Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
112


__ADS_3

“Halo Pak Roland, sepertinya mobil itu memasuki areal hotel tapi saya belum memastikan apakah ibu Adinda akan check in atau tidak bersama lelaki yang sedang bersamanya,” lapor seorang pria bernama Rafli yang sengaja mengikuti kemanapun mobil Reno pergi setelah Roland memberikan plat nomor mobil lelaki itu dan menyesuaikan dengan denah lokasi yang diterimanya.


Rafli mendapatkan perintah langsung dari Roland untuk menguntit mobil yang dikendarai Reno bersama Adinda.


[Pastikan jika Ibu Adinda check in pada salah satu kamar di sana, maka kamu harus tahu nomor berapa kamarnya!] perintah Roland di seberang sana yang langsung diangguki Rafli walaupun anggukannya itu sama sekali tak terlihat oleh orang yang menyuruhnya.


“Baik Pak Roland. Saya akan tetap memantau hingga mobil itu tak bergerak lagi!” balas Rafli yang kembali mengawasi mobil milik Reno yang terparkir di samping khusus parkiran roda empat.


Rafli sengaja tidak memasuki halaman hotel dan berhenti sedikit jauh dari depan gedung itu, mengawasi dengan teropong agar lebih jelas jika sepasang manusia tak punya hubungan apa-apapun itu tidak akan melakukan sesuatu yang akan membuat bonusnya menghilang.


“Loh, kenapa yang keluar dari mobil itu hanya prianya saja?” monolog Rafli mengerahkan teropongnya ke arah bagian depan mobil dan melihat jika seorang perempuan masih duduk manis dengan indah, tepatnya di bangku penumpang samping supir.


[Maksud kamu apa?]

__ADS_1


“Sepertinya lelaki itu hanya akan menurunkan barangnya saja, tanpa menginap di hotel ini, Pak,” lanjut nya melaporkan apa yang terlihat.


Sekitar lima belas menit kemudian, Reno terlihat kembali masuk ke dalam mobil.


“Semuanya sudah beres, jadi kamu tak perlu khawatir lagi dengan semua barang bawaanmu,” terang Reno dengan senyum manisnya.


“Bapak tak kenal seberapa pintar dan liciknya seorang Roland. Dia pasti bakal mengetahui keberadaan saya dimana pun berada. Dia tak butuh banyak waktu untuk mencari titik keberadaan saya dan mungkin saja sekarang ini kita sudah diawasi,” jelas Adinda.


Reno tentu saja tidak kaget sama sekali mendengarnya karena seorang Akram tak mungkin mengambil sembarang orang untuk dijadikan asisten pribadinya.


“Pakai ponsel jadul ini dulu,” ucap Reno menyerahkan ponsel model lama yang langsung diterima Adinda dengan dahi berkerut.


“Kepana kita harus seperti seorang penjahat yang sedang kabur sih, pak?” Adinda mengangkat ponsel warna hitam yang sudah berada di tangannya.

__ADS_1


“Kita bukan seorang penjahat tapi jika kamu ingin kembali ke rumah tuan Akram maka kita tak perlu bersusah payah untuk melarikan diri seperti ini, karena jika yang menelpon tadi adalah Pak Roland, itu berarti dia telah menghack nomor saya. Nanti saya akan menggunakan sim dua untuk menghubungimu. Kita berpencar di dalam Supermarket. Apa kau sekrang sudah paham?” Reno menunggu jawaban dari wanita cantik si janda muda.


“Ini ada uang cash dua juta. Beli pakaian yang bisa membuatmu keluar dari ruang ganti dengan seseorang yang berbeda, pergilah naik taksi dengan mengenakan masker dan kacamata hitam ke hotel yang tadi kita singgahi. Kamu bisa menginap di sana selama yang kamu mau dan ini kunci kamarmu.” Reno kembali merogoh saku celananya dan memberikan sebuah kartu bernomor 222 VIP.


Adinda mematung dengan telapak tangan yang sudah menutup di dalam genggaman tangan Reno, menatap wajah lelaki tampan yang juga sedang memandang wajahnya dengan tatapan tak terbaca.


“Saya bukan wani—”


Reno memotong kalimat yang akan disampikan Adinda “Kamu seorang wanita yang sangat baik, jadi saya percaya kalau kamu pasti bisa menjaga diri. Saya nanti akan menghubungimu lagi.” Lelaki itu melepaskan genggaman tangannya dan mulai menyalakan mesin mobil.


“Jika kamu ingin bebas maka jangan pernah punya rasa iba pada masa lalu. Jika kamu ingin pergi jauh maka kamu dilarang untuk menoleh ke belakang! Percayalah kalau kamu pasti bisa menjadi seorang wanita tangguh suatu saat nanti. Pesan saya … jangan pernah menyerah dengan keadaan!” Mobil mulai melaju menuju salah satu supermarket terbesar di sana.


Adinda bingung apakah langkah yang ia ambil ini tidak berlebihan?

__ADS_1


“Bagaimana jika Bapak dapat masalah setelah membantu saya?” Adinda kembali menoleh ke samping.


“Maka saya akan bersyukur, karena itu tandanya ada seseorang yang sedang cemburu dan ketakutan dengan keberadaan saya di dekatmu.”


__ADS_2