Janda Perawan Yang Soleha

Janda Perawan Yang Soleha
Bab 69. Aib Yang Terbuka


__ADS_3

“Ndak mau. Bukannya waktu itu Papa cendili yang makca Caca bial bobok cama Bunda? Papa bilang kalau Caca ndak tidul cama Bunda nanti Bundanya pelgi lagi … telus ninggalin Caca celamanya, makanya Caca ndak mau bobok kalau ndak ada bunda!” tegas sang bocah tanpa melihat wajah papanya yang merah padam bak kepiting rebus.


‘Dasar anak si alan, eh anakku. Kenapa anakku tega bikin malu papanya kayak gini? Ini bocah nggak bisa pura-pura sedikit aja sih, ngapain juga harus buka kartu di depan Adinda? Astaga … rasanya aku ingin menenggelamkan wajahku ke dasar bumi!’ gerutu Akram di dalam hati merasa kesal pada anaknya sendiri tetapi dia pun tak bisa berbuat apa-apa.


Belum juga pria dewasa itu berbicara dan menasehati putrinya tetapi Adinda dengan cepat mengatakan hal-hal bijak, hingga membuat gadis kecil dengan sifat arogansi tinggi sang ayah itu merasa terhibur.


“Sayang kamu nggak boleh ngomong seperti itu sama papa karena papa akan merasa malu ketika anak gadis cantiknya ini mengungkapkan kebenaran di depannya sendiri,” nasehat Adinda dengan lirikan mata penuh ejekan pada lelaki tampan yang dia panggil sebagai tuan.

__ADS_1


“Maca cih, Bunda? Kata oma, kita itu halus jadi olang jujul, gak boyeh boong! Nanti doca telus macuk nelaka, iiii ngeli macuk nelaka, coalnya di cana banyak cetannya. Hehehe papa mau pelgi ke cana cama cetan hihihi.”


Akram mulai merasa tak nyaman dengan seluruh kalimat yang dilontarkan putri kandungnya tetapi mau bagaimana lagi bocah kecil peninggalan almarhumah istrinya itu terlalu pintar untuk diajak kerjasama dalam hal kebohongan. Seharusnya sebagai orang tua tunggal, Akram merasa bangga karena Putri kecilnya begitu pintar dalam bicara dan bijak dalam menyusun kata-kata, walau sebenarnya perkataan yang keluar dari mulut anaknya itu sering kali menyakiti hatinya sebagai seorang papa.


“Bunda tau ndak?” Gadis kecil itu kembali berusaha menarik atensi Adinda agar segera menoleh padanya.


“Tahu tentang apa, Caca sayang? Tentu saja sekarang Bunda belum tahu karena Caca belum memberitahukan hal apa yang mau disampaikan,” sahut Adinda dengan lembut sembari tangan kanannya mengusap-usap surai hitam legam milik Caca yang panjangnya baru sebahu.

__ADS_1


Dengan wajah polosnya, bocah kecil itu menceritakan keburukan sang Papa yang selama ini sebenarnya disampaikan nyonya Ramindra kepada sang cucu hanya sekedar untuk memberitahukan apa yang sedang dilakukan putranya, tanpa memberikan penjelasan lebih detail.


Mendengar apa yang disampaikan Caca sontak saja membuat Adinda merasa kaget setengah mati. Bagaimana dirinya tidak kaget karena anak yang masih dianggap dalam perkembangan usia Batita itu, bisa mengerti tentang dugem? Sungguh Adinda benar-benar tak habis pikir bagaimana cara keluarga Akram mendidik Caca selama ini.


Wajah Akram sontak saja berubah merah padam menahan malu karena aibnya begitu jujur dan gamblang diceritakan sang putri tercinta. Demi untuk menghindari rasa malu yang bakal entah apa lagi diceritakan putrinya sama Adinda, Akram pun berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


“Oh iya, anak papa yang paling disayang ini, mau main apa lagi nih? Gimana kalau kita main bola?” tanya Akram dengan sangat antusias, tapi salah bicara. Padahal niatnya hanya ingin mengalihkan percakapan karena merasa putrinya akan selalu menang ketika berdebat dengannya. Sungguh Akram suka kalah sebagai ayah di hadapan putri kecilnya, apakagi kalau Caca sudah menggunakan senjata pamungkas bernama ‘menangis’ maka mamanya akan selalu memarahinya, menganggap putranya dudanya itu tak becus mengurus anak.

__ADS_1


“Papa lupa ya kalau Caca ini anak cantik bukan anak ganteng, maca diajak main bola. Papa ndak acik!” Caca memberengut marah.


Sementara Adinda masih memberikan tatapan tajamnya, “Kita harus bicara, wahai Tuan yang suka dugem!”


__ADS_2