Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 92


__ADS_3

“Memangnya kenapa kalau mama kayak anak kecil? Kamu aja lebih parah dari anak kecil, kalau suka sama Adinda itu bilang, Nak! Jangan kamu berpura-pura benci tapi dalam hati sebenarnya cinta! Kamu bakal menyesal kalau sampai Adinda didapatkan sama kawanmu yang polisi itu!” cerocos sang mama menasehati.


Akram terdiam, jauh di dalam lubuk hati pria itu sangat ingin sekali selalu berada di dekat Adinda tetapi mulutnya terlalu lemas seperti seorang wanita yang tak mau mengakui perasaan sendiri karena setiap kalimat yang meluncur dari bibir seksi sang duda, hanya perkataan pedas, bahkan di mata Adinda hanya ucapan yang menyebalkan dan juga menyakitkan selalu duda itu katakan.


“Mama ini gimana sih, mana ada Akram suka sama Adinda? Kalau dia mau pergi ya pergi aja! Ngapain Mama pakai acara mengancam Akram segala dengan mengikuti Adinda ke kampungnya?” Akram kembali mengeluarkan perkataan yang berlawanan dengan hatinya sendiri, padahal batinnya sudah pasti akan merasa tersiksa ketika sang pengasuh putrinya pergi untuk selama-lamanya seperti beberapa saat yang lalu. Akram seperti cacing yang kepanasan atau mungkin lebih pantas disebut seperti cacing gilla saat Adinda pergi ke kampungnya.

__ADS_1


Namun, di dalam hati lelaki itu ada rasa ketakutan sendiri jika Adinda melakukan apa yang ia ucapkan.


‘Ini tak bisa dibiarkan! Kalau Adinda pergi lagi maka aku gak bakalan bisa hidup tenang … oh Tuhan, astaga otakku, kenapa harus terpatri pada seorang pengasuh? Kenapa aku harus jatuh cinta pada janda itu? Apa aku diguna-guna sama Adinda? Masa ia sih, kan dia taat agama?’ Akram terus saja membatin di dalam hati.


“Ya sudah, Mama sangat Caca akan ikut dengan Adinda ke kampung karena kamu pun tak pernah peduli dengan perasaan kamu yang ada di dalam kepalamu itu hanya egois dan selalu bekerja, jadi mulai sekarang kamu nikmati saja hidupmu sendirian karena itu kan yang kamu harapkan?!” balas nyonya Ramindra tak ingin lagi berdebat dengan putranya yang keras kepala. Sepertinya sifat keras kepala Akram benar-benar diturunkan oleh Papanya dan itu membuat sang mama menyadari kalau dirinya akan percuma memberikan nasehat setiap hari dengan memuji jika Akram sebenarnya telah jatuh cinta sama Adinda tetapi anaknya itu terlalu gengsi untuk mengakui sehingga wanita paruh baya tersebut harus memiliki strategi agar akram dibiarkan hidup sendiri.

__ADS_1


Ingin rasanya lelaki itu menerobos masuk dan meminta maaf tetapi egonya terlalu tinggi untuk melakukan semuanya, karena menurutnya semua yang ia katakan tentang Adinda tidak menyimpan dusta ataupun sebuah kebohongan sebab memang profesi Dinda di rumahnya hanyalah sebagai seorang pengasuh, lalu di mana letak kesalahannya yang membuat sang mama memarahinya?


‘Kalau aku tak segera mengetuk pintunya, bisa-bisa si janda itu sudah mempacking semua pakaiannya dan itu tak boleh terjadi, tapi kalau aku mengetuk terlebih dahulu bisa jadi dia takkan pernah membuka pintu ini setelah mendengar suaraku, ah sialan! Apa yang harus kulakukan?’ kesal Akram yang bingung harus melakukan apa? Sementara dirinya masih berdiri mematung di depan pintu kamar Adinda.


‘Aku akan masuk saja karena aku yakin kalau Adinda tidak mengunci pintunya!’ tekad Akram di dalam hati dengan tangan yang sudah memegang knop pintu dan mulai membukanya perlahan. Namun tubuh sang duda langsug mematung kaku ketika melihat pemandangan yang belum pernah dilihatnya seumur hidup itu.

__ADS_1


Kira-kira apa yang terlihat sama Akram ya? Bagi komentar yang menarik akan dimasukkan ide itu ke dalam kkonen buku.


__ADS_2