
Paginya, Annisa berangkat ke butik dengan supir di rumah. Matanya terlihat sembab dan wajahnya sedikit pucat. Baru saja dia merasakan kebahagaiaan dengan kabar kehamilannya namun sekaligus dia mendapat ujian.
" Mira, gimana penjualan kemarin? Maaf ya saya nggak ngontrol?" Tanya Annisa pada karyawan bagian keuangan
" Iya mbak nggak apa-apa. Mira paham apalagi mbak kan lagi hamil. Senang banget pas dapat kabar Mbak Mira hamil. Mas Darren mana mbak, tumben sendirian." Pertanyaan Mira tiba-tiba membuat Annisa terdiam sejenak sebelum menjawabnya.
" Lagi sibuk, Mira. Ya udah kamu balik kerja. Oh ya jangan lupa hari ini Bu Siska ambil bajunya ya." Kata Annisa mengingatkan. Annisa pun menyibukkan diri dan fokus pada laptopnya, hingga Annisa melihat mobil Darren datang. Annisa segera menutup laptopnya, meraih tasnya lalu berpamitan pergi pada Mira.
" Mira, saya pergi dulu ketemu klien." Pamit Annisa.
" Iya Mbak, hati-hati." Jawab Mira yang sibuk menata beberapa baju.
Saat melihat Annisa keluar, Darren buru-buru menghadang Annisa dan meraih Annisa dalam pelukannya.
" Aku mohon Annisa, mohon jangan pergi lagi. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Maafin aku Annisa, aku kangen banget sama kamu dan juga calon anak kita. Kamu kemana aja semalaman." Kata Darren dengan tangisnya. Annisa pun segera melepaskan pelukannya.
" Maaf, lebih baik kamu selesaikan cerita masa lalu kamu."
" Berapa kali aku bilang, aku dulu dekat dengan Klarissa hanya sebagai teman dan tidak lebih. Aku sama sekali tidak mencintainya. Aku pun tidak tahu jika dia menaruh rasa dengan ku, Annisa. Sayang, aku mohon maafin aku. Ayo kita pulang, kasihan anak kita."
" Aku begitu sakit Darren, ketika melihat suami aku, orang yang aku cintai, di sentuh oleh wanita lain dengan seperti itu. Aku bukan hanya cemburu tapi aku sakit." Ucap Annisa dengan nada marah. Sebenarnya hati kecil Annisa tidak tega ketika melihat suaminya dalam keadaan lusuh dan melihat baju yang sama seperti kemarin di pakai oleh Darren. Darren pun lupa untuk mandi bahkan makan karena di pikirannya hanya ada Annisa dan keadaan calon bayinya.
__ADS_1
" Sayang ayo pulang. Maafkan aku, seandainya waktu bisa di putar, lebih baik saat itu aku tidak ke apartemen. Lihat wajah kamu pucat, mata kamu sembab dan semua pasti karena aku." Kata Darren sambil berlutut di hadapan istrinya sambil mengatupkan kedua tangannya.
" Aku mohon maafkan aku demi calon anak kita." Imbuh Darren. Darren memeluk kaki Annisa namun Annisa segera melepaskannya dengan pelan. Annisa pun beranjak pergi namun tiba-tiba kepalanya terasa sangat berat lalu pingsan. Darren menoleh ke belakang dan mendapati Annisa pingsan.
" Annisa." Teriak Darren dengan emosional. Darren segera membopong Annisa dan membawanya ke rumah sakit. Darren sangat panik dan sangat khawtir. Darren pun ikut masuk ke ruangan sambil melihat keadaan Annisa. Klarissa yang sengaja mengintai Darren dan Annisa di dalam mobil sangat marah karena Darren dan Annisa kembali bersama.
" Sial." Kata Klarissa dengan marah sambil memukulkan tangannya pada stir mobil.
" Dokter bagaimana istri saya?"
" Pak, tolong jaga istri anda ya. Kandungannya lemah apalagi usia kandungannya istri anda masih 4 minggu jadi harus sangat di jaga. Tidak boleh stres dan asupan makanannya harus cukup. Biar saya beri obat penguat kandungan ya." Kata Dokter. Annisa yang sudah mulai sadar mendengarkan semua nasihat dokter. Annisa pun segera bangun sambil memegang kepalanya dan merintih.
" Sayang, kamu sudah sadar."
" Iya, dokter terima kasih." Jawab Annisa. Darren membantu Annisa berdiri dan menggandengnya.
" Dokter kami permisi, terima kasih dokter." Pamit Darren.
" Iya sama."
Sepanjang perjalanan Annisa hanya diam tak bergeming. Pandangan Annisa hanya melihat lurus ke arah jalan tanpa menoleh sedikitpun kearah Darren, sedangkan Darren yang fokus menyetir sesekali menoleh ke arah Annisa sambil mencoba tersenyum dan sesekali mengelus perut Annisa.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Darren segera membawa Annisa ke kamarnya. Membantu Annisa berbaring. Annisa pun memalingkan wajahnya.
" Aku buatin susu ya terus kamu minum vitamin serta obat dari dokter." Kata Darren yang berusaha merubah keadaan kembali seperti sebelumnya. Namun masih sama, Annisa tetap tidak bergeming. Darren pun berusaha memahami perasaan istrinya. Kemudian Darren kebawah membuatkan susu serta menyiapkan obat untuk Annisa. Setelah semuanya siap, Darren kembali ke atas membawakan susu serta obat untuk istrinya.
" Sayang ayo minum." Perintah Darren dengan halus. Annisa pun diam menurut. Setelah itu Annisa segera berbaring dengan posisi membelakangi Darren. Darren masih mencoba memahami perasaan istrinya dan berusaha menahan rasa sakit karena sikap istrinya yang berubah. Darren pun menangis dengan terus memandangi punggung istrinya tanpa melihat wajahnya. Darren pun berusaha mencium kening istrinya namun dengan segera, Annisa menarik selimut dan menutup sekujur tubuhnya dengan selimut hingga tak terlihat. Darren pun semakin kecewa dan semakin marah dengan dirinya sendiri. Darren lalu meraih handuk dan segera mandi. Darren memilih membuang bajunya hari itu ke tong sampah. Setelah selesai mandi dan membuang bajunya itu, Darren kembali ke kamar. Darren masih melihat Annisa meringkuk sambil bersembunyi di balik selimutnya.
" Sampai kapan kamu akan seperti itu Annisa, jangan siksa aku. Ya Allah aku disini cuma korban, korban pemerkosaan. Please Annisa jangan seperti ini " Kata Darren sambil hati. Untuk menenangkan hatinya, kemudian Darren membuka Al Qur'an dan duduk di atas kasur di samping Annisa sambil membaca pelan Al Qur'an itu. Dari balik selimut, Annisa mendengar suara suaminya mengaji dengan lirih. Annisa mendengarkan ayat demi ayat yang di baca oleh Darren, sambil menyembunyikan air matanya di balik selimut. Darren terus membacanya karena dia sudah berjanji untuk khatam Al Qur'an.
" Ya Allah berdosakah aku seperti ini? Apakah salah jika aku marah. Ya Allah aku tau suamiku tidak bersalah tetapi aku tidak bisa melupakan kejadian itu. Bagaimana mungkin ada wanita lain yang mencium bibir suamiku seperti itu meskipun aku tau itu tidak di lakukan karena rasa saling menyukai satu sama lain. Ya Allah tolong sembuh kan luka hatiku jika memang aku harus melupakan kejadian itu dan ikhlas kan hatiku jika itu Kau jadikan sebagai ujian untukku." Gumam Annisa dalam hati. Tok tok tok tok. Suara Bi Inah mengetuk pintu kamar. Darren segera menutup Al Qur'an dan membuka pintu kamarnya.
" Iya, Bi. Ada apa?"
" Itu mas, ada mbak Klarissa di bawah." Kata Bi Inah ragu-ragu.
" Bilang saja saya tidak ada di rumah."
" Tapi Mbak Klarissa sudah tau kalau mas Darren ada di rumah. Tadi bibi yang bilang." Kata Bi Inah sedikit ketakutan.
" Bilang saja kalau saya tidak mau menerima tamu, kalau dia masih ngotot panggil satpam buat usi dia Bi." Kata Darren sambil menutup pintunya dan Bi Inah segera keluar. Darren menghela nafas panjang lalu kembali membuka Al Qur'an dan melanjutkan bacaannya. Annisa pun membuk selimutnya. Melirik ke atas kearah suaminya yang sekarang menjadi lebih rajin beribadah.
" Sebenarnya apa yang kamu perbuat di masa lalu sampai membuat seorang wanita bisa merendahkan dirinya seperti itu." Kata Annisa dengan nada dingin. Darren menghentikan bacaannya.
__ADS_1
Sebelum author lanjutttt, jangan lupa untuk selalu like, vote dan komen yaaaa, terima kasih 🙏🙏😘