
Mendengar perkataan Sang Putri membuat Bunda Hanum menghentikan langkah kakinya.
“Apakah Nak Reza rasanya masih bisa menyelesaikan masalah dengan Adinda? Jika kalian memaksakan diri maka kalian berdua akan sama-sama tersiksa!” Bunda Hanum menepuk pelan pundak sang menantu.
“Wallahu ‘alam, Bunda. Saya eh aku merasa kali ini Adinda sudah tak mau memberiku maaf,” lirihnya ragu.
‘Karena aku sudah bermain wanita di belangnya. Maaf aku yang telah membuat putrimu kecewa,’ lanjut Reza di dalam hati. Pria itu sama sekali tidak berani untuk mengungkapkan kebenaran terhadap mertuanya. Bunda Hanum terlihat mengambil napas dalam dan kembali tersenyum.
“Susul istrimu dan bicarakan baik-baik masalah yang sedang terjadi. Jika kalian berdua sudah tak bisa menxcari solusinya, barulah ajak bunda sebagai penengah!” titah wanita paruh baya itu begitu bijak tanpa ingin ikut campur urusan rumah tangga sang putri sebelum mereka berdua menyerah dan memang waktunya belum tepat jika dirinya langsung ikut bicara.
Apalagi, Bunda Hanum memang belum mengetahui duduk persoalan yang terjadi di dalam rumah tangga anaknya hingga keduanya sejak turun dari mobil langsung seperti musuh bebuyutan. Bunda Hanum sama sekali tidak mengetahui jika putrinya datang sendiri pulang ke kampung tanpa Suami, entah kebetulan ataukah Reza memang sudah mengintai kedatangan istrinya itu sehingga Bunda tidak merasa curiga sama sekali.
__ADS_1
“Baik, Bunda. Reza permisi bicara dulu dengan Dinda,” pamit Reza meninggalkan sang mertua yang masih berdiri di dekat teras lalu kelur untuk melihat tukang yang masih bekerja.
Perempuan paruh baya itu berinisiatif membelikan cendol yang jualan di depan rumah sebagai minuman segar pendingin suasana panas di dalam kepala anak dan juga menantunya.
‘Semoga rumah tangga anakku baik-baik saja hingga kakek nenek, aamiin,’ doa sang bunda di dalam hati sembari melangkahkan kaki menuju kios penjual es dawet. .
Sementara itu, Reza masuk ke dalam rumah sang mertua untuk pertama kalinya. Kedua kaki pria itu terasa begitu asing saat menginjaknya karena memang rumah yang sebenarnya begitu kecil jika dibandingkan dengan besar dan megahnya rumah keluarga Suryo yang ada di kota, tapi tetap kenapa hatinya merasa sejuk saat memasuki ruang tamu tersebut.
'Aku berharap mudah-mudahan Adinda masih memberiku satu kesempatan lagi dan aku akan membuktikan bahwa aku bisa memberikan kebahagiaan untuknya bahkan Aku bersumpah tak akan lagi pernah mengkhianatinya.' Reza berharap di dalam hati walau sebenarnya lelaki itu sangat tidak yakin dengan apa yang ia doakan sejak kepergian sang istri.
"Dinda, apa Mas boleh masuk ke dalam kamarmu?" Reza mengetuk pintu kamar yang sebenarnya punya celah terbuka hingga kepalanya bisa melongok ke dalam, melihat istrinya itu baru saja menata pakaian di dalam lemarinya.
__ADS_1
Adinda menoleh sesaat kemudian kembali memalingkan mukanya, "masuk aja! Bukankah kamu bisa melakukan apapun sesuka hatimu!" sahut wanita itu dengan nada begitu ketus bahkan Adinda tidak ingin melihat wajah lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya.
Reza masuk ke dalam kamar istrinya dan sengaja menutup pintu kamar itu tanpa menguncinya karena dia tak ingin Adinda akan berpikir yang bukan bukan terhadapnya hingga bisa saja perempuan itu mengusirnya.
"Aku … aku mau minta maaf atas semua kesalahan yang pernah kulakukan padamu. Tolong beri aku kesempatan sekali lagi agar aku bisa membuktikan bahwa seorang Reza Madani bisa berubah dan pantas untuk berdiri di sampingmu," ucapnya dengan wajah memelas bernada rendah sedikit mencicit seperti anak ayam.
Adinda masih diam dengan tangan tetap melakukan pekerjaan apapun yang bisa dilakukannya di dalam kamar itu, agar mampu menghilangkan emosi yang sudah mulai menjalar ke seluruh tubuhnya untuk memaki sang suami.
"Kamu boleh memukulku dan kamu juga berhak melakukan apa saja terhadapku, asal jangan pernah pergi dari kehidupanku, kumohon padamu, Adinda!" pintanya langsung menjatuhkan tubuh dan bertekuk lutut di hadapan sang istri yang saat ini berpura-pura membersihkan terali jendela dengan kemoceng yang ada di kamarnya.
"Maaf, Mas Reza, kesempatanmu sudah habis bahkan ini adalah jalan yang paling terbaik untuk kita berdua dengan cara berpisah! Bukankah dari awal kamu sama sekali tak pernah mencintaiku? Lalu untuk apa Mas tiba-tiba saja datang ke rumahku, seolah-olah kamu itu seorang suami yang paling kuharapkan! Kamu salah besar, Mas Reza Madani, aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri tanpa bantuan keluargamu! Bukankah ini jalan yang terbaik buat kita berdua? Kamu bisa bebas bermain wanita sesuka hatimu dan aku bebas untuk menjalankan kehidupanku sendiri tanpa harus menanggung beban kewajiban seorang istri terhadap suaminya yang tak punya perasaan!" jawab Adinda dengan nada datar.
__ADS_1
“Aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi untuk membuktikan bahwa aku berhak untuk tetap hidup bersamamu. Aku nggak mau kehilanganmu Adinda. Apa kamu nggak kasihan sama Bundamu kalau sampai dia tahu tentang pernikahan anaknya yang hanya seumur jagung?” tanya Reza yang saat ini masih memegangi kedua pergelangan kaki sang istri yang setia berdiri menghadap ke arah jendela dengan kemoceng di tangannya serta memunggungi suaminya.
“Berdirilah, Mas! Aku yang lebih tahu bagaimana sifat bundaku sendiri karena aku lahir dari rahimnya, Mas tak perlua mengacamku dengan membawa-bawa nama bunda segala. Bukankah aku ini hanya anak pelayan yang tak sepadan denganmu dan aku sama sekali bukan seorang istri yang kamu harapkan. Jadi mari kita bercerai!”