatkan cemoohan dari seluruh warga. Apa itu yang kamu mau?” Reza masih berusaha untuk membujuk istrinya agar membatalkan keinginan Adinda berpisah dan meminta talak untuk segera dijatuhkan.


Namun, Gadis itu tak ingin lagi menjadi istri pajangan untuk seorang Reza, dimana dia bisa sesuka hati memperlakukannya tanpa perasaan sementara kebebasannya sebagai seorang gadis jadi terkekang. Menjadi janda bukanlah suatu dosa dan gelar janda jauh lebih terhormat daripada seorang istri diselingkuhi.

__ADS_1


“Menjadi janda jauh lebih baik dan terhormat daripada sekedar memiliki status sebagai seorang istri tapi suaminya berselingkuh dengan wanita lain! Lagian aku tidak akan merasa begitu rugi setelah bercerai denganmu karena aku sama sekali tak punya masa iddah setelah kau jatuhkan talak! Mas Reza harusnya nggak bakalan pernah lupa kan, kalau kamu tak pernah memberiku nafkah batin, jadi sampai sekarang statusku sebenarnya istri yang masih gadis!”” jawab Adinda menatap nyalang suami yang sebentar lagi akan menjadi mantan.


Riza menggeleng pelan, walau di dalam hati dia membenarkan hak sang istri yang tak pernah Ia berikan dan sekarang itu malah yang menjadi gancaran di dalam rumah tangganya.


“Aku janji akan memenuhi kewajibanku sebagai suamimu dan akan memenuhi hak lahir dan batinmu mulai detik ini juga, tapi tolong beri aku kesempatan kedua. Aku bersumpah tak akan pernah menduakanmu lagi!” Reza mengikrarkan janji untuk kesekian kali tapi hati Adinda sepertinya telah mati karena tingkah suaminya.


“Janjimu sudah terlambat, Mas Riza. Bukankah Mas sendiri tidak memiliki perasaan apa pun padaku? Jadi untuk apa pernikahan ini tetap kita pertahankan kalau hanya akan saling menyakiti, lebih baik kita berjalan di jalur masing-masing dan kita bisa sama-sama bebas untuk menentukan masa depan sendiri. Silakan Mas menikah dengan wanita yang pantas untukmu karena aku hanya seorang anak pelayan di rumahmu!” Kali ini Adinda benar-benar keluar dari kamar itu meninggalkan Reza yang masih terpaku dengan posisi yang tetap sama.


Sepertinya Reza tidak ingin mertuanya tahu jika rumah tangga dirinya dan Adinda saat ini sedang memiliki masalah besar, karena lelaki itu merasa malu untuk mengungkapnya. Apalagi di sini dialah sebagai orang yang bersalah. Pria yang telah berkhianat dan menduakan sang istri di belakang Adinda.


“Apakah kalian berdua bisa bercerita sama Bunda tentang apa sebenarnya yang terjadi? Bunda tak akan memaksa jika memang kalian berdua mampu untuk menyelesaikannya dan mendapatkan solusi yang sama-sama enak di hati,” ucap Bunda Hanum memandang secara bergantian wajah anak dan menantunya.

__ADS_1


Adinda masih bungkam karena merasa ragu untuk menceritakan tentang kepedihan yang ia takutkan sewaktu sebelum menerima tawaran pak Suryo untuk menjadikannya sebagai pengantin pengganti. Sekarang nasi sudah menjadi bubur dan dirinya sudah tak bisa menarik waktu ke arah belakang lagi.


“Dengan diamnya kalian berdua, menandakan kalau sedang ada masalah di dalam pernikahan kalian berdua. Apa ada yang ingin menceritakan sama bunda?” Hanum kembali menatap wajah anak dan menatunya yang tertunduk seolah sedang berusaha dalam merahasiakan masalahnya.


Belum sempat Adinda maupun Reza menjawab pertanyaan Bunda Hanum, tiba-tiba saja sebuah mobil sport berwarna merah menyala memasuki pekarangan rumah Adinda dan mobil itu terlihat sangat mencolok.


Deg!


Kepala Adinda terasa pusing seketika hanya dengan melihat warna merah mobil itu saja.


“Siapa lagi yang datang?” tanya bunda Hanum mulai beranjak dari tempat dduknya untuk keluar melihat tamu yang baru datang.

__ADS_1


“Itu juga tamu tak diundang, Bunda!”


__ADS_2