Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 32. Selingkuh Itu Penyakit


__ADS_3

“Bagaimana, apakah kamu suka dengan kamarnya?” Akram berdiri di ambang pintu, membiarkan Adinda yang sudah duduk di atas ranjang menatap ke sekeliling kamar asing yang sama sekali bukan miliknya.


Adinda menoleh menggelengkan kepala dengan pelan, “sampai kapan Tuan akan menahan saya di sini? Saya ini seorang perempuan bersuami sangat tidak pantas berada di rumah seorang laki-laki yang punya keluarga seperti Anda. Apalagi anda ingin melupakan orang yang sangat terpandang sekaligus seorang pengusaha besar, saya nggak mau terjerat masuk ke dalam keluarga anda dan dianggap sebagai seorang perusak,” ucap Adinda dengan wajah datar tanpa ekspresi.


“Kamu bukan perusak, apalagi seorang perebut! Kamu hanya korban dan saya seorang pelaku sekaligus penyelamatmu!” Akram berjalan masuk dengan tangan kanan sengaja berada di dalam saku celananya, melangkahkan kaki menuju ke arah balkon kamar itu lalu berdiri di sisi pembatas.


“Saya juga pernah berada di posisi yang kamu rasakan sekarang.” Lelaki itu membaikkan tubuh lalu menatap perempuan yang masih setia duduk di bibir ranjang.

__ADS_1


“Saya tidak tahu apa yang telah kamu lihat tentang adegan yang dilakukan oleh suamimu dengan perempuan lain, tapi saya tak akan pernah lupa apa yang pernah saya lihat tentang adegan istri saya di atas ranjang kamar hotel dengan pria lain tanpa busana! Pasti kamu sudah bisa menembak apa yang mereka lakukan, bukan? bahkan saya melihat dengan mata kepala saya sendiri kalau Rania sangat dominan di atas tubuh lelaki itu,” lanjutnya menengadahkan wajah seolah-olah sedang berusaha agar tumpukan kaca kaca di dalam matanya tidak sampai jatuh di depan perempuan itu.


Adinda berusaha melihat ke wajah lelaki yang bernama Akram. Sepertinya ada luka yang sangat dalam sedang berusaha disembunyikan untuk memperlihatkan ketegaran.


“Kenapa Tuan menceritakan hal itu pada saya? Bukankah itu merupakan aib keluarga anda sendiri?” Adinda memperbaiki letak duduknya lalu bersandar di bagian kepala ranjang karena tiba-tiba saja punggungnya terasa keram.


“Maaf bukannya saya tidak sopan untuk bicara dengan Tuan tapi sungguh saya benar-benar ingin bersandar,” lanjutnya dengan sopan.

__ADS_1


“Saya bisa sendiri,” ucapnya singkat.


“Maaf saya tidak ada maksud untuk kurang ajar padamu, Adinda.” Akram melihat masih ada celah di ujung kaki perempuan, persis di ujung ranjang dan itu tentu saja digunakan Akram untuk duduk agar bisa lebih dekat berbicara dengan korban yang pernah ditabraknya.


“Tidak apa-apa, tuan … tapi tolong jawab pertanyaan saya tadi karena semua ini rasanya sungguh tak nyaman.” Adinda mengambil salah satu bantal lalu meletakkan di atas pangkuannya merasa kurang nyaman saja saat tatapan lelaki itu jatuh ke bagian perutnya, entah kenapa lelaki itu melakukannya.


‘Apa Tuan Akram mengira aku lagi hamil kali, ya?’ gumamnya di dalam hati ingin sekali rasanya untuk tertawa.

__ADS_1


“Saya tahu apa yang barusan saya katakan itu merupakan aib keluarga. Saya hanya ingin kamu tahu, kalau sakitnya diselingkuhi pasangan itu tidak akan pernah membuat kaki kita terputus untuk melangkah. Justru kamu harus memperlihatkan pada calon mantan suamimu itu, jika kamu bisa berjalan dengan tubuh berdiri tegak tanpa ada dia dan kamu harus membuktikan kalau kamu bisa hidup tanpa dia!” Akan menatap gadis itu dengan sedikit garis bibir yang terangkat ke atas.


“Apa kamu masih mau hidup dengan seorang suami yang suka selingkuh? Satu hal yang ingin saya ingatkan, kalau selingkuh itu adalah suatu penyakit yang akan terulang lagi jika kamu berusaha memaafkannya!”


__ADS_2