
Sore hari mereka sampai di apartemen. Annisa pun segera mandi&segera melakukan sholat Ashar begitupun dengan Darren, tanpa di perintah oleh Annisa, Darren segera mengikuti apa yang di lakukan oleh Annisa. Tentunya ya secara bergantian lah ya. Melihat sikap Darren yang perlahan mau sholat tanpa dia perintah, Annisa merasa sangat senang. Itu adalah perubahan yang besar bagi Annisa. Annisa pun mulai tergerak untuk membuka hatinya pada Darren.
Darren membongkar belanjaan perhiasan yanh dia letakkan di kamar. Dia memanggil Annisa yang sibuk menyisir rambut panjangnya di depan meja rias. Malam itu, Annisa memakai kimono piyama yang cukup seksi dan itu adalah pembelian mertuanya, lagi2 Annisa lupa membawa baju tidur dia yang biasa, yang saat memakainya dia masih terlihat Abg yang imut namun saat memakai baju itu, dia merasa seperti wanita dewasa yang nakal. Namun dia mencoba untuk bersikap biasa karena yang ada di depannya adalah suaminya sendiri. Sedangkan Darren yang sudah dari awal ingin menerkam istrinya selalu mencoba untuh menahan&bersabar hingga istrinya sudah siap untuk di terkam. Siapa coba yang bisa tahan 😂
" Annisa, ini kamu pakai." Kata Darren sambil menyodorkan cincinnya.
" Ini harus aku pakai ya."
" Iya lah, gitu aja tanya. Kan cincin aja, yang lainnya bisa kamu simpan." Kata Darren.
" Terima kasih ya, pilihan kamu bagus." Kata Annisa sambil memutar-mutar cincin yang ada di jari manisnya.
" Dan ini cincin aku, aku pakai juga." Sahut Darren sambil memamerkan jari manisnya.
" Liontin ini kamu juga pakai." Tambah Darren.
__ADS_1
" Sini aku bantu." Kata Darren. Annisa pun menyibakkan rambutnya ke samping. Sehingga terlihatlah leher mulus Annisa, yang sangat cocok dengan liontin itu. Darren mengalungkan liontin itu dengan posisi Darren berada di depan Annisa. Wajah Darren sangat dekat dengan wajah Annisa apalgi dengan leher Annisa. Darren mencium aroma wangi tubuh Annisa yang khas.
" Ingin sekali aku mencium lehernya, hmmm aku begitu gemas." Batin Darren. Jantung Annisa pun berdetak ketika mendengar nafas Darren yang seolah meniup Annisa di tambah sentuhan tangan Darren yang tidak sengaja menyentuh lehernya.
" Kontrol Darren ... kontrol... Baru sadar kan kamu, jika wanita di depanmu sungguh sempurna. Seperti berlian yang berharga,sehingga tidak sembarang orang bisa menyentuhnya. Sial omongan Rio&Tori memang benar." Batin Darren. Terjadi pergolakan batin di hati Darren. Antara ingin dan menahan. 😂😂
Darren segera kembali ke posisinya dan berdiri sedikit menjauh dari Annisa.
" Hmmm cocok sekali kamu, pakai liontin itu." Puji Darren.
" Yah, ini kan emang style aku. Lagian ini biasa aja, bukan yang dari emas atau berlian. Tapi ya emang bermerk sih asseoris aku meskipun bukan emas, ada yang LV sama Gucci juga. Dan jelas kamu cocok pakai itu, soalnya kan mahal kalungnya ya jadi ketutup lah sama leher kamu yang katrok." Ledek Darren. Sebenarnya Darren hanya mencoba menutupi rasa groginya saat bersama Annisa. Namun jelas Annisa sangat marah dengan kata-kata Darren.
" Kenapa sih kamu hina-hina aku terus. Selalu aja kata-kata kamu membuat aku sakit hati." Kata Annisa dengan ketus.
" Udah ah aku lepas aja semua." Kata Annisa dengan nada marah.
__ADS_1
" Eh jangan... Sorry, aku becanda." Kata Darren. Darren menatap Annisa dari atas kebawah. Membuat naluri laki-lakinya ingin sekali keluar. Apalgi untuk pertama kalinya Annisa memakai baju seksi.
" Mama sungguh pintar memilih baju untuk Annisa" Batin Darren.
" Ngapain kamu lihat-lihat. Awas ya macam-macam." Ancam Annisa. Darren hanya tersenyum manis melihat sikap lucu istrinya. Melihat kaki jenjang Annisa yang putih&mulus karena selalu tertutup oleh baju gamisnya semakin membuat Darren kagum. Karena kimono piyama Annisa panjangnya tidak sampai selutut alias di atas lutut. Darren pun perlahan mendekat. Annis pun perlahan mundur.
" Apa aku salah ya, apa aku dosa ya memandangi istriku sendiri, dan ingin memilikinya seutuhnya. Wahai istri shaliha ku." Kata Darren yang berusaha merayu Annisa. Seketika Annisa pun terngiang2 tausyiah ustadz Alkatiri yang selalu mengingatkannya bahwa seorang istri wajib melayani suami, sungguh Annisa merasa terbebani dengan kata2 itu. Apa yang harus dia lakukan, menurut,menolak atau menunda. Pikirannya berputar-putar. Annisa pun kini sudah bersandar di dinding karena tidak bisa lagi menghindar, Darren pun sudah sangat dekat sehingga tidak mungkin bagi Annisa untuk menolak. Darren menyibakkan rambut Annisa kebelakang, memegang tengkuk lehernya. Mereka berdua saling menatap, tatapan Darren seolah ingin menerkam dan tatapan Annisa seperti mangsa yang sudah siap untuk di terkam.
" Tenang Annisa, dia suami mu, pahala untuku Annisa." Batin Annisa.
Jantungnya berdebar ketika Darren mulai mendekati wajahnya. Sentuhan tangan Darren yang memegang tengkuk leher Annisa, membuat Annisa sesak&sulit untuk bernafas. Pertama kalinya ada dia melakukan adengan seperti ini. Akhirnya kedua tangan Darren memegang tengkuk leher Annisa dan Darren mencium bibir istrinya. Mata Annisa terbelalak saat bibir Darren mencium bibirnya sedangkan Darren menutup matanya. Darren merasakan ciuman pertamanya, ketika bibirnya bertemu dengan bibir Annisa begitu terasa lambut, adrenalinnya memuncak, namun Annisa masih belum merespon ciuman Darren, sehingga membuat tangan Darren yang satunya memegang pinggang Annisa dan mendekatkan pada tubuhnya. Annisa merasakan sentuhan itu dan melihat mata Darren yang terpejam saat menciumnya membuatnya mengerti untuk mencoba dari hal yang kecil seperti yang telah Darren katakan.
Akhirnya kedua tangan Annisa meremas ujung baju Darren dan Annisa pun memejamkan matanya. Merasakan bibir lembut Darren menyentuhkan, Annisa pun perlahan membuka mulutnya dan itu membuat Darren untuk lebih kuat mencium Annisa. Merekapun akhirnya saling berciuman, saling membalas ciuman, yang tadinya Darren sangat lembut kini menjadi cepat, hingga membuat nafas Annisa tidak karuan. Darren pun mengendong Annisa dan menidurkannya di tempat tidur.
" Cukup Darren." Kata Annisa yang membuat Darren langsung menghentikannya. Annisa pun segera bangun dan pergi ke kamar mandi. Entah lah perasaan Annisa campur aduk,antara menikmati, belum siap tapi kewajiban namun takut juga. Darren pun terduduk di tepi ranjang, seolah-olah dia baru sadar dari godaan istrinya itu.
__ADS_1