Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 78. Romeo Menantang Akram


__ADS_3

Suasana mendadak tiba-tiba saja terasa hening di salah satu restoran yang memang sengaja dipesan Romeo hingga di dalamnya hanya ada mereka saja tanpa membolehkan satu pun pengunjung untuk masuk. Romeo sengaja melakukan itu semua demi kenyamanan sahabat terbaiknya untuk menyampaikan unek-unek yang seharusnya berani diucapkan bukan hanya menyimpannya di dalam hati tanpa diketahui orang lain.


“Makanya lain kali jadi orang itu yang gentlemen, bukannya gengsi yang segede gunung aja lo simpen di dalam sini!” tegas Romeosembari menekan kasar dadda bidang Akram dengan senyuman yang menyebalkan, membuat pria yang sudah menjadi duda dengan status satu anak itu merasa kesal bercampur senang.


Akram merasa kesal karena dirinya sendiri tak mampu menahan emosi ketika melihat apa yang dilakukan Romeo terhadap Adinda di tempat umum sebelumnya, tapi dirinya merasa senang karena ternyata adegan itu hanyalah sebuah kesalahan pahaman yang membuat dirinya telah memperlihatkan sifat brutal dan preman di depan orang banyak. Beruntung ada asisten pribadinya yang selalu siap siaga menjaga nama baik keluarga Ramindra sehingga adegan itu tidak sampai viral di dunia maya.


“Ckck … Ini semua juga gara-gara lo! Coba aja lo nggak pergi bareng anak gue dengan cara seperti ini maka semua nggak bakalan kejadian kok! Dasar siallan lo, modus mau bawa anak gue jalan-jalan di taman bermain dengan menaiki wahana permainan segala macam tapi ujung-ujungnya … lo emang sengaja kan ngedeketin Adinda? Dasar modus lo!” cecar Akram dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


“Gue ngelakuin itu semua juga bukan karena cemburu tapi gue tahu persis watak lo seperti apa? Jadi jangan harap bisa ngedeketin Adinda sesuka hati lo, karena Adinda itu perempuan baik-baik dan gue yang ngajak dia ke sini dengan minta izin sama ibunya, ngerti lo!” elak Akram tak mau mengakui jika memang sebenarnya lelaki itu tersulut emosi gara-gara kesalahpahaman yang ia lihat sendiri. Akram mengira Romeo terlalu lancang ingin menciumm Adinda di tempat umum.


‘Lagian mana gue tau kalau itu rupanya cuma akting lo doang ingin membuat gue cemburu dan lo memang udah berhasil bikin gue emosi, ingin sekali rasanya gue habisin nyawa lo! Untung semua itu hanya pura-pura! Coba kalau itu beneran, gue mungkin benar-benar bakal membuat tubuh lo nggak bisa lagi dikenalin orang!’ lanjutnya berucap di dalam hati, merasa kesal dengan emosi yang tak bisa ia atur sendiri kala melihat Romeo seolah hampir berciumann.


Sementara Romeo hanya bisa menggelengkan kepala, merasa gengsi sahabatnya memang sudah terlalu kental mendarah daging hingga susah untuk memperbaikinya supaya lelaki itu mau mengakui, jika Akram sebenarnya sedang merasa cemburu tingkat tinggi terhadap dirinya yang seolah-olah berusaha mendekati Adinda — pengasuh putrinya.


“Ya udahlah, terserah lo aja mau ngomong apa sama gue tapi yang jelas … jika emang lo nggak ada rasa sedikit pun sama Adinda maka jangan salahkan gue jika nanti Adinda bakal benar-benar suka sama gue!” pungkas Romeo yang akhirnya benar-benar tak bisa lagi menyembunyikan rasa kesal terhadap sahabatnya itu.

__ADS_1


“Ok! Gue anggap lo nantangin gue untuk ngedapetin Adinda dan jangan pernah ngalahin gue kalau sampai Adinda benar-benar jatuh hati sama gue!” balas Romeo dengan mimik wajah yang kesan luar biasa, niat hati ingin menyatukan Akram dengan Adinda karena dia sangat yakin dengan feelingnya tapi kenyataan yang ia dapatkan ternyata sifat asli Akram benar-benar sangat menyebalkan.


Pria yang masih mengenakan celana seragam polisi itu dengan cepat berdiri dari duduknya, menghampiri Adinda yang asik bermain bersama Caca di taman mandi bola dalam restoran itu dan mengajak keduanya untuk pergi meninggalkan Akram — sang raja gengsi serta arogan itu  sendirian.


“Saya akan mengantarmu dan Caca lagi untuk pulang karena tadi saya yang mengajakmu pergi ke sini! Hanya saja kalau kamu merasa ingin pulang bersama Akram, majikanmu yang menjengkelkan itu maka saya tidak akan memaksa dirimu dan Caca untuk pulang bersama saya,” terang Romeo yang selalu ingin mencari aman demi kenyamanan anak kecil dari sahabatnya itu.


Adinda melihat pada anak yang diasuhnya. Caca yang duduk di samping Adinda dengan beberapa bola warna-warni di tangannya, langsung menggeleng dengan cepat.

__ADS_1


“Saya tadi datang ke arena permainan ini bersama Pak Romeo, jadi saya juga akan pulang dengan anda,” sahut Adinda pasti sembari menunggu jawaban putri asuhnya.


“Caca juga mau pulang cama Om Lomeo dan Bunda ajah, coalnya kalau cama papa itu … nanti Caca ditinggalin lagi! Caca ndak mau cama papa!” celetuk gadis kecil itu, membuat Romeo dan juga Adinda menjadi saling tatap dengan dahi mengerut heran.


__ADS_2