Jihad Cinta

Jihad Cinta
EPISODE 63~Keluarga~


__ADS_3

Keesokan harinya, Rachel datang bersama Kevin ke apartemen Darren. Rachel pun langsung memeluk Annisa dengan penuh penyesalan.


" Maafin aku ya, Annisa. Maafin aku. Kamu boleh hukum aku apa aja asal kamu mau maafin aku." Ucap Rachel sambil memeluk Annisa dengan menangis.


" Aku udah maafin Kakak kok. Tidak ada alasan bagi Annisa untuk menghukum Kakak." Kata Annisa. Lalu Annisa mengajak Rachel duduk. Kemudian Rachel menceritakan masa lalunya yang buruk.


" Jadi, lo nglampiasin kekesalan masa lalu lo sama Annisa. Tega lo, Hel. Annisa seujung kuku pun nggak pernah nyakitin kamu." Kata Darren dengan suara tinggi.


" Maafin gue Darren. Gue salah, silahkan lo hukum gue." Ucap Rachel sambil memohon pada Darren dengan menangis sesenggukan.


" Sayang, Kak Rachel udah minta maaf. Aku udah maafin jadi kamu harus maafin dia." Kata Annisa sambil menggenggam tangan Darren.


" Iya, gue maafin. Awas aja lo kalau lo bikin ulah, gue nggak peduli kalau lo pacarnya Kevin sekalipun." Imbuh Darren.


" Iya, gue janji gue nggak bakal kayak gitu lagi." Kata Rachel.


" Ya udah lah ya. Ayo kita makan aja. Aku udah masak cukup banyak." Ajak Annisa.


" Oke." Sahut Kevin yang sedari tadi diam karena tiba-tiba dia mengingat adiknya. Kevin hanya mengaduk-ngaduk makanan sambil melamun.


" Kevin, kamu kenapa?" Tanya Rachel sambil memegang tangan Kevin.


" Aku beberapa hari ini lagi mikirin Abel. Kenapa ya hati aku yakin kalau Abel itu masih hidup dan kenapa aku ngrasa dia ada di dekat ku ya." Ucap Kevin.


" Udah lah, Vin. Lo nggak usah sedih, kita doain Abel supaya tenang disana." Hibur Darren.


" Sabar ya, Kak Kevin." Imbuh Annisa. Kevin mengeluarkan foto Abel yang ada di dompetnya. Foto berukuran 4x6.


" Hanya foto ini yang gue punya, cuma ini." Kata Kevin sambil berkaca-kaca.

__ADS_1


" Annisa boleh lihat, Kak. Pasti lucu banget." Seru Annisa. Kevin pun memberikan foto itu pada Annisa. Annisa pun terhenyak seketika, dengan mata berkaca-kaca.


" Kak, apa ada tanda lahir di bahu kanan adik Kakak?" Tanya Annisa lirih.


" Iya tanda lahir hitam bulat persis." Jawab Kevin. Air mata Annisa pun menangis dan membuatnya tiba-tiba tersedu-sedu.


" Kamu kenapa sayang?" Tanya Darren dengan heran dan cemas.


" Kamu kenapa Annisa? Kamu nggak apa-apa?" Tanya Kevin yang lebih khawatir. Tangis Annisa pun pecah. Annisa lari ke kamar mengambil foto yang sama di dompetnya. Lalu memberikannya pada Kevin. Kevin memandang Annisa dengan mata berkaca-kaca lalu air matanya pun tak bisa di bendung. Reflek Kevin mendekat lalu menarik Annisa kedalam pelukannya, Kevin memeluknya dengan erat, sangat erat, mereka berdua menangis begitu dramatis membuat Darren dan Rachel semakin bingung.


" Abel. Kamu Abel. Sejak melihat kamu ada rasa yang berbeda. Kamu Abel, Annisa. Aku yakin itu, aku selalu yakin kalau Abel masih hidup." Kata Kevin.


" Abel?" Kata Darren dan Rachel kompak dengan saling berpandangan. Darren pun memisah pelukan Annisa dan Kevin.


" Maksud lo, apa? Peluk-peluk Annisa."


" Dia Abel, Darren. Dia adik gue." Kata Kevin lirih sambil menangis.


" Sekarang ayo kita ke rumah Pak Amir. Kita kesana untuk minta penjelasan." Kata Kevin dengan penuh keyakinan.


" Iya, aku juga ingin tahu ada apa sebenarnya." Kata Annisa.


Mereka semuanya segera bergegas kerumah orang tua Annisa, sesampainya di rumah Annisa, Pak Amir dan Bu Ratih pun bingung dengan kedatangan Annisa.


" Ayah, Ibu. Ini Kak Kevin. Dia sedang mencari adiknya, Abel." Kata Annisa sambil menunjukkan foto Abel yang di miliki oleh Kevin. Bu Ratih pun kemudian menangis.


" Pak Amir, tolong katakan kepada saya. Selama belasan tahun saya hidup merasa bersalah, bersalah karena lalai menjaga adik saya. Papa saya pun sekarang lumpuh, menghabiskan hidupnya bertahun-tahun di kursi roda. Menunggu keajaiban datang." Kata Kevin sambil terus menangis dan berlutut di hadapan Pak Amir juga Bu Ratih. Dengan berat hati Pak Amir terpaksa membongkarnya.


" Annisa, maafkan ayah. Mungkin sudah saatnya kamu tahu kalau kamu bukan anak kandung Ayah dan Ibu." Kata Pak Amir yang sudah tidak bisa membendung air matanya lagi. Mendengar ucapan Pak Amir, semakin membuat Annisa sedih dan menangis semakin keras.

__ADS_1


" Sebenarnya dulu, Ayah melihat kamu di letakkan di bangku taman. Ayah melihat ada orang gila meninggalkan kamu, lalu meletakkan kamu begitu saja di bangku taman dan orang gila itu malah memilih mengambil boneka kamu. Ayah pikir kamu anak orang gila tersebut karena baju kamu lusuh sekali nak saat itu lalu saat ayah berusaha mengembalikan kamu kepada orang gila itu, malah dia lari. Akhirnya kami memutuskan untuk merawat kamu karena di saat yang bersamaan ayah baru saja kehilangan anak kandung ayah yang berusia 5 tahun, anak ayah meninggal karena kanker darah." Mengingat kejadian itu Pak Amir sangat terpukul. Annisa pun memeluk ayahnya.


" Jadi benar, saat orang gila itu tertabrak, dia tidak sedang membawa Annisa dan hanya boneka saja yang di bawa." Ucap Kevin memastikannya.


" Iya, nak Kevin. Tunggu sebentar, nak." Kata Bu Ratih yang pergi ke kamar lalu mengambilkan baju Annisa saat pertama kali di temukan.


" Ini nak baju saat pertama kali Annisa di temukan. Di baju itu ada sulaman tangan inisial huruf A, jadi kami memilih nama Annisa saja. Annisa maafin Ibu ya nak. Sebenarnya ayah dan ibu ingin memberitahu kamu tapi kami takut, kami takut akan kehilangan kamu." Kata Bu Ratih sambil menangis dan memeluk Annisa.


" Annisa apa kamu bisa menunjukkan tanda lahir di bahu kanan kamu." Kata Kevin memastikannya lagi.


" Sayang, boleh ya sebentar. Aku nggak apa-apa kok, lagian aku juga yakin kalau Kevin itu kakak kamu." Ucap Darren sambil menurunkan sedikit baju Annisa di bagian bahu sebelah kanan. Melihat itu Kevin pun semakin menjadi, menangis yang membuatnya tidak bisa berkata-berkata. Kevin segera memeluk Annisa dan mengelus kepalanya.


" Abel, adikku. Maafin Kakak. Kakak waktu itu nggak bisa jagain kamu. Kakak janji akan menjaga kamu. Mama dan papa sangat senang kalau mendengar berita ini." Ucap Kevin.


" Iya, Kak. Annisa ingin melihat dan bertemu orang tua kandung Annisa. Terima kasih Ya Allah, Annisa memiliki keluarga yang sangat luar biasa." Ucap Annisa sang memeluk erat Kakaknya itu. Darren pun terharu, mereka semua terbawa suasana antara sedih dan bahagia termasuk Rachel.


" Ayah, lalu pernikahan Annisa. Apa Annisa zina ayah?"


" Tidak, nak. Saat itu Pak penghulu sudah ayah beritahu tentang kejadian yang sebenarnya, oleh sebab itu Pak penghulu langsung mewakilkan sebagai wali hakim. Maafkan ayah, nak." Ucap Pak Amir dengan perasaan sedihnya.


" Ayah, Ibu. Terima kasih telah menjaga dan merawat Annisa, mendidik Annisa menjadi anak yang sholiha, memberi Annisa hidup, kalian adalah orang tua yang luar biasa. Annisa tidak tahu bagaimana nasib Annisa, jika bukan ayah yang menemukan Annisa. Terima kasih untuk cinta kalian." Annisa pun memeluk kedua orang tuanya dengan kasih sayang yang tulus.


" Nak Darren, sebenarnya Papa kamu pun tau jika Annisa bukan anak kandung kami tapi Papa kamu sudah terlanjur mencintai Annisa untuk di jadikan menantu. Papa kamu berjumpa dengan Annisa, saat Annisa berusia 5 tahun. Maafin ayah ya, nak."


Kata Pak Amir.


" Tidak, ayah. Darren sangat bahagia memiliki Annisa, Darren sangat bersyukur. Terima kasih karena ayah telah menitipkan Annisa kepada saya."


" Darren, jaga Annisa. Jangan sakiti dia seujung kuku pun." Kata Kevin memperingatkan Darren.

__ADS_1


" Pasti." Jawab Darren dengan tegas. Mereka pun larut dalam kebahgiaan, akhirnya semuanya telah terlewati dengan baik sekalipun harus ada tangisan dan harus ada yang tersakiti.


__ADS_2