
Adinda dengan tampilan yang sangat berbeda, baru saja selesai mengganti pakaiannya di dalam ruang ganti setelah gadis itu mengambil dan memilih satu dress terusan sampai mata kaki berwarna merah marun dengan jilbab berwarna senada. Tidak lupa juga Gadis itu menempelkan tahi-lalat berukuran kecil dengan warna hitam kecoklatan di bagian sebelah kanan dagunya, sebagai salah satu cara untuk menyamarkan wajah yang ia miliki supaya tidak dikenali oleh anak buah Akram yang jelas-jelas sudah berada di bawah kekuasaan Roland saat ini.
Adinda tersenyum setelah mengenakan kacamata tebal seperti seorang pelajar kutu buku yang memiliki sakit mata akut rabun jauh sekitar minus enam, padahal jelas-jelas dirinya hanya mengandalkan kacamata itu untuk mengelabui siapa pun yang kemungkinan besar mengenali dirinya.
“This is perfecto! Sepertinya nggak bakalan ada orang yang bisa mengenaliku!” gumamnya sembari menatap wajah pada cermin yang ada dalam ruang ganti, membuat Gadis itu tersenyum sendiri membayangkan bagaimana culun dirinya saat ini, tapi ada sedikit keanehan yang ia rasakan karena melihat wajahnya seperti seorang remaja penyuka buku tebal sepuluh centi saja.
Reno yang memantau dari jarak beberapa meter tersenyum sendiri melihat penampilan Adinda terlihat benar-benar sangat muda belia, sebab umurnya memang sangat sesuai dengan pakaian yang sedang dikenakannya. Reno pun mengetik SMS karena memang ponsel yang ia berikan pada Adinda tidak memiliki aplikasi apapun kecuali hanya bisa digunakan untuk mengirim pesan lewat SMS dan juga langsung melakukan panggilan telepon.
[Kamu sangat cantik dan lucu dengan kacamata itu]
Tit! Tit!
Adinda mendengar ada suara SMS yang berbunyi dari ponsel jadul milik Reno, mengambil dan melihat pesan yang dikirimkan pria itu. Wajah Adinda terlihat celingukan mencari keberadaan lelaki yang baru saja mengirimnya pesan.
__ADS_1
[Terima kasih Pak Reno, saya anggap pesan yang anda kirimkan Ini adalah sebuah rasa syukur, bukan pujian karena saya sungguh tak pantas mendapatkannya] Adinda sempat tersenyum sebelum mengirimkan balasan pesan untuk Reno, lalu kembali ingin memasukkan ponsel itu ke dalam sebuah tas warna hitam yang juga baru dibelinya.
Namun, hal itu urung dilakukannya karena ponsel tersebut kembali mengeluarkan bunyi yang menandakan masih ada pesan SMS dari Reno.
[Saya sudah memesan taksi online untuk mengantarmu kembali ke hotel. Nanti sopir taksi itu akan langsung menelponmu, berhati-hatilah di jalan dan kabari saya jika kamu sudah berada di dalam kamar. Jangan lupa kunci pintu kamar itu dengan baik dan jangan pernah kau buka sebelum saya sendiri yang mengirimkan pesan atau menelponmu untuk membukanya! Saya juga sudah memesan beberapa kebutuhan untukmu dan meletakkannya pada meja resepsionis yang langsung bisa kamu ambil nanti sebelum masuk ke dalam kamar. Jaga dirimu dan assalamualaikum] Reno langsung kembali mengalihkan telepon selulernya pada nomor yang sudah di-hack oleh seseorang.
Dirinya hanya tak ingin apapun pesan yang ia kirimkan pada Adinda, bisa diketahui oleh orang lain karena memang nomor yang digunakannya untuk menghubungi Adinda adalah nomor pribadi yang hanya diberikan pada orang-orang tertentu saja.
‘Aku nggak akan pernah melupakan budi baikmu, Pak Reno.’ Baru saja gadis itu berujar di dalam hati, tiba-tiba ponsel jadul kembali berdering. Dia sangat yakin jika nomor yang baru saja menghubunginya sudah pasti adalah nomor kontak sang supir taksi online yang dikatakan Reno beberapa saat lalu.
“Hallo, assalamu’alaikum,” sapanya membuka suara.
“Wa'alaikumussalam warahmatullah. Maaf, apa benar ini dengan Nona Adinda? Saya supir taksi yang dipesan oleh Pak Reno dan sekarang menunggu Nona di depan supermarket,” jawab lelaki itu.
__ADS_1
“Baiklah Pak, saya akan langsung segera ke depan,” sahut Adinda yang mulai melangkahkan kaki dengan cepat karena merasa tak enak hati jika sang supir taksi menunggunya terlalu lama.
Hanya dalam hitungan tak lebih dari dua menit, Adinda telah melihat taksi berwarna biru berhenti tepat di depan. Langkah kakinya semakin dipercepat. Sopir taksi itu mengenakan topi berwarna hitam serta kacamata senada dengan kumis tipis menghiasi bawah hidungnya, membuat Adinda sedikit merasa curiga karena wajah lelaki itu sama sekali tak tampak begitu jelas.
“Silakan masuk, Nona,” ucap lelaki itu dengan ramah tapi wajahnya selalu tertunduk seolah-olah berusaha menyembunyikan agar Adinda tidak mengenalinya, bahkan pria tersebut berusaha menyamarkan suaranya. Adinda berusaha menenangkan hatinya sendiri, lalu melakukan panggilan pada nomor supir taksi yang tadi menelponnya ketika sudah duduk di dalam taksi.
Namun, betapa terkejutnya Adinda ketika pintu mobil sudah memperdengarkan suara ‘klik’ bersamaan dengan suara seseorang di ujung telepon, “Halo Non, anda berada di mana? Saya minta maaf karena baru saja sampai di supermarket.”
Deg!
Siapakah supir itu?
Jangan lupa supaya penulis semakin bersemangat untuk update, berikan like, komentar, ulasan bintang 5 dan tentu saja love sekebon untuk kalian semua. Semoga selalu sehat dan bahagia.
__ADS_1