
Annisa pun memilih mampir ke mini market untuk membeli sembako dan kebutuhan dapur yang akan Annisa berikan kepada orang tuanya. Setelah selesai belanja, Annisa naik taxi menuju rumah orang tuanya.
" Assalamualaikum, Ayah- Ibu." Sapa Annisa sambil mengetuk pintu.
" Waalaikumsalam." Sahut Bu Ratih dari dalam.
" Annisa. Ibu kangen, Nak." Kata Bu Ratih seraya memeluk Annisa.
" Annisa juga kangen."
" Mana suami kamu?" Tanya Bu Ratih sambil matanya mencari- cari Darren.
" Oh, suami Annisa kerja, Bu. Hari ini lembur. Tadi Annisa keluar belanja ini untuk Ibu." Kata Annisa sambil menaruh belanjaannya di meja.
" Kamu nggak usah repot-repot, sayang."
" Nggak kok, Buk. Ayah mana?"
" Ayah ada di belakang. Lagi di kebun."
" Kalau gitu, Annisa kebelakang dulu ya, Bu. Annisa kangen sama Ayah."
__ADS_1
" Iya, sayang."
Annisa segera ke kebun dan menemui Ayahnya.
" Ayah." Panggil Annisa.
" Annisa, Ya Allah anak gadisku." Kata Ayah.
" Ayah, Annisa bukan gadis lagi." Protes Annisa dengan nada manja.
" Oh iya, Ayah lupa. Hehehe." Mereka pun berpelukan.
" Ayo sayang kita ngobrol dulu. Suami kamu mana?"
" Gimana? Udah buatin Ayah dan Ibu cucu belum?" Goda Ayah.
" Hehehe belum, Ayah. Doain aja ya. Lagian Annisa juga belum lulus."
" Iya, sayang. Jangan pernah menundanya ya. Nggak baik."
" Nggak, kok. Sedikasihnya sama Allah saja, Bu. Oh ya anak-anak disini gimana, Bu. Apa mereka masih mengaji?"
__ADS_1
" Alhamdulillah masih kok. Dan sudah ada yang mengajar juga."
" Alhamdulillah kalau gitu, Bu."
Annisa pun melepas rindu pada orang tua karena sudah cukup lama Annisa tidak bertemu orang tuanya. Hari pun semakin gelap dan sudah menunjukkan pukul 7 malam. Annisa segera berpamitan dan segera pulang.
Sesampainya di apartemen, Annisa segera bersih-bersih dan menyiapkan makan malam. Sedangkan Darren masih sibuk di kantornya. Annisa mengirim pesan gambar pada Darren. Annisa sedang berpose dengan menu makan malamnya.
" Cepat pulang suamiku, aku sudah memasak untukmu." Caption pada foto Annisa yang di kirimnya lewat whatsapp. Darren pun tersenyum mendapat pesan dari Annisa. Dan di saat bersamaan ada pesan vidio masuk dari Rachel.
" Darren, sorry. Gue nggak maksud apa-apa, gue cuma ingin lo buka mata lo. Kalau Annisa itu munafik. Sebenarnya gue nggak tega, gue nggak sengaja ketemu mereka di cafe." Isi pesan Rachel pada vidionya itu tentunya ada beberapa bagian ada yang di cut oleh Rachel sehingga kejadian sebenarnya dengan isi vidio itu berbeda. Darren pun memutar vidio itu. Darren menarik nafas panjang dan dada Darren terasa sesak sekali. Mata Darren berkaca-kaca.
" Annisa, apa benar ini semua. Diam-diam kamu masih mencintai Adam. Kamu melakukan semuanya hanya karena kewajiban sebagai seorang istri bukan karena cinta. Apa benar belum ada cinta di hati mu? Apa aku terlalu buruk untuk menjadi suami mu? Apa aku tidak pantas? Apa aku yang bodoh percaya dengan semuanya? Kenapa? Kenapa kamu tega Annisa?" Kata Darren dalam hatinya sambil menitikan air matanya. Hatinya sungguh sakit, sakit sekali.
Di rumah yang sederhana, Adam menatap langit malam sambil duduk di pinggir jendela kamarnya.
" Annisa kenapa sulit melupakan kamu. Ya Allah maafkan aku jika aku masih mencintai Annisa yang kini sudah milik orang lain. Kenapa sesakit ini ketika kita mencintai namun tidak terbalas. Aku sangat ingin menjadi istriku Ya Allah tapu kenapa Kau mentakdirkan dia dengan laki-laki lain. Aku rindu saat-saat bersamanya sebelum dia menikah, aku sudah bermimpi untuk mengajaknya menikah. Ya Allah hapuskan rasa ini di hatiku. Bantulah aku membuka hatiku untuk orang lain. Aku hanyalah manusia biasa Ya Allah, perasaan ini tidak salah tapi keadaan lah yang membuatnya salah." Kata Adam dalam hati.
Di rumah Annisa melihat jam sudah jam 12 malam, namun Darren belum pulang juga. Darren pergi ke club, minum, minum dan terus minum. Darren benar-benar sudah mabuk. Darren merasa terluka dan sangat frustasi. Darren berusaha berubah tapi Annisa malah menyakitinya.
" Pak, maaf club kita mau tutup. Ini sudah jam 3 pagi." Kata pelayan laki-laki di club itu sambil membangunkan Darren yang tertidur di kursi sofa karena benar-benar sudah mabuk berat. Darren menatap tajam pelayan itu lalu memukulnya. Darren menendang meja, kursi dan memecahkan botol serta gelas minuman bekas dia minum. Pelayan itu pun segera memanggil algojo di club itu. Darren membuat keributan dan tangannya berdarah terkena pecahan gelas dan botol kaca. Algojo kemudian datang dan memukuli Darren di wajah dan perut Darren, lalu menyeret Darren keluar dengan kasar sehingga membuat Darren tersungkur. Darren sungguh kacau malam itu, wajahnya lebam, ujung bibirnya berdarah karen pukulan algojo yang cukup keras.
__ADS_1
" Aaaaaaaaaaaaaa." Teriak Darren sekeras mungkin sambil mencoba menahan air matanya namun tetap saja air matanya jatuh. Lelah hati abang. Darren pun mencoba berdiri kemudian segera pulang dan menyetir sendiri mobilnya. Sedangkan Annisa tertidur di ruang makan karena menunggu Darren, hingga adzan subuh membangunkannya. Annisa menoleh ke arah meja namun makanan masih utuh.
" Darren belum pulang. Kemana dia ini sudah pagi." Gumam Annisa dengan panik.