
Halo readerrrsssss.... Tetap semangat buat vote, like dan komen ya, supaya author tetap semangat, sayang kalian 😘😘😘
Pagi itu, Annisa, Darren, Kevin beserta Pak Hans dan Bu Marta pergi kerumah sakit untuk mengambil hasil DNA. Mereka segera menemu dokter dan melihat hasil DNA itu dan hasilnya akurat 99,99% Positif. Bu Marta dan Pak Hans pun sangat bahagia begitu juga dengan Kevin. Rasa bersalahnya yang selama ini dia pendam dalam hati kini telah pupus berganti kebahagiaan. Begitu juga dengan Bu Marta dan Pak Hans.
" Pah, papa sekalian terapi ya. Annisa akan temani Papa." Ajak Annisa.
" Iya, Nak. Pasti. Papa kini punya semangat hidup kembali, papa juga ingin menanti cucu dari kalian." Kata Pak Hans sambil melihat ke arah Darren dan Annisa.
" Iya ,Pa. Doain kita ya." Sambung Darren. Pak Hans pun segera menuju ruang fisioterapi dengan hanya di temani Annisa. Pak Hans ingin bersama putrinya itu sedangkan yang lain menunggu di luar dan melihat dari balik kaca ruangan fisioterapi. Bu Marta melihat semangat hidup Pak Hans kembali hingga tak sadar membuat mata Bu Marta menitikan air mata bahagian. Dengan telaten Annisa mendampingi serta membantu Pak Hans. Hingga akhirnya fisioterapi Pak Han selesai.
" Baik Pak Hans. Perkembangan dan sebuah keajaiban anda bisa berjalan kembali. Hanya dengan beberapa kali fisioterapi anda sudah bisa berjalan seperti sedia kala." Kata Dokter.
" Iya, Dokter. Dia adalah keajaiban dalam hidup saya. Anak saya dokter." Kata Pak Hans dengan rasa bangganya.
" Iya, Pak. Anda sangat beruntung sekali memiliki putri yang sangat cantik. Oh ya jangan lupa tetap jaga makanan ya, Pak. Dan untuk sementara Pak Hans menggunakan kursi roda dulu ya hingga semuanya pulih." Pinta dokter.
" Baik, Dok. Kami permisi, Dok. Terima kasih banyak, Dok." Kata Annisa.
__ADS_1
" Sama-sama." Balas dokter dengan senyum ramahnya. Annisa segera membawa Pak Hans keluar dari ruangan.
" Alhamdulillah, Kak, Ma. Papa sudah semakin baik tapi untuk sementara biar papa memakai kursi roda dulu sesuai anjuran dokter sambil dirumah di latih lagi berjalan sekalipun itu sebentar." Ucap Annisa.
" Sayang, tolong kamu temenin Papa ya. Sampai Papa bisa jalan lagi. Dan tolong nginep dulu ya di rumah sampai beberapa hari, sama suami kamu juga." Pinta Pak Hans.
" Iya, Pa. Annisa akan temani Papa kok."
" Sabar ya Darren." Bisik Kevin sambil nyengir. Darren pun hanya tersenyum kecut.
" Oh ya, Pa, Ma. Darren pamit dulu ya. Darren ada kerjaan di kantor." Pamit Darren.
" Bro, nitip istri gue ya." Ucap Darren sambil menepuk bahu Kevin.
" Tenang aja lah. Gue kan Kakaknya jadi pasti aman." Sahut Kevin sambil tersenyum lebar. Darren pun segera berangkat ke kantor. Empat puluh lima menit kemudian Darren sampai di ruangannya dan mendapati seseorang sedang duduk di balik kursinya.
" Siapa ya?" Ucap Darren. Mendengar suara itu, seseorang itu membalikkan kursinya dan menghadap Darren.
__ADS_1
" Klarissa." Ucap Darren kaget.
" Hai, Darren." Balas Klarissa. Klarissa pun segera berdiri mendekati Darren. Klarissa menarik dasi Darren lalu memeluknya namun Darren segera menipisnya dan mendorong pelan Klarissa.
" Tolong jaga sikap kamu. Aku sudah menikah." Kata Dareen dengan tegas.
" Apa? Menikah?" Ucap Klarissa dengan nada sinis.
" Bagaimana mungkin kamu sudah menikah, apa kamu di jodohkan?" Selidik Klarissa.
" Iya awalnya tapi sekarang aku sangat mencintainya." Sambung Darren.
" Heh. Sial ternyata aku kalah cepat dari wanita itu. Lagian papaku sangat mendukung hubungan kita kenapa kamu tidak denganku saja."
" Tapi orang tuaku tidak setuju dengan hubungan kita dan lagi pula aku tidak pernah mencintaimu."
" Cinta? Bukankah cinta bisa datang kapan saja. Sama seperti yang kamu katakan tadi. Kenapa kamu tidak pernah mau belajar mencintai aku Darren. Aku kurang apa." Ucap Klarissa yang kembali mendekat pada Darren dan menempelkan tubuhnya pada Darren.
__ADS_1
" Cukup dan menyingkir, cepat menjauh. Jangan menggoda laki-laki bersuami." Bentak Darren. Klarissa pun segera meraih tas nya dan segera pergi dengan wajah yang penuh amarah. Darren pun membanting tubuhnya di kursi sambil memegangi keningnya.