
Akram Julian Ramindra, seorang CEO tampan yang sering wara wiri di televisi dan juga surat kabar, Masuk sebagai salah seorang pengusaha muda yang mendulang kesuksesan begitu cepat dan juga pesat. Keluarga pria itu bahkan termasuk jajaran konglomerat yang sangat disegani oleh semua khalayak bukan hanya sesama pebisnis dan pengusaha tapi juga warga sekitar, sehingga keluarga besar pria dingin berwajah datar itu selalu saja menjaga privasi membuat Keluarga Ramindra sangat jarang sekali terendus media tentang kehidupan pribadinya.
Saking tertutupnya seluruh keluarga besar Ramindra, tidak ada orang biasa yang mengetahui tentang kapan Ia menikah sehingga sudah memiliki seorang putri mungil nan cantik yang berusia hampir dua tahun. Pagi itu sebenarnya Akram ingin bersiap pergi untuk menenangkan pikirannya setelah habis-habisan untuk mencari ide brilian, apalagi yang harus ia lakukan guna memajukan perusahaan yang dipimpinnya. Lelaki itu ingin semua hasil kerjanya selalu perfect tanpa ada cela sedikit pun.
Pikirannya memang butuh tempat yang benar-benar bisa menenangkan karena ada beberapa masalah yang harus segera diselesaikannya. Belum lagi permintaan kedua orang tuanya agar segera mencari Ibu sambung untuk Putri satu-satunya agar Caca memiliki seorang bunda untuk mengurusnya walau sebenarnya bocah itu belum pernah melihat wajah wanita yang telah melahirkannya. Wanita yang melahirkan Caca Sasmita Ramindra meninggal saat perempuan itu melahirkannya sang buah hati hingga sejak saat dua tahun yang lalu, Akram tak pernah lagi membuka hati untuk wanita mana pun lagi.
Namun takdir malah mempertemukannya dengan perempuan bernama Adinda gara-gara mobil yang ditumpanginya menabrak perempuan itu hingga terpaksa dibawanya ke rumah sakit sebagai bentuk dari tanggung jawab. Akram sama sekali tak pernah menyangka jika pertemuan tak terduga ini bisa berbuntut panjang setelah bertemu dengan putrinya. Semua itu berawal dari adik laki-laki Akram yang bernama Reyhan yang benar-benar bermulut ember hingga kedua orang tua serta Putri kecilnya itu mengendus kalau dirinya sedang berada di rumah sakit untuk merawat seorang wanita.
__ADS_1
Akram merupakan laki-laki yang gila kerja tetapi hobinya mendatangi klub malam tetapi jangan salah, pria yang memiliki mata kelam bernetra hitam itu benar-benar tidak menyukai wanita mengganggunya saat menyendiri, menghabiskan berbotol-botol minuman keras yang masih mampu masuk mengaliri darahnya tanpa mengalami mabuk.
“Papa - Papa, kenapa Bunda diam caja dan ndak mau jawab peltanyaan Caca? Apakah Caca anak nakal?” tanya gadis kecil itu dengan kedua bola mata terlihat sedih, bahkan pertanyaan dari Caca membuat Akram terbangun dari lamunan panjangnya.
Akram melirik tak suka pada Adinda yang masih menatap tajam padanya dan laki-laki itu sangat paham, kenapa wanita yang rela dijaganya hingga bermalam di rumah sakit meninggalkan rumah dan juga putrinya itu seakan hendak melahapnya hidup-hidup. Pria itu seolah mendengar perkataan Adinda ‘Aku akan membunuhmu karena telah menipuku!’
Begitu hebat sandiwara yang diperankan seorang Akram hingga Putri kecil yang polos itu langsung saja menurut dan mengambil gelas yang diberikan papanya untuk diberikan pada Adinda.
__ADS_1
“Minumlah Bunda cayang … bial kelongkongannya bunda ndak cakit lagi. Kata Oma kalau kulang minum bica bikin sakit batuk, Caca ndak mau kalau nanti bunda cakit lagi,” ucapnya dengan mata mengerjap-ngerjap, membuat Adinda tentu saja tidak mampu untuk menolak kehangatan yang baru saja diberikan seorang gadis kecil yang begitu polos dan lugu dengan wajah yang sangat menggemaskan.
“Terima kasih, Sayang … tapi aku ini bukan bun—” Belum selesai Adinda berucap tapi Akram dengan cepat memotong perkataannya.
“Bukan bunda yang suka menghilang, Sayang karena setelah sembuh nanti, Bundamu ini akan tetap di rumah setiap hari, iya kan, Bunda,” ucap Akram dengan wajah memberikan tatapan tajam, seolah memberikan peringatan agar wanita itu tidak menyanggah perintahnya.
Adinda yang melihat tatapan mengerikan itu langsung saja menelan salivanya dengan berat. ‘Ya Tuhan … bagaimana ini? Aku harus bicara jujur pada tuan Akram kalau aku sudah menikah.’
__ADS_1