
Setelah Kevin, Tori dan Rio pulang, Annisa segera kembali ke kamar Darren. Annisa melihat Darren terduduk di ranjang sambil menekuk kakinya dan memeluknya. Wajahnya murung, hatinya kesal, matanya berkaca-berkaca, Darren sudah mulai lelah.
" Kenapa kamu tidak tidur?" tanya Annisa lirih.
" Sebenarnya aku ini siapa? kenapa aku tidak mengingat semua tentangmu, jika kamu ini istriku?" tanya Darren dengan frustasi.
" Aku tidak memaksamu untuk mengingatku. Aku hanya ingin kamu bersikap baik padaku. Tolong jangan benci aku dan anak ini." Kata Annisa dengan menangis. Annisa mendekat ke arah Darren. Annisa menarik tangan Darren lalu membuat tangan Darren menyentuh perut buncitnya.
" Ini anak kamu. Anak kita yang di buat dengan cinta." Kata Annisa sambil memegangi tangan Darren. Darren diam sesaat menatap wajah Annisa yang terlihat lelah, sayu, kantong mata yang mulai menghitam dan tubuhnya yang terlihat kurus. Tanpa di sadari air mata Darren menetes dari pelupuk matanya begitupun dengan Annisa.
" Aku nggak ingat, kepala aku sakit." Bentak Darren lalu menarik tangannya dari genggaman tangan Annisa. Darren pun berbaring dan membelakangi Annisa. Annisa pun memilih pergi untuk istirahat di kamar sebelah.
Annisa di kamar lebih memilih melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an agar hatinya selalu tenang. Batin Annisa begitu teriris, kehamilannya di selimuti dengan luka. Tiba-tiba Annisa mendengar suara mobil yang keluar dari garasi. Annisa menutup Al Qur'annya lalu berjalan ke kamar Darren. Dan benar saja Darren sudah pergi. Darren pergi ke klub bersama Klarissa. Mereka janjian bertemu disana. Disana Klarissa sudah menunggu dan Darren segera menghampiri Klarissa.
" Hai, Klar. Udah dari tadi?"
__ADS_1
" Barusan kok. Suntuk amat sih. Kenapa?"
" Biasalah, itu si Annisa."
" Lagian kenapa nggak lo tinggalin aja sih. Lo kan nggak cinta sama dia jadi buat apa maksa."
".Ya dia kan lagi hamil."
" Emang lo yakin kalau dia hamil anak lo."
" Maksud lo?" tanya Keenan penasaran.
" Ya, siapa tau Annisa bukan hamil sama lo. Siapa tahu pas nikah, Annisa udah hamil dan lo di manfaatin karena lo kan emang kaya, Dar." Kata Klarissa yang mulai mencuci otak Darren. Mendengar ucapan Klarissa membuat Darren hanya diam tanpa bereaksi dan melanjutkan minum-minuman yang memabukkan itu.
" Kalau lo nggak cinta, sebaiknya lo ceraiin aja, ngapain juga lo bertahan."
__ADS_1
" Tapi ini semua papa yang ngatur, mana bisa gue bantah. Ya setidaknya gue pingin milih cewek yang gue cinta. Tapi sepertinya sebelum hilang ingatan, gue cinta banget deh sama Annisa. Dia kan hamil."
" Ya seperti kayak omongan gue, dia pasti mau ngrebut apa yang lo punya dengan hamil."
" Dia kan adiknya Kevin, nggak mungkin lah. Kevin kan juga orang kaya, jadi nggak mungkin seperti itu."
" Apa ? Annisa adiknya Kevin." Kata Klarissa dengan kaget.
" Iya. Dia Abel yang dulu sempat hilang dan di anggap meninggal ternyata masih hidup."
" Sial, sekalipun Darren hilang ingatan. Susah banget buat nyuci otaknya." Gerutu Klarissa dalam hati.
Annisa kini tengah duduk di ruang tamu, mondar-mandir sambil sesekali meremas tangannya dan menengok ke arah jendela. Hati dan pikirannya sangat tidak tenang. Bi Inah yang melihat Annisa sedang cemas, lalu menghampirinya.
" Non Annisa lebih baik istirahat saja. Nggak usah nunggu mas Darren."
__ADS_1
" Nggak apa-apa kok, Bi." Jawab Annisa singkat sambil memijat keningnya yang sedikit pusing karena ngantuk.