
Adinda menelan salivanya berat dengan mata melotot tajam saat tubuhnya sekarang sedang berada persis di atas tubuh Akram. Entah apa yang harus dilakukan selanjutnya karena saat ini ada debaran aneh yang sedang menyerang jiwanyanya.
“Bagaimana kalau saya tak mau melepaskanmu?” Akram dengan sengaja menekan punggung Adinda yang berada di atas tubuhnya hingga kedua tangan perempuan itu terlepas dari dadda bidang yang sedang menahan tubuhnya, alias dadda mereka akhirnya saling menempel.
“Aghh!” seru Adinda spontan saat tubuhnya hanya bertopang pada tubuh sang duda.
__ADS_1
Tentu saja adegan ini membuat jantung Adinda berdetak sangat kuat karena merupakan adegan pertama kali di dalam hidupnya saling menempel dengan tubuh seorang laki-laki, walaupun dirinya telah pernah menikah dengan Reza Madani tetapi mereka sepasang suami istri yang tidak pernah melakukan kewajiban pasutri yang sesungguhnya sesuai dengan surat pernikahan kontrak yang sama-sama telah mereka tanda tangan.
“Apa ada yang sakit? Apa kamu marah pada saya dengan adegan seperti ini? Please … biarkan aku memelukmu seperti sekarang sebentar saja!” pinta Akram semakin menekan punggung sang janda. Parahnya, Adinda seolah mendengar perkataan maaf dari Akram, telinganya gadis itu sungguh sedang mengalami masalah sebab yang ia dengar malah Akram berucap, “Maafkan saya karena terlalu lancang memelukmu, saya ingin seperti ini sedikit lebih lama, please ….”
Sesaat mata Adinda beradu pandang dengan kedua manik kelam milik sang duda. Gadis itu merasa ada gemuruh di dalam jiwanya yang selama ini tak pernah ia rasakan sebelumnya. ‘Apa sebenarnya yang sedang kurasakan sekarang terhadap Tuan Akram? Apakah ini merupakan rasa takut untuk dilecehkan ataukah ada rasa lain seperti apa yang pernah kurasakan waktu SMA dulu? Aku tak mungkin jatuh cinta pada duda arogan ini, kan?’ pikir Adinda bertanya-tanya — mengingat dirinya yang sudah lama sekali mengubur rasa yang pernah ia pendam terhadap seseorang di bangku sekolah menengah atas dulu.
__ADS_1
“Saya tak bisa seperti ini lebih lama, kalau Anda memaksa maka saya akan berteriak,” sahut Adinda yang sebenarnya saat ini sedang berusaha kuat agar kedua bola matanya teralihkan ke arah lain karena tak ingin kedua matanya merasa tergoda ketika memandang otot bagian dadda lelaki yang sekarang ia tindih, ditambah lagi bibir seksi yang begitu sangat menggoda imannya.
“Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullahal ‘adzim … Gadis itu mengucap istighfar berulang kali dengan nada suara sedikit keras sehingga Akram yang ikut mendengarnya spontan melepaskan punggung Adinda, lelaki itu merasa sangat malu sekali karena telah berbuat yang kurang baik pada sang janda.
“Tolong, Tuan … saya mohon, lepaskan saya karena kita tak pantas beradegan seperti ini!” Adinda kembali memohon pada Akram tanpa menyadari kalau sebenarnya tangan kekar itu sudah tak melingkari punggungnya. Namun, Adinda masih saja merasa seolah Akram tetap menyatukan tubuh keduanya, dimana dadda bidang nan atletis milik sang duda bersentuhan langsung dengan detak jantungnya, ditambah lagi posisi Akram yang masih menatap wajah Adinda seolah duda itu sedang tersihir dengan benda terbelah berwarna merah muda yang baru saja minta dilepaskan.
__ADS_1
Hasrat Akram semakin tak terbendung sehingga dengan secepat kilat lelaki itu menarik tengkuk Adinda membuat bibir merah muda yang sejak tadi mengganggu pikirannya, jatuh begitu saja tepat mendarat di atas bibirnya.
Komentarnya jangan lupa ya, itu semua bikin penulis makin semangat, apa lagi jika liat like dan vote yang diterima, tengkiuuuuu