
Keesokan paginya, Annisa dan Darren pergi ke sekolah untuk mendaftarkan Raja ke sekolah yang baru. Raja sekarang masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar. Darren memilihkan sekolah terbaik di kota ini untuk Raja. Darren dan Annisa beserta Raja segera menuju keruang kepala sekolah untuk mengurus pendaftaran Raja.
" Raja, sekolah yang pinter ya. Jangan bandel ya." Kata Annisa sambil mengusap kepala Raja.
" Iya, ingat ya pesan Kak Annisa. Nanti biar Pak Gito yang jemput kamu sekolah. Soalnya Kak Annisa sama Kak Darren harus kerja." Tambah Darren.
" Iya, Kak. Raja nggak akan kecewain Kak Annisa sama Kak Darren. Terima kasih ya Kak. Sudah menyekolahkan Raja di sekolah yang bagus dan mewah ini. Raja janji akan belajar dengan keras dan bikin Kak Annisa juga Kak Darren bangga."
" Harus, Raja. Semangat, ya." Kata Darren.
" Pak Kepala Sekolah, terima kasih. Mohon bimbingannya untuk Raja." Kata Annisa.
" Iya, Bu Annisa. Sudah menjadi kewajiban kami untuk mendidik dan membimbing mereka." Kata Pak Kepala Sekolah.
" Ya udah, selamat belajar ya Raja. Kita pergi dulu." Pamit Annisa.
" Pak, kami permisi ya. Terima kasih." Imbuh Darren.
" Iya, Pak sama-sama." Jawab Kepala Sekolah. Raja pun segera mencium tangan Annisa dan Darren lalu segera menuju kelasnya bersama kepala sekolah.
" Kita butik ya. Hari ini pesanan Dokter Satriya sudah jadi." Kata Annisa.
" Oke." Singkat Darren.
******
" Kalau gitu, aku ke kantor dulu ya."
" Kamu beneran udah sehat dan siap kerja. Bagaimana dengan ingatan kamu, pasti banyak hal yang kamu lupakan." Kata Annisa khawatir.
" Kamu nggak usah khawatir, aku cuma lupa ingatan tapi IQ ku tetap di atas rata-rata." Kata Darren dengan percaya diri tinggi.
" Aku pergi ya, nanti jam makan siang aku jemput kamu." Kata Darren sembari mencium kening Annisa.
" Hati-hati ya." Kata Annisa. Hati Annisa pun sangat berbunga-bunga, perjuangannya tidak sia-sia. Darren mulai mencintainya lagi. Ikatan batin di antara mereka sudah kuat, sekalipun Darren mengalami lupa ingatan.
" Sayang, papa kamu akhirnya sudah jatuh cinta sama kita." Kata Annisa sambil mengelus perut buncitnya. Semua pegawai Annisa menatap bahagia dengan hubungan bosnya itu. Mereka pun kasihan jika harus melihat Annisa terus-terusan bersedih.
Annisa segera melanjutkan pengecekan terakhir untuk pesanan Dokter Satriya. Tiba-tiba Annisa di kejutkan dengan kedatangan Reva dan Rio.
__ADS_1
" Annisa." Sapa Reva seraya memeluk Annisa.
" Kalian kok barengan, habis darimana?" tanya Annisa curiga.
" Aku habis cari bahan buat ujian praktek di kampus. Mobil aku mogok dan kebetulan ada Kak Rio jadi numpang deh." Kata Reva dengan suara yang ceria.
" Hati-hati ya, Kak. Jangan macam-macam sama temen aku." Celetuk Annisa.
" Tenang Annisa. Reva sama spesialnya seperti kamu jadi nggak mungkin aku apa-apain dia." Timpal Rio.
" Oh ya Kak. Minggu depan aku ada fashion week. Seperti biasa, aku minta tolong sama Kak Rio dan Kak Tori bantuin ya. Kamu sama Dela juga ya, Rev. Kali ini aku bayar, kok. Ya meskipun nggak banyak." Kata Annisa malu-malu.
" Annisa, kamu ini kayak sama siapa aja. Lagian bisnis kamu kan baru merintis, kita ngerti kok. Kita pasti bantu lah, kamu kan adik kita juga." Kata Rio.
" Adik ketemu gede ya, Kak. Hehehe."
" Emang temanya apa?" tanya Reva.
" Bebas sih. Justru aku bingung, kita mau buat konsep apa." Kata Annisa sambil berfikir.
" Gimana kalau summer holiday with family. Kita bikin konsep liburan keluarga yang ceria dan fun. Tapi kita juga butuh model anak-anak." Celetuk Rio.
" Kan ada Raja." Sahut Reva.
" Masak cuma Raja doang, paling tidak aku butuh 5 cewek dan 5 cowok." Kata Annisa.
" Tenang aja lah, Annisa. Aku sama Dela punya banyak keponakan kecil-kecil, aku bisa ajak mereka. Pasti mereka pada seneng tuh." Sahut Reva.
" Ide bagus, Rev. Nanti aku sama Tori juga bawa keponakan aku. Kamu tenang aja Annisa, kami selalu ada untuk bantu kamu." Imbuh Rio.
" Aku bersyukur sekali di kelilingi orang-orang yang baik-baik."
" Kita juga bersyukur punya teman kayak kamu. Kamu itu layak jadi inspirasi anak muda jaman sekarang." Puji Rio.
" Kak Rio terlalu berlebihan." Sahut Annisa.
Saat mereka asyik ngobrol, tiba-tiba dokter Satriya datang.
" Assalamualaikum Annisa."
__ADS_1
" Waalaikumsalam. Eh Dokter Satriya. Mari masuk, Dok. Pesanan untuk Dokter sudah jadi kok." Kata Annisa.
" Oh ya ini buat kamu." Kata Dokter Satriya sambil membawa parcel berisi buah.
" Nggak usah repot-repot Dokter." Kata Annisa.
" Nggak kok. Nggak repot." Imbuh Dokter Satriya.
" Kak, gelagat Dokter Satriya aneh deh. Lihat aja matanya pas lagi natap Annisa." Bisik Reva pada Rio.
" Iya, sih kayak tatapan suka gitu." Bisik Rio.
" Oh ya, ini pesanan dokter." Kata Annisa sambil menyodorkan 1 stelan jas dan 1gamis yang tergantung rapi pada hanger.
" Wow, bagus sekali. Bahan yang kamu buat juga sangat bagus Annisa. Papa sama Mama pasti sangat suka sama ini." Kata Dokter Satriya dengan takjub.
" Terima kasih, Dokter atas kepercayaannya."
" Tolong ya sekalian kamu kemas dalam box yang cantik."
" Pasti Dokter." Kata Annisa. Annisa segera meminta tolong pegawainya untuk membungkus pakaian tersebut. Tak lama kemudian setelah selesai, Annisa segera memberikannya pada Dokter Satriya.
" Ini dokter."
" Terima kasih ya Annisa. Saya permisi ya." Pamit Dokter Satriya.
" Iya, dokter. Saya juga terima kasih."
Setelah Dokter Satriya pergi, Rio dan Reva pun mengutarakan apa yang mereka lihat.
" Kayaknya Dokter Satriya suka sama kamu deh." Celetuk Reva.
" Mana mungkin? eh kamu ini ngawur aja. Nggak boleh suudzon." Kata Annisa.
" Beneran, aku yang cowok aja bisa lho lihat tatapan matanya." Imbuh Kak Rio.
" Udah, Kak Rio juga. Selama dia nggak ganggu aja Kak. Masih normal aja Kok. Hubungan kita cuma sebatas pasien dan dokter. Kan Dokter Satriya dokter yang menangani Darren." Sahut Annisa.
" Ya semoga aja feeling kita salah." Celetuk Rio. Annisa pun hanya tersenyum melihat kekhawatiran Rio dan Reva.
__ADS_1