
Sayangnya Reza punya telinga yang tajam, “Adinda masih berstatus istri saya, jadi saya melarangnya untuk pergi bersama pria lain!”
“Oh ya, tapi saya ragu jika Anda ini adalah suami yang baik untuknya, terbukti anda tega bermain dengan sekretaris sendiri ketika istri Anda datang ke kantor! Bukankah orang awam pun bisa tahu, jika anda ini tipe pria yang tak cukup dengan satu wanita dan rela menyakiti hati istri anda hanya demi wanita lain, padahal anda sudah menikah secara sah dengan Adinda. Apakah anda pantas disebut sebagai seorang suami?” Akram benar-benar memukul telak mental Reza hingga lelaki itu bungkam tak bisa berkata apa-apa, selain rahangnya yang terlihat mengeras dengan kedua tangan yang terkepal menahan amarah.
“Stop, bertengkar! Maaf tuan Akram, saya baru sampai di rumah Bunda dan tak mungkin langsung kembali ke Jakarta. Jadi silakan Anda kembali sendiri saja,” pinta Adinda karena dia memang ingin bercerita banyak dengan bundanya.
Banyak hal yang harus ia ungkapkan pada wanita yang telah melahirkannya itu, termasuk status pernikahannya yang sama sekali tidak jelas karena Reza tidak pernah menyentuhnya sedikit pun, jadi untuk apa Adinda mempertahankan seorang suami yang sama sekali tidak mencintainya?
“Tuan Akram yang terhormat, barusan anda sudah mendengar bukan? Kalau Adinda menolak ajakan anda untuk pergi ke Jakarta Jadi silakan Anda pergi dari rumah mertua saya!” usir Reza dengan cara membebas mibaskan telapak tangannya seolah-olah seorang Akram hanyalah seekor ayam yang hendak mengganggu di rumah Adinda.
“Mas Reza juga silakan keluar dari rumah saya, karena kehadiranmu sama sekali tidak dibutuhkan di sini. Jadi silakan angkat kaki dan menunggu dengan wanitamu kehadiran surat gugatan cerai dariku!” Adinda pun memberikan perkataan yang sama terhadap lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya.
Gadis itu masuk ke dalam rumah lalu duduk di samping Bundanya yang masih setia di atas kursi sofa ruang tamu, menunggu apa yang bakal terjadi selanjutnya.
__ADS_1
“Jadi apa kamu benar-benar bekerja sama Tuan Akram tadi?” tanya Bunda Hanum pada putrinya.
“Sebenarnya Adinda itu belum sempat bekerja sama Tuan Akram, Bunda tapi memang Dinda pernah tidur di rumah beliau beberapa hari untuk memulihkan kesehatan. Maafkan Dinda, Bunda … sebenarnya Adinda member gokil langsung Mas Reza berselingkuh dengan sekretarisnya. Gara-gara hati Adinda yang terasa sakit dan berlari menyeberang tanpa melihat jalan, tanpa sengaja sopirnya Tuan Akram menabrak Dinda dan itulah awal mula perkenalan Dinda dengan Tuan Akram. Beliau punya seorang putri bernama Caca dan parahnya gadis kecil itu menganggap Dinda sebagai ibunya, makanya mamanya Tuan Akram berharap Dinda menjadi pengasuh untuk cucunya.” Adinda membeberkan segalanya terhadap wanita yang sedang mendengar curhatan tentang lika liku kehidupannya sejak menikah dengan Reza hingga terjadi kecelakaan.
“Ini hidupmu dan bunda akan mendukung apa saja yang menurutmu baik. Kamu itu masih muda jadi tak usah takut memiliki gelar menjadi janda, toh kamu ini masih terlihat cantik dan imut kok, Bunda yakin masih ada lelaki yang setia dan baik serta mau menerima keadaanmu apa adanya suatu saat nanti!” ucap Bunda Hanum menarik tubuh Sang Putri lalu memeluknya dengan rasa hiba di dalam hati dan juga sesal yang tak bertepi.
‘Andai waktu itu aku tak memaksa Adinda untuk menikah dengan nak Reza, pasti putriku takkan pernah menderita hingga sampai harus mengalami kecelakaan segala. Astagfirullah … kenapa aku malah harus menyalahkan nasib, padahal ini memang sudah takdir untuk putriku,’ gumamnya di dalam hati.
Dua lelaki tampan itu ngeyel tak mau kembali ke Jakarta tanpa Adinda. Gadis itu pun tak mau ambil pusing karena tadi setelah mandi sore hari, Adinda sudah menghubungi nyonya Ramindra dan melakukan video call bersama Caca hingga gadis kecil itu terlihat kembali tertawa setelah diberi janji oleh Adinda, kalau Caca sudah sembuh maka dia akan kembali menemui si putri kecil.
[Iya dong, sayang … syaratnya Caca harus sembuh dulu aru deh buda ke Jakarta]
[Bunda ndak boong cama Caca?] tanya si kecil membuat Adinda merasa malu karena memang niatnya sama sekali belum ada untuk kembali ke kota yang telah menorehkan luka di hatinya itu.
__ADS_1
[In syaa Allah, bunda pasti menemui Caca lagi. Jadi sekarang Caca harus mau makan yang banyak dan gak boleh cengeng ya! Nurut sama oma biar cepat sembuh dan kita bisa bertemu] lanjut Adinda dengan mata yang berkaca.
[Kalau gitu, Caca mau makan yang banyak bial bisa pulang ke lumah ketemu bunda. Babay Bunda, Caca mau makan dulu, calamikum]
Percakapannya dengan Caca sungguh berbekas membuat Gadis itu senyum-senyum sendiri ketika menyajikan hidangan untuk makan malam.
Saat makan malam, dua pria itu sama-sama memperebutkan gulai kepala ikan kakap yang ada di atas meja makan.
“Saya yang duluan ingin mengambil kepala ikan itu!” ucap Reza menarik mangkok yang berisi gulai ikan kakap.
“Tapi saya yang lebih dulu menyendoknya, jadi kepala ikan itu sudah menjadi milik saya!” Akram pun melotot tak mau kalah berdebat dengan si pria sampah.
Dinda yang melihat perdebatan dua tamu tak pernah diundangnya itu, memberikan kode pada bundanya.
__ADS_1
“Biar sama-sama adil, kepala ikan kakapnya buat bunda saja hehehe,” sela Bunda Hanum mengambil si kepala ikan kakap yang tadi sempat jadi rebutan, membuat dua pria tampan hanya bisa tersenyum masam.