
“Papa, mana bunda yang dibilang cama Om Lehan cedang cakit?” tanya seorang gadis kecil berusia sekitar dua tahun. Suara cadel gadis kecil itu bahkan terdengar begitu menggemaskan di telinga Adinda hingga perempuan itu hampir saja berdiri dengan kaki yang masih terasa begitu sakit.
“Aww!” ringisnya menahan sakit.
“Apa kau tak bisa diam di tempat tidurmu saja?” Akram secepat kilat melompat melewati meja tempat laptopnya agar bisa melarang Adinda turun dari berankarnya.
Perbuatan yang dilakukan Akram barusan tidak terlepas dari sepasang mata gadis kecil yang tersenyum sumringah dan juga penuh keceriaan. Bahkan pancaran kedua bola mata si kecil terlihat begitu sangat berbinar seolah-olah baru saja mendapatkan kebahagiaan yang tak terkira di dalam hidupnya.
“Maaf, Tuan. Aku memang suka sama anak kecil jadi lupa kalau kedua kaki ini belum bisa digerakkan,” cicit Adinda dengan wajah yang terlihat meringis menahan sakit.
Sungguh dirinya langsung lupa pada kondisi tubuh yang baru saja dihantam sebuah mobil dengan kencang hingga tanpa sadar Ingin tergesa-gesa turun dari tempat tidur rumah sakit itu hanya untuk bertemu dengan gadis kecil yang memanggil Akram dengan sebutan papa.
__ADS_1
“Bunda sakit apa, Pak dotel? Apa Papa Caca mematahkan kaki dan tangannya Bunda? Kenapa tubuh bunda cemuanya dipelban?” Gadis yang masih susah mengucapkan huruf r dan s tersebut menodong dokter dengan beberapa pertanyaan dan juga menuduh ayahnya sebagai tersangka yang membuat perempuan itu terbaring di atas brankar.
“Gadis kecil, namamu Caca ya? Apakah ini Bundamu?” tanya dokter itu yang ternyata tidak mempercayai pernyataan Adinda yang mengatakan kalau tuan Akram bukanlah suaminya melainkan orang yang telah menolongnya membawa ke rumah sakit.
Dengan begitu polosnya, gadis kecil yang bernama Caca Sasmita Ramindra itu menganggukkan kepala. Caca berusaha untuk naik ke atas tempat pembaringan Adinda dengan cara memanjat tetapi kaki kecilnya begitu susah untuk melakukannya membuat sang dokter merasa gemas dan terkekeh kecil.
“Caca belum boleh naik ya sayang, nanti kalau sampai terinjak kaki bundanya, bagaimana? Kaki bundamu saat ini sedang mengalami retak tulang dan butuh waktu untuk menyembuhkannya, jadi kalau sampai banyak gerak akan semakin lama baru bisa sembuh, bukankah kalain ingin cepat berkumpul lagi?” jelas sang dokter dengan mengelus kepala si kecil.
Gadis itu berdiri di samping Adinda lalu merentangkan kedua tangan untuk memeluk Papanya, “Papa Aklam memang yang telbaiiik!” puji gadis itu lalu membalikkan tubuh melihat Adinda.
“Apa bunda tak pelnah pulang kalena belada di lumah cakit telus gala-gala tulangnya, Papa?” tanya gadis mungil itu dengan begitu polosnya.
__ADS_1
Adinda merasa bingung untuk mnejawabnya, merasa prihatin dengan kehidupan Caca yang sepertinya tidak memiliki seorang ibu. Gadis itu hanya bisa menoleh dengan cara mendongakkan kepala, meminta bantuan agar papanya sang bocah menjawab pertanyaan Caca karena dia memang bukanlah Ibu dari gadis kecil itu.
Akram sungguh tak kuasa melihat binar mata putrinya kala melihat wanita bernama Adinda, seakan si kecil yang selama ini jarang sekali tersenyum itu kembali menjadi anak yang ceria. Akram akan melakukan apa saja agar puri kecilnya bahagia.
“Sayang … Bunda tak akan lama lagi pasti bisa pulang bersama kita, jadi Caca harus rajin berdo’a biar Bunda bisa cepat sembuh dan berkumpul lagi sama Caca tiap hari,” ucap Akram tanpa dosa dengan sedikit manoel pipi putri kecilnya.
‘Apa-apaan ini?’
Perkataan Akram barusan benar-benar membuat kedua bola mata Adinda melotot tajam dengan gigi berbunyi gemeretak. ‘Apa maksud lelaki ini bicara seperti itu pada anaknya? Memangnya sejak kapan aku menjadi ibu dari anaknya ini?’ lirih Adinda di dalam hati merasa ngeri sendiri dengan ucapan Akram barusan.
“Benalkah, Bunda? Belalti cebental lagi Caca bakal kumpul cama bundaa, holeee.” Gadis itu langsung memberikan pelukan hangat pada perempuan yang dianggapnya sebagai Bunda yang telah membuatnya hadir ke dunia ini, mengecup pipi kiri dan kanan Adinda, lalu mendaratkan hidungnya begitu lama di dahi Adinda.
__ADS_1
‘Ya Allah … tolong hamba, apa yang harus hamba lakukan dalam situasi seperti ini? Kenapa hamba harus berhadapan dengan situasi seperti ini? Kenapa aku dianggap bundanya? Kemana sebenarnya istri Tuan Akram ini?’ batin Adinda merasa penasaran dengan begitu banyak pertanyaan di dalam hatinya. Sungguh gadis itu merasa dilema, menjawab jujur kasihan sama sang bocah, jika berdusta … bukankah sama saja dirinya sengaja masuk ke lubang buaya?