
Hal itu membuat sepasang manusia yang berbeda jenis menjadi saling beradu pandang.
“Saya mencintaimu, Adinda!” ucap Akram dengan mata tak berkedip sembari menatap wajah janda perawan di hadapannya.
Degh!
Jantung Adinda seperti barusan berhenti sesaat ketika mendengar Ungkapan perasaan yang baru saja disampaikan Akram secara langsung padanya, rasanya teringat perempuan itu sepertinya sedang mengalami masalah yang serius karena dirinya benar-benar sangat tak percaya dengan pendengarannya sendiri. bagaimana mungkin seorang akal akan menyatakan perasaannya? Bukankah itu sesuatu yang sangat mustahil?
‘Ah enggak, aku pasti hanya berhalusinasi seolah-olah baru saja mendengar jika Tuan Akram mengungkapkan perasaannya, mana mungkin seorang Akram Julian Ramindra jatuh cinta pada seorang pengasuh seperti ku? Apalagi dia pernah berkata, jika aku ingin bukanlah levelnya!’ tolak Adinda di hatinya sendiri karena memang gadis itu sama sekali tak percaya jika ada satu kalimat sakral yang meluncur begitu saja dari bibir seorang Akram.
__ADS_1
Janda dari Reza Madani tersebut kembali memindai wajah seorang lelaki yang selama ini selalu dipanggilnya dengan sebutan tuan, melihat dengan seksama jika sang duda hanya diam saja seolah-olah belum mengatakan apapun terhadapnya, membuat Adinda semakin yakin jika apa yang didengarnya barusan hanyalah sebuah ilusi semata.
Sementara perasaan lelaki itu menjadi campur aduk antara plong karena telah menyampaikan apa yang selama ini disembunyikannya dari Adinda, berbarengan dengan perasaan takut akan ditolak oleh janda judes yang selalu menentangnya. Akram bukannya tidak berani mengatakan perasaannya selama ini tapi gengsinya yang terlalu tinggi, serta sifat keegoisan yang masih terpatri di dalam jiwanya membuat sang duda merasa dirinya memiliki segalanya dan sungguh tak pantas untuk menyampaikan perasaannya sendiri terhadap seorang pengasuh yang memiliki level terlalu jauh di bawahnya.
Namun, mengingat dirinya yang tak ingin ditinggalkan oleh janda pengasuh putrinya itu, membuat Akram mau tak mau terpaksa mengakui perasaan yang selama ini ia miliki terhadap Adinda, asalkan sang janda tetap bersedia tinggal satu atap dengannya.
“Adinda … kenapa kamu tak menjawab ungkapan perasaan saya? Apakah kamu begitu membenci saya hingga tak sudi untuk sekedar merespon perasaan cinta yang saya miliki padamu?” Akram kembali begitu lancang sedikit mendongakkan dagu Adinda hingga pandangan mereka saling beradu lagi, memandangi seluruh inci demi inci wajah janda di depannya, dan tanpa ragu wajah duda satu anak itu semakin mendekati ke arah daging terbelah berwarna merah muda yang terlihat begitu ranum bila dirinya mencicipi.
Suara ponsel yang memang sengaja disetel sama gadis itu dengan bunyi begitu memekakkan telinga, membuat kedua manusia itu tersentak kaget hingga tanpa sadar Adinda begitu cepat mendorong tubuh kekar Akram dan membuat lelaki yang masih belum mampu menyeimbangkan tubuhnya, jatuh terjungkal di hadapan sang janda muda.
__ADS_1
“Allahu Akbar!” seru sang janda yang kaget dengan perbuatannya sendiri gara-gara ingin mengambil ponselnya yang berdering. Adinda akhirnya bukannya mengambil benda pipih berwarna hitam miliknya tapi malah membiarkan ponsel itu tetap berdering begitu saja.
Sang janda yang masih perawan itu merasa bersalah dan berusaha membantu Akram agar lelaki tersebut duduk dari tidurnya yang terlentang di lantai kamarnya.
“Tu-tuan, maaf saya tak sengaja karena tadi telah mendorong anda,” ucap Adinda dengan sedikit terbata karena takut lelaki itu akan kembali memperlihatkan wajah garang seperti singa yang mengeluarkan taringnya.
Adinda mengulurkan tangan untuk membantu sang tuan majikan bangkit dari lantai, tentu saja hal itu dengan sengaja dimanfaatkan sama Akram, meraih kedua tangan mungil yang sedang terulur padanya, lalu menarik tangan Adinda hingga janda itu tentu saja langsung jatuh ke dalam pelukannya.
Aaghh!
__ADS_1
Pekikan Adinda tentu saja membuat nyonya Ramindra yang memang mengawasi kelakuan nakal putranya, langsung terlonjak kaget di luar kamar.