
Jam makan siang tiba. Darren segera pergi ke butik untuk mengajak Annisa makan siang di luar.
" Halo, Annisa." Sapa Darren pada Annisa yang tengah sibuk menggambar desain untuk model terbarunya.
" Hai, Suamiku. Sudah pulang?"
" Aku janji untuk makan siang sama kamu, ayo kita berangkat." Kata Darren.
" Sebentar ya." Kata Annisa sambil meraih tasnya. Darren pun menggandeng tangan Annisa. Annisa begitu bahagia, sekalipun belum ingat tapi paling tidak Darren sudah mulai menerimanya sebagai istri.
" Kita mau kemana, Darren?"
" Ke restoran favorit aku aja ya."
" Boleh." Singkat Annisa. Darren mengajak Annisa ke restoran favoritnya untuk menikmati steak. Setelah sampai, Darren segera memesan tenderloin steak dua porsi dan jus alpukat. Setelah makanan sampai, sebelum makan Darren memotongkan steak untuk Annisa. Annisa hanya memandangi suaminya itu sambil tersenyum.
" Terima kasih, suamiku." Kata Annisa dengan senyum bahagia.
" Anak aku harus sehat jadi kamu harus makan yang banyak ya."
" Memangnya kamu pingin anak cewek atau cowok?"
" Apa aja sih, yang penting sehat dan normal semua."
__ADS_1
" Dan kamu pingin punya anak berapa?"
" Dua sudah cukup Annisa, kasihan kamu nanti." Jawab Darren sambil tersenyum kecil.
" Semoga semuanya lancar sampai kelahiran nanti ya."
" Amin." Jawab Darren.
Saat Annisa dan Darren tengah asyik menikmati makan siang bersama, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan kehadiran Satriya.
" Halo Annisa, Tuan Darren." Sapa Satriya sambil melambaikan tangannya.
" Oh, kamu." Kata Darren ketus.
" Oh ya, kebetulan lewat jadi saya kesini." Imbuh Satriya.
" Ya sudah silahkan nikmati makan siang kalian, saya sudah pesan duduk di sebelah sana. Permisi." Kata Satriya.
" Iya, Dok." Sahut Annisa. Darren sedari tadi hanya fokus menikmati steaknya tanpa memperdulikan kehadiran Satriya.
" Dia kayaknya ada sesuatu sama kamu."
" Kamu ini ngarang aja. Mana mungkin, cuma kebetulan."
__ADS_1
" Sepertinya dia penguntit." Ketus Darren.
" Sssttt kamu nggak boleh suudzon." Kata Annisa.
" Iya, iya. Habis gerak geriknya mencurigakan sekali. Awas aja kalau macam-macam." Kata Darren dengan geram.
" Ya udah, kita lanjut makan ya. Habis itu pulang ya sayang, aku capek banget. Mungkin karena perut aku semakin besar."
" Iya, sayang." Ceplos Darren.
" Kamu panggil aku apa tadi?" Kata Annisa mencoba mengulang ucapan Darren.
" Nggak, nggak ngomong apa-apa. Udah cepat kita habiskan." Sanggah Darren dengan salah tingkah.
" Iya." Kata Annisa tersipu.
" Ternyata kamu tidak berubah." Batin Annisa
Malam harinya di rumah Satriya. Di kamarnya, Satriya memandangi foto ke kasihnya dengan tatapan nanar. Teringat semua kenangan bersama kekasih hatinya yang sudah bersamanya selama 5 tahun dan telah merencanakan pernikahan namun semua itu harus berakhir karena maut memisahkan mereka.
" Aku begitu merindukanmu, aku ingin memelukmu. Maafkan aku yang belum bisa melupakanmu, Nadia. Sulit, sungguh sulit bagiku. Disaat pernikahan tinggal menghitung hari, kamu tiba-tiba ninggalin aku. Apa aku bisa menjalani hidup tanpa kamu, sakit Nadia." Gumam Satriya pada dirinya sendiri.
" Aku hanya manusia biasa yang sulit untuk melupakanmu, kepergianmu sangat membuatku terluka. Gaun pernikahan, undangan, gedung, semua sudah siap tapi kenapa kamu memutuskan untuk pergi? apa yang harus aku lakukan? aku seperti orang gila Nadia." Satriya menangis pilu sambil memeluk foto kekasihnya yang Satriya bingkai dalam pigura yang cantik.
__ADS_1
" Tuhan, aku ingin dia. Sebagai pengganti Nadia, bolehkan aku mengambilnya Tuhan?"