
Keesokan paginya, Annisa pergi ke butik untuk memulai pembuatan stelan jas serta gamis pesanan Dokter Satriya. Hari ini seperti biasa, Annisa sudah menyiapkan segala keperluan Darren. Kini Annisa lebih memilih fokus mengurus butiknya dan kesehatan buah hatinya yang tengah ia kandung. Meskipun Darren belum mengingatnya, Annisa tidak lupa melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri. Dengan menyiapkan sarapan serta obat untuk Darren.
" Assalamualaikum Annisa." Seru Dela dan Reva sembari memeluk Annisa yang sedang sibuk mengarahkan pegawainya.
" Waalaikumsalam, sahabat-sahabatku." Balas Annisa.
" Annisa, kamu kelihatan kurus, wajah kamu tirus dan nggak fresh. Kamu sehat kan? lalu gimana oppa Darren? Sudah pulih?" tanya Reva. Annisa hanya menggeleng pilu.
" Annisa, kamu harus kuat dan sabar. Aku yakin, oppa akan membaik. Aku khawatir sama kondisi kamu. Aku kangen Annisa yang dulu, yang berani, tegas dan ceria." Imbuh Dela.
" Gimana kalau kita ngemall, terus nongkrong, nonton, nyalon." Ajak Reva seolah tidak sadar jika Annisa sedang mengandung.
" Hei, lihat tuh perut Annisa. Dia lagi hamidun, iya kali kayak dulu." Celetuk Dela.
" Hehehe maaf, lupa."
" Tapi boleh juga, makan siang kita hangout yuk." Ajak Annisa penuh semangat.
" Okey, siap dan semangat." Seru Dela.
******
Saat jam makan siang tiba, Dela, Reva dan Annisa bergegas pergi ke mall. Mereka melakukan aktivitas bak remaja, ya memang mereka masih remaja terkecuali Annisa yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Mereka makan, nonton dan shoping. Sesaat Annisa melupakan semua beban yang sudah menumpuk dalam hati dan pikirannya. Di usianya yang masih muda dan sebagai calon ibu muda, sangat berat melewati perang batin ini. Annisa tertawa, wajahnya sangat gembira, hingga tak terasa senja mulai menyapa. Annisa sudah menenteng beberapa tas berisi bahan untuk butik dan beberapa jilbab untuk dirinya sendiri. Setelah selesai, mereka bertiga kembali ke butik. Annisa terkejut, saat melihat Darren sudah duduk di loby butik sambil menyilangkan kakinya. Tawa itu seketika lenyap dan berubah menjadi kebingungan. Dela dan Reva juga memperlihatkan ekspresi yang sama.
__ADS_1
" Kamu darimana? tanya Darren. Annisa hanya mengangkat kedua tangannya sambil mengangkat tentengan yang dia bawa. Dela dan Reva saling berbisik dan saling sikut melihat Darren seperti dulu, dingin.
" Eh Annisa, udah sore. Kita pamit pulang, ya." Kata Reva.
" Iya, daaaaa." Imbuh Dela. Mereka segera pergi dengan buru-buru.
" Siapa mereka?"
" Dela dan Reva. Sahabat aku. Ada apa kamu kemari?" Tanya Annisa sedikit ketus karena kesal dengan sikap ramah Darren pada Klarissa.
" Aku bosan di rumah jadi kesini."
" Oh begitu." Jawab Annisa singkat sambil berlalu menuju ruangannya. Annisa segera mengeluarkan bahan-bahan untuk pesanan Satriya. Darren menyusul Annisa ke ruangannya. Di lihatnya Annisa sedang sibuk mengeluarkan benang, renda-renda, kancing baju, resleting dan semua kebutuhan desainnya. Annisa bersikap cuek pada Darren. Membiarkan Darren diam mematung di depan pintu sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam sakunya. Annisa keluar masuk ruangannya sambil membawa semua bahan-bahannya untuk di berikan kepada pegawainya tanpa menghiraukan Darren yang masih mematung. Darren pun hanya melihat aktivitas Annisa tanpa banyak bertanya apapun.
" Dokter, tumben sore-sore begini."
" Ah iya. Tadi habis pulang praktek sekalian mampir dan bawain kamu buah." Kata Dokter sambil menenteng satu parcel buah. Darren yang melihat kedatangan Satriya pun ikut mendampingi.
" Sore, Dokter. Ada perlu apa anda kemari?" tanya Darren dengan nada dingin.
" Senang sekali melihat tuan Darren ada disini. Saya memesan satu stel jas dan gamis kepada Annisa. Dan sekalian membawakan buah karena kemarin Annisa sempat pingsan di butik disaat saya kebetulan disini."
" Oh begitu."
__ADS_1
" Bagaimana kabar anda?" tanya Satriya.
" Masih sama." Singkat Darren.
" Oh ya, dokter. Mari duduk dulu, saya buatkan minuman dulu untuk anda."
" Tidak usah Annisa. Ini untuk kamu, jaga diri kamu dan kandungan kamu ya." Kata Satriya sambil menyodorkan parcel berisi buah.
" Terima kasih, Dokter."
" Saya permisi ya, mari tuan Darren." Pamit Satriya yang kemudian pergi.
" Lo akrab banget sama dia. Ada hubungan apa?"
" Oh, dia kan dokter lo." Jawab Annisa sinis. Annisa pun mengikuti gaya bahasa Darren.
" Ayo pulang." Ajak Darren.
" Ngapain? sana sama Klarissa aja." Ketus Annisa.
" Maaf kalau gue belum ingat apa-apa. Tapi saat ini gue pingin di buatin samyang sama lo." Kata Darren. Annisa pen merasa terharu ternyata di bawah alam sadarnya dia masih mengingat hal itu.
" Baiklah." Jawab Annisa singkat. Darren pun tersenyum bahagia, Darren pun bingung dengan dirinya sendiri. Tentang hati dan pikirannya yang tidak sejalan. Rumit.
__ADS_1