
Bibir Darren bergerak begitu saja seperti di bawah alam sadarnya untuk membaca ayat Al Qur'an itu. Annisa yang pulang lebih awal karena kesehatannya, segera menuju kamar untuk melihat suaminya itu. Annisa melihat pintu kamar Darren terbuka sedikit, Annisa berjalan pelan lalu mengintip dari balik pintu. Annisa terkejut, melihat suaminya begitu fasih membaca Al Qur'an. Annisa begitu terharu, air matanya mengucur membasahi pipinya. Annisa memberanikan diri untuk masuk dan mendekati suaminya.
" Assalamualaikum, sayang." Sapa Annisa dengan pelan. Mendengar suara Annisa, Darren buru-buru menutup Al Qur'annya dan mengembalikan ke dalam almari.
" Kami sudah ingat sayang." kata Annisa yang langsung masuk ke dalam pelukan suaminya itu. Annisa begitu rindu, rindu dengan pelukan itu. Melihat Darren tak bereaksi, membuat Annisa menjadi meragu lagi.
" Maaf, Annisa. Aku belum mengingat apa-apa." Kata Darren. Annisa begitu bahagia mendengar Darren memanggil namanya setelah sekian lama. Annisa semakin memperkuat pelukannya.
" Nggak apa-apa sayang, aku akan sabar nunggu kamu. Aku akan sabar. Aku mohon bukalah hatimu seperti kamu belajar mencintai aku. Aku tidak ingin anakku tumbuh tanpa kasih sayang Papanya," kata Annisa yang semakin terisak dalam pelukan Darren. Darren melepas pelukan Annisa lalu duduk berlutut dan menempelkan telinganya di perut Annisa sembari memeganginya. Hati Annisa semakin terenyuh, sakitnya dan lelahnya seakan runtuh karena melihat perkembangan kesehatan Darren.
__ADS_1
" Apa benar dia anak aku?"
" Iya sayang, dia anak kamu. Kita melakukannya dengan saling cinta, sekalipun kita di jodohkan tapi hubungan kita berakhir bahagia karena kita bisa saling mencintai." Kata Annisa sambil mengusap-usap kepala Darren.
" Maaf, kalau aku belum bisa menerima ini dan maaf kalau aku belum mengingat semua kenangan tentang kita."
" Kamu tidak perlu minta maaf karena tidak ada yang perlu di maafkan." Imbuh Annisa.
*****
__ADS_1
Malam hari, Annisa dan Darren sudah duduk di meja makan. Bi Inah sangat bahagia melihat Annisa dan Darren kembali bersama. Sekalipun suasan makan malam itu hanya terdapat keheningan dengan suara benturan garpu serta sendok dengan piring. Tiba-tiba Klarissa datang nyelonong masuk begitu saja sambil memeluk Darren dari belakang yang sedang duduk di kursi.
" Halo Darren sayang?" Sapa Annisa dengan genit.
" Eh, Klarissa. Duduk yuk. Ayo kita makan." Ajak Darren dengan ramah. Annisa hanya menunduk dan sesekali melihat ke arah Darren dan Klarissa.
" Wah, makasih ya kamu udah ijinin aku gabung makan satu meja. Tadinya aku mau ngajak kamu dinner romantis di luar."
" Oh lain kali ya, aku lagi capek." Jawab Darren singkat. Annisa seperti orang asing di meja makan itu, padahal dia adalah nyonya di rumah itu tapi kehadiran Klarissa merusak suasana.
__ADS_1
" Darren, aku mau itu." Kata Klarissa dengan manja sambil menunjuk ke arah ayam goreng.
" Itu tolong ambilin sayurnya sekalian ya, nasinya dikit aja. Aku lagi diet." Kata Klarissa sambil melirik tajam ke arah Annisa. Annisa begitu kesal, ingin sekali melempar sendok dan garpu beserta piring itu ke wajah Klarissa yang menyebalkan itu. Annisa mencoba sabar karena Darren masih belum ingat apa yang telah di lakukan Klarissa selama ini. Sedangkan Darren melayani Klarissa seperti sedang melayani istri. Namun begitulah sifat Klarissa dari dulu yang selalu manja padanya padahal Darren sendiri tidak pernah menyimpan rasa lebih untuk Klarissa.