Jihad Cinta

Jihad Cinta
EPISODE 34 ~ Menyesal ~


__ADS_3

Sesampainya di apartemen Annisa langsung menghamburkan tubuhnya diatas kasur sambil menangis terisak. Annisa merasa menyesal atas apa yang telah terjadi. Lagi-lagi Annisa mengecewakan dan membuat Darren marah. Annisa sangat bingung dengan situasi seperti ini. Tidak mungkin dia harus menceritakan masalah rumah tangganya pada orang tuanya. Annisa merasa berdosa dan gagal karena belum bisa memenuhi janjinya pada mertuanya, pada Darren dan pada dirinya sendiri sebagai seorang istri terutama janjinya kepada Allah. Annisa segera bangkit, mengambil air wudhu untuk sholat dzuhur tak lupa untuk menenangkan hatinya Annisa menyempatkan membaca Al Quran hingga waktu ahsar tiba karena menjelang ashar tinggal 1 jam saja. Setelah melaksanakan sholat ashar, Annisa segera ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Di lain tempat Darren menghabiskan waktunya di rumah Kevin. Mereka berdua bermain play station.


" Tumben lo nggak pulang, biasanya selalu buru2 pulang." Tanya Kevin sambil fokus pada permainannya.


" Lagi nggak ada kerjaan. Gue akhir-akhir ini udah mulai bantu bokap ngontrol perusahaan. Yah tau sendiri lah." Jawab Darren.


" Oh gitu." Jawab Kevin singkat.


" Gimana lo sama Rachel. Katanya lo mau nglamar dia. Tumben dia nggak ngintilin lo."


" Yah dia kan siap2 buat acara party dia nanti. Dia mau ngajak temen2 bule nya lo. Yah lo coba cari2 pacar sekalian lah, masak jomblo mulu." Ledej Kevin.


" Hmmm gue males ah."


" Emangnya lo nyari yang gimana, Dar. Lo itu kaya, ganteng, pingin cewek model kayak apa ninggal nunjuk aja. Heran deh gue sama lo kenapa nggak laku-laku." Ledek Kevin.


" Sialan lo ngatain gue nggak laku-laku." Kata Darren sambil memiting leher Kevin.

__ADS_1


" Eh sial lo, kalah ntar gue." Teriak Kevin.


" Gue mau nyari yang susah buat di taklukin yang beda dari cewek2 lain." Sahut Darren sambil melepaskan pitingannya pada Kevin.


" Tuh si Annisa, coba lo taklukin." Celetuk Kevin. Entah bagaimana tiba-tiba Kevin menyebut nama Annisa dan itu membuatnya salah tingkah tanpa menjawab celetukan Kevin.


" Heh, kok diem lo." Tambah Kevin.


" Yah dia terlalu sulit, sulit untuk di taklukan. Mana mungkin dia mau sama gue, Vin." Keluh Darren. Kevin pun melirik ke arah Darren dan mendapati tangan kiri Darren tepatnya jari manis Darren ada cincin yang melingkar.


" Lo habis tunangan, Dar. Sama siapa? Wah diam2 lo udah nyolong start ya." Mendengar ucapan Kevin, Darren pun bingung bagaimana menjawabnya.


" Udah ah, gue mau mandi dulu. Time to party, gua pinjam baju lo, ya." Kata Darren dengan semangat meskipun hatinya sepertinya sangat kecewa. Melihat sikap Darren, Kevin pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran.


Di appartemen...


Hari semakin gelap tapi Darren belum juga pulang. Annisa begitu gelisah. Sesekali dia membuka handphone nya, melihat foto-fotonya bersama Darren yang baru saja di ambil dengan handphone barunya. Annisa mencoba menelponnya namun selalu tidak ada jawaban. Kemana lagi dia harus mencari keberadaan Darren.


" Ya Allah pernikahan macam apa ini. Di saat seperti ini, siapa coba yang bisa aku hubungi. Susahnya pernikahan sembunyi2 ini. Ya Allah ampuni hamba, dimanapun Darren berada lindungilah dia selalu." Guman Annisa.

__ADS_1


Darren bersama ketiga temannya dan juga Rachel sudah sampai di club. Rachel pun memperkenalkan dua temannya yang bule pada Darren, Kevin, Rio&Tori. Mereka saling bersalaman dan cipika cipiki. Tori dan Rio mengajak teman Rachel untuk turun ke lantai dansa. Rachel pun dengan sangat agresif mengajak Kevin dansa dan tinggalah Darren sendirian. Nasib...Nasib...kasihan amat si Darren, hehehehe.


Darren hanya bisa melihat teman-temannya senang-senanh. Sesekali tampak Kevin dan Rachel berciuman dan itu membuat Darren tersenyum sinis.


" Dasar brengsek." Gumam Darren saat melihat Kevin dan Rachel ciuman. Darren terus saja minum tanpa henti, di dalam hati&pikirannya hanya ada Annisa namun dia juga merasa kecewa pada istrinya itu. Teringat semua kejadian hari ini di benaknya termasuk kejadian sebelumnya tentang kedekatan Annisa dan Adam serta pernikahannya. Darren merasa sangat frustasi. Wajah Darren mulai memerah karena sudah terlalu mabuk. Sedangkan teman2nya masih asyik dengan pasangannya. Darren melihat handphone dan sudah menujukkan jam 3 pagi, dan dia kaget melihat 50 panggilan tak terjawab dari Annisa. Handphone Darren memang dalam keadaan silent dan dia memang sengaja ingin menenangkan dirinya.


" Untuk apa kamu peduli." Batin Darren.


Sedangkan di appartemen Annisa tertidur di meja makan lalu melihat ke arah jam dan ternyata jam 3 pagi. Darren masih belum pulang. Annisa sangat gelisah dan sangat sedih karena Darren belum juga pulang. Annisa segera mengambil air wudhu untuk sholat tahajud sembari menunggu adzan subuh berkumandang.


Di club dengan keadaan mabuk, Darren memutuskan pulang tanpa pamit. Sebenarnya jarak antra apartemen dan club tidak terlalu jauh hanya butuh waktu 25 menit dengan mengendarai mobil. Dareen lah yang sebenarnya memilih tempatnya karena di dalam hati kecilnya dia masih memikirkan Annisa yang sudah pasti sendirian di appartemen. Hingga tiba waktu adzan subuh, Annisa masih belum mendapati Darren pulang. Tiba2 dia teringat kenangannya bersama Darren, sikap Darren yang loyal, memberikan yang terbaik untuknya tanpa melihat berapa uang yang sudah di keluarkan untuk Annisa. Namun tanpa sengaja dan tanpa maksud Annisa sering mengecewakannya. Dia merasa kehilangan, merasa ada yang kurang di hatinya. Tidak melihat Darren sedari tadi membuat hatinya tidak tenang dan gelisah.


Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, terdengar suara pintu di buka. Lagi-lagi Darren pulang dengan keadaan mabuk. Annisa sungguh lega melihat Darren, sekalipun Darren pulang dengan keadaan mabuk. Annisa membantu Darren masuk ke kamar.


" Untuk apa kamu peduli sama aku Annisa. Udahlah biarin aja aku. Ngapain kamu peduli. Pergi sana sama cowok pilihan kamu." Darren terus mengoceh dengan keadaan mabuk. Annisa pun menangis, menangis melihat Darren. Annisa merasa bersalah tapi kenapa Darren selalu melampiaskannya dengan minum-minuman keras.


Teringat semua cerita masa lalu Darren yang di ceritakan oleh mertuanya tentang kesepian Darren selama bertahun-tahun tanpa kasih sayang orang tuanya. Annisa hanya diam mendengat ocehan Darren tentang semua kekecewaanya pada Annisa. Annisa melepas sepatu Darren, melonggarkan bajunya lalu membuatkan susu untuk Darren.


Annisa pun membantu Darren meminum segelas susu itu dan akhirnya Darren muntah. Tanpa rasa jijik Annisa membersihkan muntahan di lantai dan baju Dareen. Annisa pun segera melepas baju Darren dan menggantinya. Annisa terus menahan tangisnya, sungguh hatinya sedih melihat Darren seperti itu. Dan hari ini Annisa memutuskan untuk tidak masuk kuliah dan ingin menemani Darren yang masih dalam keadaan mabuk.

__ADS_1


__ADS_2