
Akram kembali lagi ke kamar di mana Adinda berada, tapi baru saja pria itu masuk, sang dokter ternyata sudah bersiap-siap untuk pergi.
“Maaf, Dokter Rahayu. Bagaimana kondisi Adinda? Apa ada sesuatu yang serius?” tanya Akram dengan mimik cemas.
“Anda tenang saja, bundanya Caca hanya kelelahan saja serta tensi darahnya yang sangat rendah. Tadi saya sudah memberikan resepnya yang bisa anda tebus di apotik,” sahut dokter itu.
“Saya juga sudah menulis resep vitamin yang bagus untuknya agar tensinya cepat normal. Kalau begitu, saya pamit dulu, permisi,” lanjut dokter itu berpamitan.
“Terima kasih banyak, Dok,” ucap akram yang duduk di sisi ranjang, persis di dekat kaki Adinda hingga wanita itu merasa risih sendiri dan menggeser letak kakinya.
__ADS_1
Akram melihat jika kertas resep yang dikatakan dokter itu ada di tangan mamanya. Pria itu pun mendekat tapi sang mama malah ikut berdiri mengikuti dokter perempuan itu. Sepertinya sang mama mau mengantarkan dokter itu hingga keluar rumah.
“Kamu makan dulu, ya? Habis itu baru minum obat, saya keluar dulu untuk menebus resep obatmu,” beritahu akram.
“Terima kasih, Tuan, maaf sudah merepotkan,” ucap Adinda merasa tak enak hati.
“Akan lebih merepotkan kalau nanti malam kamu bergadang lagi menangisi mantan suami sampahmu yang tak bertanggung jawab itu! Jadi perempuan itu jangan mau ditindas, walau pun itu adalah suamimu sendiri. Ingat, manusia itu lahir pasti ingin hidup bahagia, bukan mendapatkan siksa derita,” omel Akram sampai Adinda mengerutkan dahi.
‘Tuan Akram ini kenapa sih, kok kayaknya marah banget sama Mas Reza? Dia sepertinya hafal betul dengan otak Mas Reza yang suka menindasku dan juga tak pernah menganggapku sebagai istrinya!’ batin Adinda menerka.
__ADS_1
“Bunda, Caca udah nantuk mau bobok ciang tapi Papa beyum bacain celita,” ucap Caca yang tiba-tiba saja menyela pembicaraan Adinda dengan Akram yang sudah berdiri di ambang pintu.
Gadis kecil itu benar-benar pintar sekali melihat situasi, padahal jelas-jelas Akram sama sekali tak pernah membacakan cerita untuk anaknya ketika tidur siang.
“Tapi Papa harus ke apotek dulu Nak untuk mencarikan obat buat Bundamu! Memangnya Caca mau Bunda sakit terus dan nggak bisa main sama Caca? Katanya sayang sama bunda, kalau sayang biarkan papa pergi mencari obat buat bunda dulu, ya?” Akram mencoba memberi pengertian pada putrinya agar tidak terlalu berlebihan meminta sesuatu yang tidak mungkin ia lakukan, apalagi sepertinya ide konyol yang tadi hanya sekedar dikatakan Akram lewat bisikan benar-benar bakal dilakukan putri kecilnya itu.
“Ocee, tapi nanti papa halus janji tidul juga detat Caca dan bunda,” pinta sang putri yag langsung saja membuat Akram dan Adinda jadi saling pandang.
“Ya sudah, papa pergi dulu ya,” pamitnya yang terpaksa balik kembali untuk memberikan kecupan di dahi sang putri sebelum pergi.
__ADS_1
“Tunggu dulu, darimana Tuan tau kalau saya tak tidur tadi malam? Jangan bilang kalau Anda mengintip saya.” Adinda menatap dengan pandangan curiga, menelisik iris hitam kelam sang duda tampan.
‘Mati aku!’